Kamis, 5 Maret 2026

Capres 2024

Update Pilpres 2024: Anies Baswedan-AHY Dipilih 56,21 Persen Pemilih Golkar-PAN-PPP

Sebanyak 18.620.886 atau 13,30 persen pemilih KIB (Partai Golkar, PAN, PPP) memilih pasangan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Update Pilpres 2024: Anies Baswedan-AHY Dipilih 56,21 Persen Pemilih Golkar-PAN-PPP
Kolase TribunGorontalo.com
Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono. Sebanyak 18.620.886 atau 56,21 persen pemilih Koalisi Indonesia Bersatu (Partai Golkar, PAN, PPP) memilih pasangan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Sebanyak 18.620.886 atau 56,21 persen pemilih Koalisi Indonesia Bersatu (Partai Golkar, PAN, PPP) memilih pasangan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Temuan 18 juta lebih pemilih KIB (Golkar, PAN, PPP) lari ke Anies-AHY berdasarkan jajak pendapat simulasi pasangan calon presiden-calon wakil presiden oleh Lembaga Survei Development Technology Strategy (DTS) Indonesia.

Golkar menyumbang suara terbanyak disusul PAN dan PPP kepada pasangan Anies-AHY saat survei DTS tanggal 28 Juni-8 Juli 2022.

Data yang diperoleh DTS, pemilih dari partai anggota KIB malah memberikan suaranya pada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang disimulasikan berpasangan Ketum Partai Demokrat AHY.

Baca juga: Banding Jokowi, Elektabilitas Ganjar Pranowo-Prabowo Subianto-Anies Baswedan Rendah Jelang Pilpres

Sementara elektabilitas pasangan Airlangga Hartarto-Zulkifli Hasan dari KIB hanya 1,4 persen.

Rinciannya, pemilih Golkar 50 persen, pemilih PPP 60,9 persen dan pemilih PAN 64,3 persen.

Massa KIB pilih Anies-AHY

1) Partai Golkar: 50 persen dari 17.229.789 suara pada Pemilu 2019 adalah 8.614.894,5 suara

2) PAN: 64,3 persen dari 9.572.623 suara pada Pemilu 2019 adalah 6.155.196,589 suara

3) PPP: 60,9 persen dari 6.323.147 suara pada Pemilu 2019 adalah 3.850.796,523 suara

Artinya18.620.886 (56,21 persen) dari 33.125.559 total suara KIB atau 13,30 persen dari 139.970.810 suara sah Pemilu 2019 memilih Anies-AHY.

Baca juga: Dosen IAIN Sultan Amai Gorontalo Tanggapi Peluang Anies Baswedan 

Perhitungan ini berbasis data perolehan suara pada Pemilu 2019. Berikut hasil Pemilu Legislatif 2019 diurutkan dari partai yang mendapat suara tertinggi.

1. PDI-P

Jumlah suara: 27.503.961 (19,33 persen)

2. Golkar

Jumlah suara: 17.229.789 (12,31 persen)

50 persen atau 8.614.894,5 suara

3. Gerindra

Jumlah suara: 17.596.839 (12,57 persen)

Baca juga: Negosiasi PKS Buka Peluang Anies Baswedan Ikut Pilpres

4. Nasdem

Jumlah suara: 12.661.792 (9,05 persen)

5. PKB

Jumlah suara: 13.570.970 (9,69 persen)

6. Demokrat

Jumlah suara: 10.876.057 (7,77 persen)

7. PKS

Jumlah suara: 11.493.663 (8,21 persen)

8. PAN

Jumlah suara: 9.572.623 (6,84 persen)

64,3 persen atau 6.155.196,589 suara

9. PPP

Jumlah suara: 6.323.147 (4,52 persen) 

60,9 persen atau 3.850.796,523

Baca juga: Hari Ini Rapimnas PKS Bahas Koalisi: Tiga Opsi Tentukan Nasib Anies Baswedan

Parpol noseat

10. Berkarya

Jumlah suara: 2.902.495 (2,09 persen)

11. PSI

Jumlah suara: 2.650.361(1,85 persen)

12. Hanura

Jumlah suara: 2.161.507 (1,54 persen)

13. PBB

Jumlah suara: 1.990.848 (0,79 persen)

14. Perindo

Jumlah suara: 3.738.320 (2,07 persen)

15. PKPI

Jumlah suara: 312.775 (0,22 persen)

16. Garuda

Jumlah suara: 702.536 (0,5 persen)

Lembaga Survei DTS Indonesia merilis hasil survei terkait peta politik Pemilu 2024. Termasuk mengenai elektabilitas figur-figur calon presiden dan juga soal koalisi partai yang sudah diumumkan sejak jauh-jauh hari.

Survei yang dirilis pada Juli 2022 (28 Juni-8 Juli 2022) merupakan kesinambungan dari survei sebelumnya yang dilakukan pada November 2021 dan Februari 2022.

Baca juga: Dua Alasan PSI Tidak Dukung Anies Baswedan Jadi Capres 2024, Begini Kata Grace Natalie

Hasil survei terkait pembentukan koalisi sejak dini memperlihatkan perbedaan pilihan pemilih di tingkat akar rumput dengan elite partai terkait simulasi pasangan capres.

Misalnya KIB yang dibentuk Partai Golkar, PAN dan PPP

Hasil survei DTS justru memperlihatkan terjadinya kecenderungan basis pemilih ketiga partai memilih pasangan kandidat di luar pasangan anggota koalisi.

Referensi pemilih dari simulasi pasangan Capres Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Cawapres Ketum PAN Zulkifli Hasan misalnya.

Pasangan calon ini hanya mendapatkan suara sebesar 3,9 persen dari pemilih Golkar, 2,4 persen dari pemilih PAN dan nol persen dari pemilih PPP.

Pemilih dari partai anggota KIB malah memberikan suaranya pada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang disimulasikan berpasangan Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.

Rinciannya yakni 50 persen dari pemilih Golkar, 60,9 persen dari pemilih PPP, dan 64,3 persen dari pemilih PAN.

Bahkan angka elektabilitas acuan (baseline) pasangan KIB ini hanya sebesar 1,4 persen.

Menurut analis politik sekaligus CEO dan pendiri Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi, hal itu membuktikan bahwa pembentukan koalisi secara dini memang belum efektif dalam menaikan magnet elektoral di mata para pemilihnya.

Baca juga: Terbuka Peluang Anies Baswedan-AHY dan Prabowo-Cak Imin Maju Pilpres 2024

“Ini artinya secara preferensi politik, para pemilih di basis partai-partai anggota koalisi tersebut tidak terlalu mengenal para elit partainya, atau mungkin mengenal tapi tidak menyukai padu-padan kandidasinya alias pasangan dari elit partai pilihan mereka,” tutur Pangi Syarwi saat dikonfirmasi, Senin (25/7/2022).

Dia mengatakan bisa jadi secara identifikasi party-ID atau derajat kedekatan para pemilih partai anggota KIB dengan partai masing-masing kuat namun mereka “jauh” atau tidak terlalu mengenal figur elite atau ketua umum dari partai lainnya yang berkoalisi dengan partai pilihannya.

“Pemilih Golkar mungkin merasa dekat dan mengenal Airlangga, tapi bisa jadi mereka tidak terlalu mengenal atau menyukai Zulkifli Hasan. Begitu juga pemilih PAN yang rujukannya Zulkifli tapi tidak mau dia jadi cawapres atau berpasangan dengan Airlangga.

Bahkan PPP yang tidak mendapatkan kuota capres atau cawapres, pemilihnya sama sekali tidak mau memberikan suaranya pada pasangan dari koalisinya tersebut,” ujar Pangi.

Fenomena ini, lanjutnya, memperlihatkan bahwa memang pembentukan dan pengumuman koalisi partai secara dini tidak sepenuhnya efektif untuk menarik suara di tingkat akar rumput.

Faktor pengenalan terhadap figur kandidat mengungguli persoalan ideologi dan party-ID.

“Bisa jadi menarik bagi kalangan elite partai namun tidak berdampak secara elektoral pada para pemilih riil alias di tingkat akar rumputnya. Persoalan lebih kuatnya identifikasi para pemilih loyal partai pada figur kandidat daripada kepada ideologi atau partai-ID menjadi kuncinya,” kata Pangi.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Elektabilitas Pasangan Airlangga-Zulkifli Hasan Hanya 1,4 persen , Pengamat Sebut KIB Tidak Efektif

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved