Pemilu 2024
Jumlah Potensial 41 Persen: Mengenal Generasi Z Pendukung Utama PDIP-Gerindra
PDIP-Gerindra paling disukai generasi Z dan milenial. Penduduk usia 17-39 tahun pada 2024 diperkirakan 110.934.265 jiwa (41,06 persen).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/190722-Generasi-Z.jpg)
Jika dibandingkan survei sebelumnya (Oktober 2021), keterpilihan Prabowo naik 5,8 persen, Ganjar bertambah 5,5 persen dan Anies meningkat 7,2 persen di kalangan Gen Y dan Z.
Catatannya, sudut pandang agen yang berpusat pada diri milenial merupakan kenaifan. Dalam sistem politik, milenial tidak bekerja dalam isolasi. Faktor-faktor di luar milenial juga bisa memengaruhi arah politik elektoralnya.
Tiga tantangan Ada tiga tantangan utama bagi kekuatan politik elektoral milenial.
Pertama, tantangan yang berasal dari karakter politik milenial sendiri.
Survei CSIS (2017) menyimpulkan aspirasi, harapan, dan persepsi generasi milenial relatif sama dengan non-milenial.
Pun, efek politik dan ekonomi milenial belum terlalu kuat. Survei Indikator (Maret 2021) mengungkap kesimpulan berbeda mengenai karakter politik Generasi Z (17-21 tahun). Secara umum, mereka mengerti dan bisa memberikan suaranya tentang isu-isu sosial politik bangsa.
Mereka mampu menunjukkan sikap yang jelas terkait berbagai isu publik. Generasi Z juga cukup terlibat dalam isu-isu politik secara daring.
Survei terbaru oleh Indopol (Nopember 2021) mengungkap temuan menarik tentang perilaku milenial dan Generasi Z terhadap politik uang.
Sebanyak 37,4 persen responden menolak dengan alasan. Sedangkan responden yang menerima dengan segala alasan sebesar 24,8 persen. Menariknya, responden yang tidak menjawab/tidak tahu lebih besar (37,8 persen).
Hasil survei yang relatif beragam tersebut menunjukkan karakter politik milenial belum cukup meyakinkan sebagai kekuatan kontestasi elektoral.
Kedua, demokrasi merupakan faktor penting bagi eksistensi politik milenial. Survei Indikator menunjukkan opini anak muda terhadap situasi demokrasi.
Mayoritas (52,8 persen) merasa sangat/cukup puas terhadap pelaksanaan demokrasi. Meskipun angka tersebut relatif sama dengan opini non-kaum muda, namun mereka tetap kritis. Hanya 15,5 persen responden yang mengevaluasi Indonesia lebih demokratis.
Sebagian besar (75,7 persen) menilai demokrasi mengalami kemunduran dan stagnan. Di balik kesadaran kritis tersebut, politik milenial penting mempertimbangkan bahwa perkembangan demokrasi masih berpusat pada negara.
Analisis perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2009-2020 menunjukkan dominasi kontribusi negara. Perkembangan IDI juga menunjukkan disparitas kemajuan demokrasi antarwilayah yang harus dihadapi kaum muda.
Ketiga, politik elektoral kaum muda mendapat tantangan kekuatan dan praktik politik oligarkis.