Asal Usul Lebaran Ketupat
Idul Fitri dilaksanakan pada 1 Syawal, sementara Lebaran Ketupat dilaksanakan satu minggu kemudian atau tepatnya pada tanggal 8 Syawal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-ketupat.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Lebaran atau Hari Raya Ketupat sudah menjadi tradisi turun-temurun di Indonesia.
Lebaran Ketupat dilakukan setiap satu minggu, setelah Hari Raya Idul Fitri.
Masyarakat Jawa yang pada umumnya mengenal dua kali pelaksanaan lebaran, yakni Idul Fitri dan Lebaran Ketupat.
Idul Fitri dilaksanakan pada 1 Syawal, sementara Lebaran Ketupat dilaksanakan satu minggu kemudian atau tepatnya pada tanggal 8 Syawal.
Tradisi Lebaran Ketupat diselenggarakan setelah menyelesaikan Puasa Syawal selama 6 hari.
Sejarah lebaran ketupat
Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu Walisongo penyebar agama Islam di tanah Jawa.
Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah ‘bakda’ kepada masyarakat Jawa, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.
Kata ‘bakda’ sendiri dalam bahasa Jawa punya arti setelah atau sesudah.
Bakda Lebaran dimulai dari pelaksanaan salat Ied 1 Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan.
Sementara, Bakda Kupat dirayakan seminggu sesudah lebaran.
Saat lebaran ketupat, masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat untuk diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada orang yang lebih tua.
Tujuan lebaran ketupat adalah sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.
Versi lain menyebutkan, di masa lalu lebaran ketupat merupakan sebuah tradisi memuja Dewi Sri, Dewi Pertanian dan Kesuburan.
Dewi Sri dianggap sebagai pelindung kelahiran, kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran.