Kenangan Anies Baswedan dan Saleh Husin terhadap Sosok Fahmi Idris
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menghadiri acara pemakaman politikus senior Partai Golongan Karya (Golkar), Fahmi Idris.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/230522-Anies-Baswedan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menghadiri acara pemakaman politikus senior Partai Golongan Karya (Golkar), Fahmi Idris di Tanah Kusir, Minggu (22/5/2022).
Di mata Anies, Fahmi Idris adalah pejuang bangsa.
Pada masanya, Fahmi Idris merupakan aktivis yang ikut menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia.
"Bapak Fahmi Idris ini adalah seorang pejuang (aktivis) legendaris."
"Beliau di masanya adalah aktivis yang ikut menentukan arah perjalanan negara dan bangsa kita," kata Anies Baswedan.
Kenangan Saleh Husin
Ucapan bela sungkawa juga datang dari mantan Menteri Perindustrian, Saleh Husin.
Saleh mengaku sangat kehilangan sosok Fahmi Idris yang disebutnya sebagai sahabat sekaligus senior yang baik.
"Kami sangat kehilangan salah satu senior, sahabat dan teman komunikasi dalam berbagai hal termasuk dalam dunia industri."
"Bang Fahmi adalah orang yang sangat baik dan mempunyai banyak teman dalam pergaulannya," kata Saleh dikutip dari Tribunnews.com, Senin (23/5/2022).
Lantas siapa sosok Fahmi Idris?
Berikut rangkuman Tribunnews.com, yang dirangkum dari berbagai sumber.
Melansir Wikipedia, pemilik nama lengkap dan gelar Prof Dr Fahmi Idris, SE, MH ini lahir pada 20 September 1943.
Fahmi merupakan putra dari pasangan perantau Minangkabau yang tinggal di Jakarta.
Ayahnya Haji Idris Marah Bagindo, merupakan seorang pedagang yang mendidik anak-anaknya untuk taat beragama.
Atas pernikahannya dengan Kartini, putri seorang ulama terkenal asal Banjar Hasan Basri, Fahmi memiliki dua orang putri.
Keduanya yakni Fahira Fahmi Idris dan Fahrina Fahmi Idris yang juga mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang pengusaha.
Saat ini, Fahira menjabat sebagai Ketua Himpunan Saudagar Muda Minangkabau sekaligus legislator DPD RI periode 2014-2019.
Sementara Rina terpilih sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia.
Sepeninggal istrinya, pada 2015, Fahmi Idris menikahi Founder & Managing Partner dari Konsultan Hukum Indonesia Consultant at Law (ICLaw) yang juga seorang perupa, Yeni Fatmawati.
Mahasiswa lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1969 ini dulu dikenal sebagai aktivis yang ulet dan cekatan.
Ia dipercaya menjabat beberapa posisi di kalangan organisasi mahasiswa.
Fahmi kembali berkuliah di Hukum Bisnis dan berhasil meraih gelar Magister Hukum dari Universitas Padjadjaran pada 2010.
Pada 2012, ia meraih gelar Doktor bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) dari Universitas Negeri Jakarta dan meraih gelar Doktor Filsafat dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 2021.
Pada 2022, ia diberikan gelar Profesor kehormatan oleh Universitas Negeri Padang. Mulanya, pada tahun 1984, Fahmi bergabung dengan Partai Golkar.
Empat tahun berlalu 1998 hingga 2004, ia menjabat sebagai Ketua DPP Golkar di Jakarta.
Pada 2004, ia sempat dipecat dari keanggotaan Golkar, karena dikabarkan menentang hasil rapat pimpinan partai yang mendukung Megawati-Hasyim Muzadi sebagai capres.
Pada saat itu, Fahmi mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.
Fahmi kembali ditunjuk sebagai Menteri Tenaga Kerja, hingga kemudian diminta menjadi Menteri Perindustrian.
Namanya dibersihkan, dan ketua umum Jusuf Kalla menariknya kembali masuk partai.
Mengutip TribunnewsWiki.com, Pengusaha dan politikus asal Indonesia ini pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dalam Kabinet Reformasi Pembangunan era SBY.
Namun, ia kemudian direshuffle menjadi Menteri Perindustrian.
Memulai kariernya sebagai pengusaha pada 1967, Fahmi kemudian bergabung bersama para eksponen 1966 dengan mendirikan PT Kwarta Daya Pratama.
Pada tahun 1979, ia dipercaya menjadi direktur utama Kongsi Delapan (Kodel Group), sebuah perusahaan konglomerasi besar yang didirikannya bersama Aburizal Bakrie, Soegeng Sarjadi, Abdul Latief dan Pontjo Sutowo.
Perusahaan ini mengelola usaha agrobisnis, perdagangan, perbankan, perminyakan, hingga hotel.
Ia dikabarkan juga membangun Hotel The Regent (kini Four Seasons Jakarta) di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Pada tahun 1980an, PT Kwarta Daya Pratama dinobatkan sebagai salah satu perusahaan tersukses di Indonesia.
Perusahaan tersebut telah mengembangkan hotel di kawasan elite Amerika.
Kenali Gejala Kanker Darah Myeloma
Mantan Menteri Perindustrian sekaligus tokoh nasional Fahmi Idris meninggal dunia, Minggu (22/5/2022) sekira pukul 10.00 WIB.
Menantu almarhum Fahmi Idris, Aldwin Rahadian mengungkapkan, jika mertuanya itu sudah mengidap kanker darah myeloma sejak tahun 2014 lalu.
Sebelum meninggal, almarhum mendapatkan perawatan insentif selama empat hari di rumah sakit.
Apa itu kanker darah myeloma?
Dilansir dari webMD, myeloma atau multiple myeloma adalah satu jenis kanker darah paling umum kedua setelah leukimia.
Kanker darah ini terbentuk dari sel plasma ganas.
Sel plasma menghasilkan antibodi yang membantu tubuh menyerang dan membunuh kuman.
Sel plasma normal ditemukan di dalam sumsum tulang dan merupakan bagian sistem imun yang penting.
Selain sel plasma, sumsum tulang juga memproduksi sel-sel khusus yang membangun jenis sel darah lainnya.
Biasanya penyakit ini berisiko dialami kelompok usia diatas 65 tahun. Akan tetapi penyakit ini juga bisa menyeranga kelompok umur 20 tahun.
Tidak seperti kanker lainnya, myeloma tidak memiliki gejala seperti benjolan atau tumor.
Berikut adalah gejala kanker darah myeloma yang khas seperti Anemia, sering mengalami perdarahan dan memar, gangguan tulang dan kalsium sehingga menyebabkan tulang mudah patah, rentan mengalami infeksi, gangguan atau kerusakan ginjal, kaki bengkak.
Dalam artikel Mayoclinic, hingga saat ini myeloma merupakan kanker yang tidak dapat disembuhkan. Tipe kanker darah yang bisa diobati namun sewaktu-waktu bisa kambuh, sehingga memerlukan perawatan tambahan.
Disebutkan, ada berbagai pilihan perawatan yang bisa meningkatkan kualitas hidup pasien yakni, imunoterapi, kemoterapi, kortikosteroid, transplantasi sumsum tulang, dan terapi radiasi. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Anies Baswedan dan Saleh Husin Kenang Sosok Fahmi Idris: Kami Kehilangan Senior dan Sahabat