Rabu, 4 Maret 2026

Jenderal Rusia Tewas di Ukraina, Pesawatnya Dihantam Rudal Stinger

Seorang jenderal Rusia dilaporkan tewas dalam perang di Ukraina karena serangan rudal. Mayor Jenderal Kanamat Botashev (63).

Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Jenderal Rusia Tewas di Ukraina, Pesawatnya Dihantam Rudal Stinger
SERGEI SUPINSKY/kompas.com
Prajurit Pasukan Militer Ukraina memindahkan Rudal FIM-92 Stinger buatan AS, sistem pertahanan udara portabel-man (MANPADS), yang beroperasi sebagai rudal permukaan-ke-udara (SAM) pelacak inframerah, dan bantuan militer lainnya yang dikirim dari Lituania ke Bandara Boryspil di Kyiv pada Minggu (13/2/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM – Seorang jenderal Rusia dilaporkan tewas dalam perang di Ukraina karena serangan rudal. Mayor Jenderal Kanamat Botashev (63), dilaporkan menjadi salah satu perwira tinggi militer Rusia yang tewas dalam perang di Ukraina.

BBC Rusia melaporkan, Botashev tewas ketika pesawat yang diterbangkannya, Su-25, terkena rudal Stinger saat mengudara atas wilayah Luhansk.

Rusia menambahkan bahwa Botashev sebelumnya telah pensiun dan tidak menerbangkan pesawat dalam satu dekade.

Tidak jelas mengapa dia kembali ke kokpit Su-25 meski telah pensiun, sebagaimana dilansir New York Times, Selasa (24/5/2022).

Di sisi lain, pejabat Ukraina mengumumkan penembakan pesawat Su-25 tersebut bersama dengan foto puing-puingnya.

Seorang pilot Rusia mengatakan kepada BBC Rusia bahwa Botashev merasa berkewajiban untuk mengangkat senjata melawan Ukraina.

Pilot tersebut menambahkan kepada BBC Rusia bahwa kembalinya Botashev ke kokpit pesawat menunjukkan bahwa Rusia kekurangan pilot yang memenuhi syarat.

Selain Botashev, New York Times melaporkan ada lebih dari selusin jenderal Rusia yang terbunuh di palagan perang Ukraina.

260522-Kanamat Botashev
Mayor Jenderal Kanamat Botashev

Selain itu, lebih dari 40 kolonel diyakini tewas dalam konflik yang semakin berdarah di Ukraina. Pejabat Rusia belum mengonfirmasi atau mengomentari kematian Botashev yang dilaporkan.

Jadi Awal Perang Dunia Ketiga

Invasi Rusia ke Ukraina terancam menjadi “awal dari perang dunia ketiga” yang bisa berarti akhir dari peradaban, veteran filantropis dan mantan pemodal George Soros memperingatkan. Dalam kritik pedasnya terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dan rekanannya dari China Xi Jinping di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Soros memperingatkan bahwa rezim otokratis sedang berkuasa dan ekonomi global sedang menuju depresi.

"Invasi itu mungkin merupakan awal dari perang dunia ketiga dan peradaban kita mungkin tidak akan selamat darinya," kata meningkatkan retorika suram dunia ke level baru akibat perang di Ukraina di tengah forum ekonomi dunia itu.

“Invasi ke Ukraina tidak datang tiba-tiba. Dunia semakin terlibat dalam perjuangan antara dua sistem pemerintahan yang bertentangan satu sama lain: masyarakat terbuka dan masyarakat tertutup.”

Mantan pemilik hedge fund berusia 91 tahun itu mengatakan gelombang mulai berbalik melawan masyarakat terbuka, setelah serangan teroris 9/11 di AS pada 2001.

“Rezim represif sekarang sedang berkuasa dan masyarakat terbuka dikepung. Hari ini China dan Rusia menghadirkan ancaman terbesar bagi masyarakat terbuka,” ujarnya sebagaimana dilansir Guardian pada Rabu (25/5/2022).

Soros, yang memimpin serangan keuangan spekulatif yang mendorong poundsterling keluar dari Mekanisme Nilai Tukar Eropa 30 tahun lalu, mengatakan Eropa telah merespons dengan baik krisis yang dipicu oleh invasi Rusia.

“Butuh waktu lama untuk menyelesaikan detailnya, tetapi Eropa tampaknya bergerak ke arah yang benar. Ia telah menanggapi invasi Ukraina dengan kecepatan, persatuan, dan kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya dalam sejarahnya.”

Namun dia menyorot ketergantungan Eropa pada bahan bakar fosil Rusia yang tetap berlebihan. Sebagian besar, hal itu menurutnya terjadi karena kebijakan merkantilis (mengejar perdagangan) yang diambil mantan kanselir Jerman Angela Merkel.

“Dia telah membuat kesepakatan khusus dengan Rusia untuk pasokan gas dan menjadikan China pasar ekspor terbesar Jerman. Itu membuat Jerman menjadi ekonomi berkinerja terbaik di Eropa. tetapi sekarang ada harga yang harus dibayar,” kata dia.

Ekonomi Jerman menurutnya perlu direorientasi dan itu akan memakan waktu lama.

Soros mengatakan Putin telah memenangkan persetujuan Xi untuk invasi Rusia pada pembukaan Olimpiade Musim Dingin Beijing pada awal Februari. Namun dia bersikeras pemimpin China itu tidak sekuat yang dia yakini.

“Xi menyimpan rahasia China. Dia tidak pernah memberi tahu orang-orang China bahwa mereka diinokulasi dengan vaksin yang dirancang untuk varian asli Wuhan dan menawarkan sangat sedikit perlindungan terhadap varian baru.”

Soros mengatakan Xi tidak dapat "berterus terang" karena dia berada pada saat yang sulit dalam karirnya.

"Masa jabatan keduanya berakhir pada musim gugur 2022 dan dia ingin diangkat untuk masa jabatan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya, akhirnya menjadikannya penguasa seumur hidup."

Lockdown China untuk memerangi Covid-19 telah mendorong ekonomi terjun bebas, tetapi Xi tidak dapat mengakui bahwa dia telah melakukan kesalahan, katanya.
“Setelah krisis real estate, kerusakannya akan sangat besar sehingga akan mempengaruhi ekonomi global. Dengan terganggunya rantai pasokan, inflasi global dapat berubah menjadi depresi global.”

Soros memprediksi, Xi Jinping mungkin tidak mendapatkan masa jabatan ketiga yang didambakannya bertentangan dengan harapan umum. Ini karena kesalahan yang telah dia buat.

“Sementara perang berkecamuk, perang melawan perubahan iklim harus menempati urutan kedua. Namun para ahli memberitahu kita bahwa kita telah tertinggal jauh di belakang, dan perubahan iklim hampir tidak dapat diubah lagi. Itu bisa menjadi akhir dari peradaban kita,” tambah Soros.

Oleh karena itu, menurut dia, dunia harus memobilisasi semua sumber daya kuntuk mengakhiri perang lebih awal. “Cara terbaik dan mungkin satu-satunya untuk melestarikan peradaban kita adalah dengan mengalahkan Putin sesegera mungkin. Itulah intinya.” (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pesawatnya Ditembak Rudal Stinger, Jenderal Rusia Tewas di Ukraina"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved