Gempa Gorontalo
Gempa Bumi M3.2 dan M2.8 Teluk Tomini Gorontalo, Selasa 23 Agustus 2022
Gempa bumi M3.2 skala richter (SR) arah 13 kilometer barat daya Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo pada Selasa 23 Agustus 2022 pukul 07.39 Wita.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Gempa bumi M3.2 skala richter (SR) arah 13 kilometer barat daya Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo pada Selasa 23 Agustus 2022 pukul 07.39 Wita.
Satu jam sebelumnya gempa bumi berkekuatan M2.8 SR arah 48 Km barat daya Bone Pantai, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Belum ada informasi dampak dari dua gempa bumi di Teluk Tomini dekat Boalemo dan Bone Bolango, Gorontalo tersebut.
Berikut informasi dua gempa bumi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Selasa hari ini.
Baca juga: Gempa Bumi M3.6 SR di Teluk Tomini, Gorontalo-Sulteng Sabtu 20 Agustus 2022
Selasa 23 Agustus 2022
Pukul 06:34:50 Wita
Mag: 2.8 SR
Lokasi: 0.0552 LS, 123.1464 BT (48 Km Barat Daya Bone Pantao, Gorontalo)
Kedalaman: 125 Km
Pukul 07:39:36
Mag:3.2 SR
Lokasi: 0.45 LU,122.25 BT (13 Km Barat Daya Boalemo, Gorontalo)
Kedalaman: 148 Km
Baca juga: Gempa Bumi M5.7 Teluk Tomini Terasa di Gorontalo-Sulut-Sulteng
Gempa M5.8 Bali Terasa hingga NTB
Gempa berkekuatan magnitudo 5.8 SR yang mengguncang Bali cukup mengagetkan dan membuat panik sejumlah warga.
Meski BMKG menyebut gempa tidak berpotensi tsunami, namun getarannya tidak hanya dirasakan oleh warga Bali tetapi juga peserta G20, warga Lombok hingga Banyuwangi, Jawa Timur.
Diketahui gempa berpusat di 74 kilometer arah tenggara Kuta Selatan, Kabupaten Badung pada Senin (22/8/2022) pukul 16.36 Wita atau pukul 15.36 WIB.
Warga kaget dan panik Warga Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, Yoga Sariada mengaku kaget saat terjadi gempa.
"Kaget, saya sedang duduk tiba-tiba terasa bergoyang-goyang,” kata dia dikutip dari Kompas.com, Senin (22/8/2022).
Warga lain di Kelurahan Kaliuntu, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Agung Kurnia, mengaku sempat panik saat terjadi guncangan.
Menurutnya, getaran gempa cukup terasa sehingga dia pun langsung keluar dari kamar kosnya di lantai dua turun ke halaman bawah.
"Getarannya terasa dua kali. Yang pertama agak kecil, yang kedua cukup kencang getarannya. Saya lihat jendela dan pintu goyang-goyang. Panik langsung keluar turun," katanya.
Dia sempat melihat sejumlah tetangganya berhamburan keluar rumah. "Saya lihat tetangga sekitar juga berhamburan keluar, tapi tidak sampai teriak," ujar dia.
Peserta G20 berhamburan keluar Selain itu, gempa juga dirasakan sejumlah peserta acara Health Working Group (HWG) G20 ketiga dan The 21st Meeting North Indian Hydrographic Commission (NIOHC), yang merupakan side event G20 di Hotel Hilton, Nusa Dua, Badung, Bali.
Saat terjadi gempa, peserta panik lalu berhamburan keluar ruangan. Perwakilan dari Civil 20 (C20) di HWG ke-3, Aqila mengaku sempat panik karena guncangan gempa terasa sekian detik.
"Awalnya tidak terasa, tapi begitu guncangannya kuat baru kita semua lari keluar. Beruntung, acaranya sudah selesai, jadi langsung keluar aja," katanya.
Hal senada juga dirasakan salah satu staf Humas Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Pushidrosal), Letkol Hari.
Dia mengatakan, acara sudah berakhir saat terjadi guncangan. Namun, para peserta tetap berlari panik keluar ruangan.
"Panik semua keluar. Bagaimana juga orang takut kerobohan gedung. Enggak ada yang enggak takut," katanya.
Gempa terasa sampai Lombok Warga di Kota Mataram, NTB pun juga turut merasakan getaran akibat gempa di Bali.
Salah satu warga di Lingkungan Irigasi Mataram Nila Yuliani (37), saat itu sedang menggendong bayinya yang baru berusia lima bulan. Dia mengaku kaget merasakan getaran tersebut sehingga langsung berlari keluar rumah.
"Kaget saya, gempanya membuat atap rumah jadi bergetar, lagi punya bayi jadi langsung lari keluar, khawatir," kata dia. Dia beserta warga lainnya memastikan tak ada gempa susulan, lalu kembali ke dalam rumah.
"Ini jadi ingat kejadian empat tahun lalu, waktu itu gempa sangat keras dan saya sampai pusing, waktu itu hamil anak kedua saya," ungkap dia.
Seorang guru mengaji, Azwar mengaku khawatir jika terjadi gempa susulan.
Dia pun meminta murid-muridnya yang sedang mengaji di masjid untuk pulang ke rumah. "Saya liburkan dulu pelajaran mengaji adik adik ini, semoga tidak ada gempa lagi," kata Azwar.
Belum ada laporan dampak kerusakan Kepala Seksi Pencegahan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Yusuf Arif mengatakan, getaran gempa dirasakan di hampir seluruh wilayah Banyuwangi.
"Ya, betul. Gempa dirasakan di Banyuwangi," kata Yusuf kepada Kompas.com, Senin. Hingga kini, BPBD Banyuwangi belum menerima laporan dampak kerusakan akibat gempa bumi tersebut. "Belum ada laporan dampak gempa. Kita berharap semoga semuanya baik-baik saja," tutup Yusuf.
Gempa tak berpotensi tsunami Berdasarkan data BMKG, gempa yang terjadi pada pukul 16.36 Wita atau pukul 15.36 WIB pada Senin (22/8/2022) tidak berpotensi tsunami.
Gempa tersebut berkekuatan magnitudo 5,8 dengan kedalaman 124 kilometer. Lokasi gempa berada di Bali selatan pada lintang 9,36 LS dan bujur timur 115,59.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/230822-info-gempa-2.jpg)