Real Madrid Tanpa Casemiro, Carlo Ancelotti Bisa Andalkan Trio MCK Baru
Real Madrid harus kehilangan satu pemain bintang, setelah Casemiro setuju pindah ke Manchester United musim panas ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ancelotti-dan-Casemiro.jpg)
Ancelotti bisa memanfaatkan kemampuan Tchouameni untuk mematahkan garis pertahanan tinggi.
Ia senang memegang bola di lini tengah untuk menarik lawan ke arahnya dan menciptakan ruang kepada rekan setimnya di ruang antar lini.
Taktik Ancelotti kerap membuat block press di satu sisi. Kemudian, ketika pemain lawan lengah, Los Blancos akan switch play guna mengeliminasi sisi pertahanan yang lemah.
Kemampuan intersepsi Tchouameni berguna mematahkan umpan-umpan pendek lawan. Ia hanya perlu menit bermain banyak demi menyatu dengan pemain lain.
New Trio MCK
Formasi 4-3-3 telah menjadi pakem Real Madrid, dan juga digunakan Carlo Ancelotti sejak 2013/14.
Pemain yang pernah bermain sebagai poros di bawah asuhan Carlo Ancelotti adalah Xabi Alonso dan Casemiro.
Gaya kedua pemain itu sedikit berbeda. Xabi Alonso mengontrol alur permainan dan mendistribusikan bola dari dalam, sedangkan Casemiro lebih condong gelandang bertahan, mengandalkan umpan panjang. Tapi, Ia tidak terlibat dalam distribusi bola. Peran itu diserahkan kepada dua rekannya, Kroos dan Modric.
Setelah Casemiro keluar dari grup MCK. Ancelotti bisa membangun trio MCK baru. Kroos bisa mengambil peran Casemiro.
Sementara kombinasi Camavinga dan Modric di lini tengah akan memudahkan aliran bola. Baik Modric maupun Camavinga bisa memainkan umpan-umpan pendek dan mengatur sirkulasi.
Kekurangan Camavinga ketika dipasang sebagai gelandang bertahan, Ia masih minim teknik tackling. Dalam beberapa kesempatan, mantan pemain Rennes itu diganjar kartu kuning.
Mungkin ini alasan Ancelotti menjadikan Camavinga starter atau memasukkannya di sepertiga akhir pertandingan, untuk meminimalisir 10 pemain di atas lapangan.
Kepergian Casemiro diharapkan dapat terus mengasah kemampuan Camavinga maupun Tchouameni. Sebab, gelandang bertahan adalah pemain pertama membaca alur transisi lawan. Pemosisian tidak tepat bisa beresiko membunuh barisan pertahanan sendiri.
Camavinga memang banyak membantu tim dalam menyerang, tetapi terkadang posisinya membuat Los Blancos rentan serangan balik.
Camavinga lebih cocok memerankan nomor 8 daripada nomor 6. Kehadiran Luka Modric dan Toni Kroos dibutuhkan memantapkan kualitas pemain Prancis tersebut. (*)