Tergerus Zaman, Pengrajin Atap Rumbia Ini Tetap Survive Demi Hidupi Keluarga
Seiring perkembangan zaman, pengrajin atap rumbia mengaku percaya bahwa masyarakat Gorontalo masih membutuhkan atap rumbia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Noku-Dopo-pengrajin-atap-rumbia.jpg)
"Saya sudah tau sejak masih remaja dulu, namun saya baru menekuninya sejak 20 tahun terakhir. Saya pun membuat atap ini jika ada pemesan, karena kalau lebih biasanya bakal rusak," jelasnya.
"Atap rumbia sendiri bisa menyejukkan ruangan, karena bisa menangkal panas, makanya banyak pembeli mengunakannya untuk bagunan yang di perkebunan serta tempat ternak," tutupnya.
Sementara, dinding pitate sendiri dibuat dari pelepah batang sagu yang di tumbuk agar dapat membentuk lembaran kemudian dianyam secara vertikal dan horisontal agar dapat membentuk lembaran dinding.
Dalam sehari, pasangan suami-istri tersebut hanya dapat menghasilkan satu hingga tiga lembar sehari tergantung pesanan.
Noku sendiri demi menopang hidupnya sehari hari dari berjualan atap rumbia , dan dinding pitate dirinya ikut menjual ikan air tawar jenis nila. (*)