Cerita Suku Bajau di Torosiaje Pohuwato Membangun Tiga Desa
Jali, keturunan suku bajau yang ditemui TribunGorontalo.com menuturkan, dulunya mereka memang suka hidup berpindah-pindah (nomaden).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Desa-Torosiaje-05.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sejuk tenang dan damai menyelimuti Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo pagi ini, Senin (23/5/2022). Meski berada di atas laut, permukiman suku Bajau (Bajo) ini jauh dari kebisingan ombak pantai.
Desa Torosiaje berada di Teluk Tomini. Suku Bajau bermukim di desa ini sejak 80-an. Sebagai layaknya suku Bajau, warga desa ini memang dulunya hidup nomaden. Hingga akhirnya memutuskan menetap di wilayah itu.
Jali, keturunan suku bajau yang ditemui TribunGorontalo.com menuturkan, dulunya mereka memang suka hidup berpindah-pindah (nomaden). Lihat saja dari nama-nama keturunan suku bajau yang kadang sama dengan nama pulau.
“Itu karena dia dilahirkan saat mereka sedang menetap atau berada di pulau itu,” cerita Jali.
Hingga akhirnya kata dia, nenek moyang mereka pada awal 80-an menemukan tempat yang tenang, yang saat ini kemudian disebut Desa Torosiaje Laut tersebut. Mereka pun beranak pinak di desa ini.
Katanya, Torosiaje berasal dari kata Toro si Aji. Toro berarti tanjung dan si Aji adalah ia orang Bajau yang sudah naik haji. Pada tahun 1805, tanjung ini ditemukannya hingga, memilih membuat sebuah rumah di atas laut.
Merasa tenang dan damai, Ia mulai mengajak keluarga serta kerabatnya yang berada di tiap pesisir pantai di pulau Sulawesi untuk ikut membersamainya dan tinggal hingga meratap tangis di tanjung itu.
Jali menuturkan, sejak awal bermukim keadaan serba apa adanya menjadi modal awal mereka mendirikan sebuah desa di Torosiaje, mulai dari suasana yang gelap gulita hingga air bersih yang sulit untuk didapatkan.
"Dulu tahun 2010 alhamdulillah listrik mulai ada, namun yang susahnya air bersih masih sulit didapatkan," tuturnya.
Cerita Jali, dulu mereka untuk mendapatkan air bersih harus mendayung perahu dulu ke Popayato, karena di sana sudah ada air bersih, jarak yang harus ditempuh untuk tiba di lokasi itu kurang lebih 15 jam.
"Sekiranya kami menikmati air bersih itu pada tahun 2011, lumayan perjuangan mendapatkan air bersih durasinya selama itu. Dari tahun 1805 hingga 2011," terangnya.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat suku Bajau yang berada di Desa Torosiaje ini semakin hari semakin bertambah, kurang lebih jumlah penduduknya mencapai 1478, dan memiliki 4 Dusun.
"Iya 4 Dusun itu tinggal di atas permukaan air laut dengan membuat rumah dari pelepah kayu, dan hanya menggunakan perahu sebagai akses untuk melaksanakan aktivitasnya, " jelas Jali.
Sebetulnya kata dia, suku Bajau yang mendiami lokasi itu terdiri dari 12 kelompok bajau dari berbagai penjuru. Ada Bajau yang berasal dari Palu Sulawesi Tengah, Bajau Kendari, Bajau Gorontalo, hingga ada yang dari Cina, serta Bajau dari suku lainnya.
Seiring berkembangnya populasi masyarakat suku Bajau yang bermukim di atas permukaan laut Torosiaje, mulailah masyarakat memekarkan dua Desa di bagian daratan di antaranya, Desa Torosiaje Jaya dan Bumi Bahari. Di situlah para generasi mulai bermukim hingga sekarang ini. (*).