Tanggapi Dukung Jenderal Dudung, Begini Kata Tokoh Senior NU soal Persatuan Bangsa
Upaya Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman merekatkan kembali tokoh lintas agama dan anak bangsa.
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Upaya Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman merekatkan kembali tokoh lintas agama dan anak bangsa menuai dukungan dan apresiasi.
Mantan Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Marsudi Syuhud mengatakan, upaya Jenderal Didudung tersebut merupakan perbuatan amal saleh, dan perlu didukung.
“Ketika pak Dudung berusaha untuk (menyatukan tokoh lintas agama dan anak bangsa) itu ya saya setuju dan saya mendukung,” ujar Marsudi, dalam keterangannya, pada Rabu (8/6/2022).
Pendapat Marsudi ini terkait perihal upaya Jenderal Dudung yang mencoba menyatukan tokoh lintas agama dan semua elemen anak bangsa.
Dudung sebelumnya sudah membangun silaturahmi dengan kiyai-kiyai di sejumlah pesantren. Selain itu, Dudung juga mengunjungi Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI).
Menurut Marsudi, sebagai anak bangsa Jenderal Dudung memang berhak dan memiliki kewajiban menjaga keberagaman dan persatuan bangsa
“Karena kita sudah diikat dengan tali Mu’ahadah Wathaniyah, negara kebangsaan, musyawarah mufakat untuk menyatukan diri dari perbedaan-perbedaan yang ada,” katanya.
Sebab, lanjut dia, anak bangsa Indonesia beraneka ragam, termasuk dalam hal agama. Keaneka ragamanan ini harus dijunjung tinggi. Marsudi kemudian mencontohkan keaneka ragaman Indonesia dengan Negara Madinah pada saat dipimpinan Nabi Muhammad SAW.
“Di Madina itu ada anak bangsa, ketika itu ada yang Nasrani, Yahudi, Majusi, dan Islam. Islam ada (kaum) Muhajirin dan Ansor. Semua anak bangsa itu termasuk suku-sukunya dan qobail-qobailnya itu disatukan dengan perjanjian Madinah,” tuturnya.
Menurut Marsudi, perjanjian Madinah tersebut adalah terkait kesepakatan hidup bersama, rukun dan harmonis kendati berbeda-beda keyakinan.
“Berang siapa yang yang sepakat sependapat untuk bersama-bersama hidup bersatu padu walau berbeda-berbeda, mereka yang beda-beda itu tadi menjadi bangsa yang satu,” katanya.
Marsudi berharap tidak ada pihak-pihak yang melakukan provokasi untuk memecah belah persatuan dan keberagaman Indonesia. Jika ada yang mencoba melakukan provokasi, Marsudi mengatakan hal itu perlu dilawan. Tapi, cara melawannya, kata dia, jangan dengan kekerasan.
“Karena ini sebuah pemahaman, sebuah paham, maka melawannya harus pakai paham. Bagaimana cara melawan pkai paham? Ya paham-paham kita, ajaran Rasulullah, ajaran agama tinggal diikuti saja. Wong dulu para pendiri bangsa ini mengikuti cara Rasulullah ketika membangun negara Madina, gitu. Cara melawannya ya jangan dengan cara kekerasan juga. Cara melawannya dengan cara memberikan pemahaman,” pungkasnya.
Berdialog dengan Tokoh dari PGI, KUPI hingga GPIB
Dudung Abdurachman berdialog dengan tokoh-tokoh lintas agama dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), hingga Gereja Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) pada Selasa (31/5/2022).
Dialog tersebut dilakukan Dudung dengan para tokoh lintas agama dalam waktu dan tempat berbeda pada hari yang sama.
Pertama, Dudung mengunjungi pengurus Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pusat di Salemba, Jakarta Pusat.
Kunjungan Jenderal Dudung tersebut untuk bersilaturahmi dengan Pengurus Majelis Pekerja Harian PGI, Sekretaris Eksekutif PGI dan Kepala Biro PGI.
Kedatangan Dudung disambut Sekretaris Umum PGI Pusat Pendeta Jacky Manuputty dan Ketua Umum PGI Pusat Pendeta Gomar Gultom.
Dalam kesempatan tersebut Dudung juga bersilaturahmi dengan para Pendeta dari 95 gereja anggota PGI di seluruh Indonesia melalui video conference.
Kunjungan Dudung kepada para tokoh agama tersebut, merupakan bagian dari rencana kerjanya untuk menjalin hubungan yang sinergis dengan seluruh tokoh lintas agama dalam menciptakan kehidupan bernegara yang tenang dan damai.
Dalam kunjungan tersebut Gomar mengatakan dirinya sangat mendukung adanya tentara yang kuat, tangguh dan profesional karena ini dibutuhkan bangsa untuk mempertahankan Pancasila dari berbagai bentuk rongrongan yang ingin menggeser Pancasila.
Ia berharap Dudung tidak ragu-ragu menghadapi kelompok-kelompok yang hendak menggeser Pancasila demi terciptanya rasa aman dan damai di seluruh pelosok tanah air.
Dalam sambutannya Dudung mengungkapkan kunjungan tersebut menjadi prioritas untuk bersama-sama menyikapi fenomena yang terjadi yakni berbagai macam ancaman internal yang dapat mengarah kepada perpecahan bangsa di antaranya gerakan intoleran.
Negara-negara Timur Tengah yang merupakan satu daratan, kata dia, bisa porak poranda karena ada yang menginginkan dan membuatnya jadi demikian.
"Negara Indonesia yang berpondasikan kebhinekaan dengan tiang persatuan dan kesatuan, serta beratapkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, diharapkan akan tetap terjaga tidak mengalami nasib yang sama seperti yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah,” kata Dudung dalam keterangan resmi Dinas Penerangan TNI AD pada Selasa (31/5/2022).
Selanjutnya, Dudung menerima kunjungan perwakilan pengurus Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Ruang Kerja KSAD di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta Pusat.
Ketua Penasehat KUPI KH Husain Muhammad dan penyelenggara Kongres Ulama Perempuan Indonesia Ninik Rahayu mengatakan tujuan kedatangannya dalam rangka silaturahmi dan memperkenalkan diri.
Selain itu, mereka meminta dukungan dari TNI AD dalam penyelenggaraan Kongres lima tahunan KUPI yang akan digelar pada November 2022.
Disampaikan juga, dalam kongres akan dilakukan kajian-kajian dan dialog untuk membahas persoalan sosial kemasyarakatan dengan pendekatan keadilan yang nantinya dapat dijadikan fatwa dan beberapa rekomendasi.
Dalam kesempatan itu, Dudung menegaskan akan mendukung penuh penyelenggaraan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).
Dudung juga berharap agar KUPI dapat melahirkan sesuatu yang bermanfaat dan berdampak signifikan bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Dudung kemudian melaksanakan audiensi dengan tokoh Gereja Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) dan Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) GPIB Imanuel di Gereja Imanuel Pejambon, Jakarta Pusat.
Kedatangan Dudung disambut Ketua Umum Fungsionaris Majelis Sinode (FMS) GPIB Pendeta Paulus Kariso Rumambi, Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB Imanuel, Pendeta Abraham Ruben Persang, serta beberapa pengurus lainnya.
Dudung menyampaikan tujuan kunjungannya ke GPIB untuk bersilaturahmi karena keberadaannya sebagai KSAD hadir dari rakyat, oleh rakyat dan hakekatnya untuk kepentingan rakyat.
“Saya ingin ada masukan dari GPIB untuk mengantisipasi ancaman perpecahan. Negara tercipta karena perbedaan, negara terbentuk karena kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Gotong-royong dan kebersamaan merupakan budaya bangsa kita sehingga dari sini lahir Pancalisa,” kata Dudung.
Ia juga menyampaikan kemerdekaan Negara Indonesia dibangun dari keberagaman budaya, agama dan adat istiadat.
Ia berharap, TNI AD dengan GPIB dapat bersinergi dalam menangkal berbagai bentuk ancaman yang dapat menimbulkan perpecahan.
“Bangsa Indonesia tidak akan terpecah-pecah jika masih tetap memegang teguh Pancasila sebagai ideologi negara,” kata dia.
Akhir kegiatan, Dudung dan Ketua Umum FMS GPIB saling menukar cinderamata, kemudian dilanjutkan peninjauan Gereja GPIB dan foto bersama di depan gereja. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tokoh Senior NU Dukung Jenderal Dudung Jaga Persatuan dan Rekatkan Anak Bangsa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/090622-Dudung.jpg)