OPINI

OPINI: Memberi Kelonggaran Terhadap Siswi Hamil, Solusikah?

Adalah tulisan Opini. Penulis merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo).

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
Eka Sandri Yusuf , jurusan Sastra Arab Universitas Muhammadiyah Gorontalo (Umgo) keluar sebagai juara 3. 

Penulis: Eka Sandri Yusuf, Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Gorontalo (Umgo)

MENGHADAPI pelaksanaan Ujian Nasional (UN), baru-baru ini Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan pemerintah untuk dapat memfasilitasi seluruh siswa yang  berhadapan dengan hukum dapat mengikuti Ujian Nasional (UN). “Hal yang perlu dipastikan di antaranya distribusi soal, kualitas cetakan soal, proses pelaksanaan UN harus jujur, anak yang sedang mengalami proses hukum harus dipastikan tetap mendapatkan hak untuk ikut UN,” ujar Komisioner KPAI Susanto, Jumat 20 Maret 2015 malam.

Beliau juga menyampaikan bahwa siswi yang hamilpun tetap dapat mengikuti UN. Hal itu berlaku di setiap daerah yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan. “Anak yang hamil atau menikah tetap bisa UN atau anak yang sedang mengalami kendala lain sepanjang memenuhi prasyarat akademik harus dipastikan tetap bisa mengikuti UN,” katanya. Pihaknya juga membuka posko pengaduan selama pelaksanaan UN. Apalagi jika ditemukan unsur pelanggaran hak anak dalam persiapan dan pelaksanaan UN.

 Tidak hanya itu, kebolehan mengikutkan siswi hamil dalam pelaksanaan UN ini pun mendapatkan keprihatinan dari Psikolog Anak dan Pendidikan Karina Adistiana. Wanita yang akrab disapa Anyi itu mengungkap, setiap sekolah hendaknya melihat kembali pasal 32 UUD 45 saat akan menjatuhkan sanksi kepada siswi hamil. "Sebetulnya kembali ke pendidikan sebagai hak semua orang, termasuk siswi hamil. Jadi hak mereka untuk ikut ujian, baik lulus atau tidak," kata Anyi, ketika berbincang dengan Okezone, Jumat (5/4/2013). 

Pelonggaran Aturan Siswa Hamil Di Tengah Budaya Pergaulan Bebas Bukan Solusi

         Maraknya kriminalitas di kalangan pelajar tentu menjadi hal yang sangat memprihatinkan. Dimana pemberitaan pada kalangan remaja tersebut mendorong kita bertanya apa penyebab terjadinya tindakan tersebut? Mengapa para remaja menjelma menjadi pelaku begal, pencurian, perundungan, pembunuhan, hingga melakukan seks diluar nikah? Bagaimana nasib masa depan bangsa ini jika generasi muda kita berkubang dalam berbagai tindak yang tidak pantas?

Terdapat banyak faktor yang membuat remaja menjadi pelaku tindak kejahatan. Pertama, keluarga. Kebanyakan anak yang tersangkut kasus kriminal biasanya dilatarbelakangi keluarga broken home. Kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, serta perselisihan dengan anggota keluarga lain juga bisa memicu perilaku negatif pada anak. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Jika anak mendapat pola asuh dan pendidikan yang salah, tentu berpengaruh pada kepribadian mereka, yakni pola pikir dan sikap yang salah pula.

Kedua, krisis identitas. Masa remaja adalah masa pencarian identitas dan eksistensi diri. Remaja yang hanya tahu tujuan hidup untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan materi akan terbentuk menjadi generasi hedonis dan permisif.

Ketiga, kontrol diri yang lemah. Emosi labil adalah salah satu faktor mengapa banyak remaja terjebak dalam tindak kriminal. Ibarat “senggol bacok”, mereka cenderung sulit mengontrol emosi dan amarah jika sudah tersinggung atau terbawa perasaan. Pada akhirnya, emosi tidak terkontrol itu mewujud dalam kenakalan dan kekerasan.

Keempat, media dan tayangan kurang mendidik. Sudah jamak kita ketahui, generasi muda cenderung meniru dan melakoni setiap hal yang mereka tonton. Segala yang mereka dengar dan lihat akan menjadi tuntunan mereka bersikap.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved