Ijazah Wisudawati Untuk Jenazah Ibu
Rektor UNG Menangis, Wisuda Kurnia Haremba Didahulukan untuk Antar Ijazah dan Jenazah Ibu ke Papua
Seremoni pengukuhan gelar sarjana untuk mahasiswa Fakultas Olahraga dan Kesmas UNG untuk Kurnia Haremba, sengaja dipercepat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/28092022_kurnia_haremba_rektor_UNG_Eduart.jpg)
GORONTALO, TRIBUN-GORONTALO - Mata Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Dr Ir Eduart Wolok, ST MT (46 tahun) berair, saat memindahkan kuncir toga wisudawati Kurnia Rahma Sari Imo Heremba SKM (23), di Auditorium UNG, Jl HB Jassin, Kota Tengah, Kota Gorontalo, Rabu (28/9/2022) pagi tadi.
SKM adalah gelar sarjana kesehatan masyarakat dari Rektorat UNG.
Air mata dan emosi rektor tak terbendung, dalam sidang pengukuhan dan penyumpahan gelar akademik doktor, magister, profesi, sarjana dan diploma bagi 1.398 wisudawan UNG periode September 2022.
Suasana haru begitu terasa menyelimuti momen pemindahan kuncir toga Kurnia Haremba.
Seremoni pengukuhan gelar sarjana untuk mahasiswa Fakultas Olahraga dan Kesmas UNG untuk Kurnia Haremba, sengaja dipercepat.
Oleh pihak rektorat, wanita berkamata kelahiran Fak-Fak, Papua Barat, didahulukan dibanding 1.397 wisudawan-wisudawati UNG lainnya.
Sejatinnya, Kurnia Haremba ikut proses normal.
Baca juga: Rektor UNG: Kurnia Haremba Tetap Tegar Bawa Ijazah Sarjana di Hadapan Jenazah Ibunya
Namun, karena rektor tahu, ibu Kurnia, Rahma, meninggal saat persiapan mengikuti seremoni wisuda sarjana putrinya, dia mengambil kebijaksanaan.
“Ini kebahagian yang kita percepat karena kedukaan,” ujarnya.
Kisah tragis menimpa Kurnia Haremba, satu dari 1.398 wisudawan UNG, Rabu pagi tadi.
Ibu kandungnya, Rahmah meninggal dunia, 8 jam sebelum proses wisuda di auditorium Kampus UNG di Kota Gorontalo.
Sang ibu khusus terbang dari Fakfak, Sorong, Makassar dan ke Gorontalo, pekan lalu.
Niatnya menghadiri seremoni wisuda putri bungsunya, Kurnia.\
Namun ibunya sakit saat baru beberapa menginp di kost anaknya di Jl Kenangan, Kelurahan Wumialo, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo.
Dibantu rekan satu kost, Kurnia membawa ibunya ke RS Bunda, Gorontalo, sekitar 500 meter dari kostnya di Wumialo.
Di ruang UGD sang ibu meninggal dunia.
Jelang azan subuh, jenazah lalu dibawah ke kost untuk disemayamkan.
Dengan hati gundah, persaaan sedih, dan mata sembab, pun, Kurnia Haremba tetap hadir proses graduating, pagi harinya.
Saar balik ke kost, dengan seragam kebesaran wisudawan, Kurnia membawa selembar ijazah.
Dia bersimpuh di depan jenazah sang ibu, yang disemayamkan di ruang tengah rumah kost.
Kurnia adalah wisudwati pertama jurusan Kesehatan Masyarakat di Fakultas Olahraga dan Kesehatan, UNG di Gorontalo.
Dia angkatan 2019, termasuk mahasiswi berprestasi dan menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Secara khusus, rektor menyampaikan duka cita mendalam kepada Kurnia dan keluarga yang tengah dirundung duka.
Gelar sarjana adalah kebangaan khusus orangtua dan bukti pencapaian tertinggi upaya orangtua mendidik anak secara formil.
Menurutnya hadir dalam prosesi wisuda dalam keadaan duka tentunya sangat berat untuk dilalui.
Terlebih, kata dia, duka tersebut dari orangtua yang merupakan support utama wisudawan dalam menempuh pendidikan di Kampus.
“Insya Allah Ibunda akan memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT. Tetap kuat dan sabat untuk Kurnia semoga kesuksean akan selalu menyertaimu," ucap Rektor yang turut diamini seluruh orang yang hadir pada kegiatan wisuda.
Di akun media sosialnnya, Eduart menyebut, sebagai 1 dari 9555 mahasiswanya, Kurnia amat tegar.
“Insyaa Allah Ibunda beroleh Husnul Khotimah dan Kurnia tetap tegar untuk mencapai cita-cita dan membanggakan kedua orang tua tercinta…Aamiin YRA..”
Informasi terakhir yang berhasil dihimpun, Kurnia Haremba bersama jenazah ibunya akan kembali ke kampung halaman di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat siang tadi. (*)