Orang Gorontalo

Siapa Rusdin Palada? Pencipta Lagu Binthe Biluhuta Ternyata Ahli Peluru dan Pembuat Senjata Api

Tahun lalu, Rusdin Palado dinobatkan sebagai penerima Rise Award 2021 dari musisi  seniman asal Gorontalo, pada Sabtu 18 Desember 2021 lalu.

Editor: Thamzil Thahir
dok_facebook_Rusdin_palado
RUSDIN PALADO - Foto dokumen penampilan Rusdin Palado, pencipta lagu Binthe Biluhuta tahun 1980-an. Rusdin Palado (1947-2011) sebagai penerima Rise Award 2021 dari musisi dan seniman asal Gorontalo, pada Desember 2021 lalu. Fredy Palado, putra Rusdin menerima penghargaan ini mewakili keluarga di sebuah resto di Telaga Biru, Kota Limboto, Gorontalo. 

GORONTALO, TRIBUN-GORONTALO.COM - Siapa pencipta lagu daerah asal Gorontalo, Binthe Biluhuta kerap dieja Binde Biluhuta yang viral setelah dilantunkan 130 anak Nusantara pada Peringatan HUT 77 Republik Indonesia, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/8/2022) siang.

Lagu ini diciptakan dan di-arrangement, mendiang seniman sejati kelahiran Gorontalo, Rusdin "Rusu" Palada (1947-2011).

Rusu meninggal dunia dan disemayamkan di rumahnya di kawasan Cilandak, Jakarta, tahun 2011 lalu.

Tahun lalu, Rusdin Palada dinobatkan sebagai penerima Rise Award 2021 dari musisi  seniman asal Gorontalo, pada Sabtu 18 Desember 2021 lalu.

Fredy Palada, putra Rusdin menerima penghargaan ini mewakili keluarga di Pentadio, Telaga Biru, Kota Limboto, Gorontalo.

Rombongan seniman dan musisi Gorontalo ini, tengah menggalang aspirasi untuk mengabadikan

Meski berkarier di Jakarta, Rusu, sapaan akrab Rusdin, menciptakan, dan hampir empat dekade mempopulerkan sekitar 30-an lagu khas Gorontalo.

Rusdin Palada berasal Suwawa, Bone Bolango, sekitar 15 km timur Kota Gorontalo.

Dia lahir Rabu, 8 Juni 1947. Ayahnya Idrus Palada dan ibunya, Nuha Kamali.

Lahir dua tahun usai kemerdekaan, dia memulai sekolah di Sekolah Rakyat Negeri di usia 7 tahun.

anak ke 3 hasil dari pernikahan Idrus Palada dengan Nuha kamali, Rusu adalah panggilan kecil Rusdin Palada di Sawawa,

 Rusu kecil hidup sederhana di daerah Suwawa. Ayahnya pedagang, ibunya urus rumah tangga.

Sang ayah hanya bermodal sepeda ke pasar.

Di laman Facebooknya, diceritakan seperti anak-anak lainnya Rusu  menghabiskan masa kecilnya dengan bermain. Dia juga tergolong nakal hingga orangtua biasa memarahinya.

Di usia SD, ia berbuat suatu kesalahan yang membuat orangtuanya kesal. Rusu ditempeleng sampai terjatuh dari tangga rumah panggung.

Tahun 1960 Rusu masuk SMPN Suwawa, kini masuk Bone Bolango. Disini ia tercatat sebagai Bintang Pelajar se-Gorontalo.

Di sekolah Rusu kecil selalu menjadi yang terbaik diantara teman-temannya.

Bakat seni Rusu sudah terlihat karena suka bernyanyi dan pandai memainkan alat musik gitar dan seruling.

Lalu bersama ayah angkatnya dan Jogya, tahun 1967  dia diterima kuliah di Akademi Tehnik Indonesia yang bernaung dibawa naungan Dinas  Penerbangan Indonesia (AURI) Jakarta.

Sayang dia hanya kuliah hingga tingkat II atau semester IV.

Di masa itu, tahun 1968, Polri membuka sekolah kedinasan Pendidikan Ilmu   Forensik   di  Laboratorium  Kriminal Mabes Polri.

Ijazah dari sekolah kedinasan inilah jadi bekalnya diterima jadi PNS di laboraturium forensik Polri, hingga dia pensiun 2003.

Rusu melalui anaknya, Fredy Palada, sendiri oleh kelompok musisi Gorontalo, pada Desember 2021, di Telaga Biru, diberi penghargaan oleh Rise sebagai musisi dan seniman legendaris Gorontalo.

Surat udangan penetapan seniman asal Gorontalo Rusdin Palada (1947-2011) sebagai penerima Rise Award 2021 dari musisi dan seniman asal Gorontalo, pada Desember 2021 lalu. Fredy Palada, putra Rusdin menerima penghargaan ini mewakili keluarga di sebuah resto di Telaga Biru, Kota Limboto, Gorontalo.

Lagu ini diciptakan dan di-arrangement oleh Rusu, di ibukota negara, DKI Jakarta tahun 1975.

Rusu adalah ahli balistik dan bekerja hingga pensiun di Puslabfor Mabes Polri.

Kala itu, Republik Indonesia baru berusia 30 tahun.

Adalah penyanyi asal Batak, Pematang Siantar, Sumatera Utara, Eddy Silitonga (1949-2016) yang kemudian mempopulerkannya, tahun 1986,

Ini setelah lagu Binte Biluhuta ini masuk dalam buku resmi panduan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dari BP7 Pusat di Jakarta.

Bahkan Eddy yang lahir pada 17 Januari 1949 sampai dua kali melantunkan kalimat "timi idu bele dila tamotolawa" ( ‘tidak ada yang mau ketinggalan’.)

Penyanyi asal Pematang Siantar, Sumatra Utara, berciri khas suara tinggi melengking, terdengar begitu pas melantunkan lagu dengan panjang 32 birama pada tempo 4/4 ini.

Tahun 1990, lagu karya anak Suwawa ini pun akhirnya ditetapkan dan disahkan sebagai lagu nasional oleh P & K (kementerian pendidikan dan kebudayaan) serta badan pembinaan pendidikan pelaksanaan pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila (BP7).

Dari dokumen yang ada ternyata Rusu saat balajar di Yogyakarta sudah mulai membuat lagu yang disertai dengan not-notnya karena di halaman belakang buku tulisnya.

Rusu remaja diangkat anak oleh salah satu pejabat daerah di Yogyakarta, lalu masa tugas orangtua angkatnya itu di Yogyakarta lalu pindah ke DKI Jakarta.

Di Jakartalah, menjadi momen penting dalam perjalanan hidup.

Di Jakarta,  tahun 1967 Rusu bekerja di LABKRIM MABES POLRI yang sekarang bernama PUSLABFOR MABES POLRI.

Dia jadi pegawai negri sipil bagian balistik metalurgi (berhubungan dengan senjata dan peluru).

Di tengah kesibukannya bekerja sebagai PNS ia aktif berkesenian.

Di Jakarta, Rusu membuat grup teater bersama teman-teman dan sempat tampil di acara TVRI.

Sutradara Putu Wijaya,  Eddy Silitonga, Mieke Wijaya, A Ariyanto adalah beberapa nama teman gaulnya.

Di Jakarta pula, ia menikahi gadis pujaannya, Juinah. anak dari pemilik warung makan di Cilandak.

Rusu menikahi Juinah dan di karuniai enam anak; Rita Palada, Evie Palada, Selly Triana Palada, Fando Ruzano Palada, Lolyta Palada dan si bungsu Fredy Palada.

Dia sempat jadi ‘bartender’ tiga tahun di salah satu hotel di bilangan Monas. Itu sepulang dari bekerja di PUSLABFOR.

Kecintaan Rusu akan daerah Gorontalo amatlah sangat besar melebihi apapun, ini di buktikan dari karya-karyanya yang sangat banyak, salah satunya yang menjadi kebanggaan masyarakat Gorontalo Rusu menciptakan lagu ‘Bindhe Biluhuta’.

Tahun 1990 ditetapkan DepDikBud sebagai lagu daerah resmi dari Provinsi Sulawesi Utara, yang waktu itu mencakup Gorontalo.

Rusu juga membuat alat musik Gorontalo yaitu ‘Polopalo’. Ini alat musik yang bernada jadi bisa dipakai sebagai pengiring untuk mengiringi sebuah lagu, dan sudah dibukukan dan juga sudah mendapatkan pengakuan dari DepDikBud. 

Di Sanggar Polopalo, asuhannya di Jakarta, dia rekaman lagu-lagu daerah Gorontalo yang hampir semuanya diciptakan oleh Rusu sendiri yang semuanya itu bisa pembaca dengarkan di www.polopalo.co.id.

Kecintaannya ke Gorontalo dituangkan dalam 3 paragraf curahan hatinya;

’Aku termenung kupandangi semua yang ada, namun bisu dan hening tak bersenandung, kuteringat masa lalu kala masih di desa, hujan rintik-rintik sepulang ku sekolah, dengan daun pisang naungi diri demi masa depan kulakukan semua, kini ku berada di Jakarta. Kuingat selalu masa kecil di desa. Tunggulah desaku, aku akan pulang kembali nanti’. (*)

Halaman
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved