Minggu, 8 Maret 2026

Mantan PM Jepang Shinzo Abe Ditembak: Cerita Ivanka Trump hingga 'Dendam' Tetsuya

Mantan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe meninggal ditembak Yetsuya Yamagami. Ivanka Trump, putri Donald Trump.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Mantan PM Jepang Shinzo Abe Ditembak: Cerita Ivanka Trump hingga 'Dendam' Tetsuya
Kolase TribunGorontalo.com
Ivanka Trump, putri mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Tetsuya Yamagami yang menembak mantan PM Jepang Shinzo Abe. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Mantan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe meninggal ditembak Yetsuya Yamagami. Ivanka Trump, putri mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedih.

Ivanka Trump bersaksi soal pengaruh Shinzo Abe terhadap karier politiknya. Dia menyayangkan peristiwa penembakan dengan motif 'dendam aliran agama' yang dilakukan Tetsuya.

"Saya turut sedih dengan kematian mantan PM Shinzo Abe (yang ditembak Tetsuya), sosok yang benar-benar bersejarah dan pemimpin dengan konsekuensi abadi," kata Ivanka Trump, dalam cuitannya di akun Twitter miliknya.

Dikutip dari laman Al Jazeera, Sabtu (9/7/2022), Ivanka juga berterima kasih dengan nasihat serta masukan yang diberikan saat bertemu dengannya.

Menurutnya, apa yang disampaikan Abe padanya sangat berdampak pada sikapnya selama membantu sang ayah, Trump dalam memimpin AS.

"Nasihat, kebijaksanaan dan kehangatan Abe memiliki dampak mendalam pada saya selama pelayanan pemerintahan yang saya lakukan. Hati saya bersama keluarga dan orang-orang Jepang serta dunia yang berduka atas kepergiannya," tegas Invanka.

Mantan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe, salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah pascaperang Jepang, dinyatakan meninggal dunia pada Jumat sore waktu setempat.

Ia menghembuskan napas terakhirnya setelah ditembak saat sedang menyampaikan pidatonya dalam kampanye untuk anggota partainya di Kota Nara.

Perdana Menteri (PM) Fumio Kishida sebelumnya menggambarkan bahwa Abe sedang dalam 'kondisi serius' setelah tidak sadarkan diri pasca mengalami tembakan pada bagian leher dan dada.

Beberapa jam setelah penembakan, Abe dinyatakan meninggal pada usia 67 tahun.

Terkait jejak politiknya, Abe merupakan Perdana Menteri terlama di Jepang, dengan dua masa jabatan dari periode 2006 hingga 2007 dan 2012 hingga 2020.

Masa jabatan Abe diwarnai oleh skandal dan perselisihan, dan ia akhirnya mengundurkan diri dengan alasan kesehatan yang buruk.

Dirinya kemudian mengakui bahwa ia sedang menderita penyakit yang didiagnosis sebagai kolitis ulserativa.

Kendati mengaku sedang sakit, Abe tetap mendominasi Partai Demokrat Liberal (LDP).
Ia memimpin faksi terbesar partai dan ada pembicaraan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan untuk kembali ke panggung politik jika ada kesempatan.

Pencapaian rekor Abe sebagai perdana menteri sebelum mengundurkan diri pada 2020, ditunjukkan dengan membawa stabilitas ke Jepang setelah enam pemerintahan.

Ia membantu Jepang keluar dari siklus deflasi, menghadapi pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mempertanyakan satu-satunya aliansi militer negara itu, dan bekerja untuk meningkatkan hubungan dengan mitra dagang terbesarnya China, yang paling bermusuhan dalam beberapa dekade saat dirinya menjabat.

Abe mungkin paling dikenal karena rencananya untuk menghidupkan kembali ekonomi Jepang yang lesu melalui pelonggaran moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya dan reformasi peraturan yang akhirnya diberi label 'Abenomics'.

Ia dipandang sebagai tangan yang sanggup mengkonsolidasikan kekuatan selama rekor jabatan kali kedua, dan mampu mengatasi skandal.

Ini termasuk salah satu yang terungkap pada 2017 atas alokasi lahan pemerintah yang dipertanyakan untuk sekolah yang diberikan kepada rekanan Abe dan istrinya Akie.

Abe memainkan peran utama dalam memenangkan Olimpiade 2020 untuk Tokyo, yang kemudian ditunda satu tahun hingga 2021 karena pandemi virus corona (Covid-19).

Tetsuya Yamagami Terseret Isu Terkait Kelompok Agama di Jepang

Kepolisian Jepang mengungkap penembakan yang dilakukan Tetsuya Yamagami (41) terhadap mantan PM Jepang Shinzo Abe karena dendam terkait kelompok agama tertentu di Jepang.

"Pelaku Tetsuya Yamagami punya dendam kepada Shinzo Abe terkait dengan kelompok agama yang berafiliasi ke Korea," ungkap sumber Tribunnews.com.

Menurut rumor yang beredar, di masa lalu Shinzo Abe juga ikut membantu kelompok keagamaan tersebut meskipun tak ada bukti kuat hingga saat ini.

"Tetsuya Yamagami terseret isu tersebut sehingga menjadi dendam kepada Abe," kata sumber itu.

"Namun kalau kami melihatnya kuncinya adalah kesulitan hidup Yamagami lalu dipicu dengan rasa dendam ke bidang kelompok agama yang diisukan didukung oleh Abe," tambahnya.

Polisi masih mencari detail kasus tersebut seperti rute akuisisi perencanaan Tetsuya Yamagami membunuh dan metode pembuatan senjata api, dan melanjutkan dengan penjelasan motifnya di samping menyita buku bank untuk melihat arus keuangan tersangka Yamagami.

Menurut keterangan Direktur Kepolisian bagian pembunuhan Kepolisian Nara, Kazuhiro Nakanishi, Jumat (8/7/2022) malam, sebelum kejadian penembakan, Yamagami naik kereta api, keluar dari Stasiun Kintetsu Yamato-Saidaiji Nara pintu Utara (daerah Saidaiji Higashimachi Nara).

Sementara Shinzo Abe berpidato di sudut dekat pusat penyeberangan pejalan kaki yang mengarah dari putaran di depan stasiun.

Lokasinya jalan kaki dari stasiun kereta hanya sekitar 5 menit.

Pada saat mantan Perdana Menteri Abe naik ke panggung, pria itu pindah ke sisi berlawanan dari lokasi tempat dia semula, di dekat halte bus di stasiun putar.

Bagian belakang Abe itu adalah blindspot (titik buta) dari mantan Perdana Menteri Shinzo Abe.

Pihak keamanan tampak "kecolongan" di sisi itu sehingga pelaku dengan mudah bisa menembakkan pistol rakitannya kepada Abe.

Menurut seorang wanita yang berada di dekatnya, pria itu bertepuk tangan ketika mantan Perdana Menteri Abe naik ke atas panggung.

Satu atau dua menit setelah pidato dimulai, dia berjalan dari dekat halte bus dan mendekati ke belakang mantan Perdana Menteri Abe dengan jarak sekitar 4 meter dari Abe.

Setelah dua menit Abe berpidato, Yamagami menembak, pertama mengenai bagian leher kiri Abe.

Lalu Abe berputar melihat ke arah Yamagami dan pelaku menembak lagi mengenai dada kanan Abe.

Peluru menembus dada Abe dan merusak bagian jantungnya.

Bersamaan dengan tembakan muncul pula teriakan, pengeras suara mendengungkan kata-kata dari seorang lelaki, "Apakah ada perawat di sekitar sini?" dan "Panggil ambulans secepatnya," menciptakan suasana yang bising saat itu.

Lalu muncul dua wanita berusaha memberikan pernapasan buatan kepada Abe, beberapa pria juga ikut membantu.

Teriakan juga muncul kepada masyarakat agar segera mengambilkan AED untuk Abe.

Sekitar 5 menit kemudian datanglah ambulans dan segera membawa Abe ke lokasi helikopter di mana Doctor Heli telah menunggu, yang kemudian langsung membawanya ke Rumah Sakit Universitas Medis Nara di Kota Kashihara, Prefektur Nara.

Namun nyawa Shinzo Abe tak tertolong dan mengembuskan napas terakhir jam 17.03 waktu Jepang yang diumumkan resmi pihak rumah sakit kemarin.

Pelaku pembunuhan, Yamagami tinggal di Omiya-cho Nara, pada tahun 2002-2005 bekerja sebagai anggota pasukan beladiri Marinir Jepang.

Setelah itu tidak jelas pekerjaannya alias pengangguran sampai akhirnya Yamagami terdaftar di perusahaan pengiriman di Prefektur Osaka selama sekitar satu setengah tahun hingga Mei 2022.

Dia kemudian dikirim ke gudang di Prefektur Kyoto untuk membawa barang bawaan dengan forklift, sebagai pekerja kasar.

Orang yang bertanggung jawab atas perusahaan pengiriman itu mengatakan, "Saya memiliki kesan yang tenang mengenai dia karena hanya ada sedikit kata."

Karyawan yang lain mengatakan, "Dia jarang menghabiskan waktu dengan orang-orang di sekitar saya, dan tampaknya dia makan siang di mobil pribadinya."

Pada bulan April, Yamagami menawarkan diri untuk pensiun dari perusahaan pengirim dengan mengatakan bahwa dia "sakit".

Dikatakan bahwa dia berhenti pada pertengahan Mei setelah mengambil cuti berbayar.

Sedangkan Shinzo Abe menjadi perdana menteri pada usia termuda 52 tahun setelah perang, dan total masa jabatannya 3.188 hari adalah PM Jepang yang terlama dalam sejarah.

Sementara itu beasiswa (ke Jepang), belajar gratis di sekolah bahasa Jepang di Jepang, serta upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif. (*)


Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ivanka Trump Bersedih, Kenang 'Sifat Bijaksana dan Hangat' Shinzo Abe

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved