Cawapres 2014
Relawan Rekomendasikan Yenny Wahid Dampingi Ganjar Pranowo, Berebut Massa Nahdliyin?
Membidik massa Nadliyin (Nadliyyin)?, Yenny Wahid, putri Presiden ke-4 Abdurahman Wahid, direkomendasikan mendampingi Ganjar Pranowo maju Pilpres 2024
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/280722-Ganjar-Yenny.jpg)
Profile Yenny Wahid
Zannuba Ariffah Chafsoh (lahir 29 Oktober 1974) atau Yenny Wahid adalah seorang politikus Indonesia dan aktivis Nahdlatul Ulama.
Ia merupakan pendiri Partai Kedaulatan Bangsa, yang kemudian melebur dengan Partai Indonesia Baru (PIB) menjadi Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB).
Ia menjabat sebagai Komisaris Garuda Indonesia sejak Januari 2020 hingga mengundurkan diri pada Agustus 2021.
Kehidupan pribadi
Yenny Wahid adalah anak kedua dari pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah. Ia mempunyai seorang kakak, Alisa Wahid dan dua orang adik, Anita Wahid dan Inayah Wahid.
Pada 15 Oktober 2009 Yenny menikah dengan Dhorir Farisi. Pada 13 Agustus 2010, Yenny melahirkan putrinya, Malica Aurora Madhura.
Yenny kemudian melahirkan anak keduanya, Amira, pada 14 Agustus 2012. Ia melahirkan putri ketiganya, Raisa Isabella Hasna, pada 3 Maret 2014.
Pendidikan
Seperti ayahnya, ia terlahir dalam lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama. Pola pikirnya pun tidak jauh dengan ayahnya yang lebih mengedepankan Islam yang moderat, menghargai pluralisme dan pembawa damai.
Setamat dari SMA Negeri 28 Jakarta pada 1992, Yenny menempuh studi Psikologi di Universitas Indonesia.
Kemudian atas saran ayahnya, Yenny memutuskan keluar dari Universitas Indonesia dan melanjurkan pendidikannya dalam Jurusan Visual di Universitas Trisakti. Ia kemudian melanjutkan studi administrasi publik di Universitas Harvard, Boston.
Karier
Selepas mendapat gelar sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti, Yenny memutuskan untuk menjadi wartawan. Sebelum terjun secara khusus mendampingi ayahnya, Yenny bertugas sebagai reporter di Timor-Timur dan Aceh.
Ia menjadi koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) antara tahun 1997 dan 1999. Saat itu, meski banyak reporter keluar dari Timor Timur, Yenny tetap bertahan dan melakukan tugasnya.
Ia sempat kembali ke Jakarta setelah mendapat perlakuan kasar dari milisi, namun seminggu kemudian ia kembali ke sana. Liputannya mengenai Timor Timur pasca referendum mendapatkan anugrah Walkley Award.