Senin, 9 Maret 2026

Wawancara Eksklusif

Bincang Ketua Kadin Provinsi Gorontalo Muhalim Litty: Pernah Kolaborasi Bisnis dengan Menteri Bahlil

Ketua Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Provinsi Gorontalo Muhalim Djafar Litty pernah kolaborasi bisnis dengan Bahlil Lahadalia.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Bincang Ketua Kadin Provinsi Gorontalo Muhalim Litty: Pernah Kolaborasi Bisnis dengan Menteri Bahlil
Tangkapan layar video FB Tribun Gorontalo
Ketua KADIN Provinsi Gorontalo Muhalim Litty saat bincang podcast bertajuk 'Anjangsana' TribunGorontalo.com, Kamis (16/6/2022) malam. Muhalim pernah kolaborasi dengan Menteri Bahlil. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Ketua Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Provinsi Gorontalo Muhalim Djafar Litty pernah kolaborasi bisnis dengan Bahlil Lahadalia.

Muhalim-Bahlil kolaborasi bisnis saat keduanya menjabat Ketua DPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). 

Muhalim sebagai Ketua HIPMI Gorontalo, Menteri Investasi Indonesia merangkap Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal saat itu sebagai Ketua HIPMI Papua. Keduanya kerja sama dan berlaborasi lantaran sama-sama punya bisnis di Jakarta.

Demikian beberapa highlight cerita Ketua KADIN saat bincang dengan host Risman Taharuddin pada podcast bertajuk 'Anjangsana' TribunGorontalo.com, Kamis (16/6/2022) malam.

Putra kelahiran Gorontalo 13 Maret 1970 ini bertekad menjadi pengusaha di ibu kota. Perjuangannya selama meniti karier terbilang panjang dan memikukan. Hingga harus terjun menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan sejak tahun 2004 hingga 2015.

Muhalim pernah mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar Negeri 33 Gorontalo tahun 1983. Setelah dinyatakan lulus ia melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama di SMPN 6 Kota Gorontalo 1983-1986.

Dia melanjutkan kembali jenjang pendidikannya di Sekola Teknik Menengah (STM) jurusan teknik elektro pada tahun 1986-1989.

Tidak berakhir di bangku STM, Muhalim kemudian melanjutkan pendidikan strata satunya di jurusan Ekonomi Politik IKIP Jogyakarta pada tahun 1988 melalui SNMPTN. Akhirnya meraih gelar sarjananya di tahun 1994.

"Cukup berkesan bagi saya, Jogya waktu itu dikenal sebagai kota pendidikan atau kota gudeg dan alhamdulillah setelah lulus di tahun 1994 saya melanjutkan perjuangan merantau ke Jakarta," tutur Muhalim kepada TribunGorontalo.com.

Pria yang dikenal sebagai sosok perantau itu, terlintas di benaknya untuk memilih mengadu nasib di ibu kota dibanding memilih pulang ke tanah asal dengan tekad mencari tantangan baru untuk dilaluinya.

Bertarung untuk bertahan hidup di tanah perantauan, dia termotivasi belajar menjadi pebisnis.

Puluhan perusahaan ia kirimkan berkas sebagai bentuk surat lamaran kerja. Walau awal meniti karier ia harus menjadi seorang karyawan di salah satu perusahaan.

Berkiprah di beberapa perusahaan selama di Jakarta menjadi sebuah pengalaman besar baginya.

Meniti karier di negeri orang, membuat Muhalim menggantungkan cita-cita agar suatu saat nanti dirinya bisa menjadi pengusaha besar terlebih harus mandiri. Selama di Jakarta ia berprinsip harus menjadi pengusaha di negeri orang.

"Menjadi pengusaha itu tidak mudah, bukan hanya karena bermodalkan duit dan langsung mendirikan usaha, tentu saya harus belajar di beberapa perusahaan untuk menuntut ilmu di situ sehingga suatu saat jika memiliki modal tentu sudah siap dengan mental dan modal," jelas Muhalim.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved