Pasukan Elite Inggris Menyusup ke Ukraina, Rusia Siapkan Serangan Baru
Rusian menyusun rencana serangan baru pascagagal pembicaraan damai setelah gelaran Paskah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/240422-Volodymyr-Zelensky.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Moskow – Rusian menyusun rencana serangan baru pascagagal pembicaraan damai setelah gelaran Paskah.
Badan investigasi Rusia tengah menyelidiki laporan media yang menyebut kehadiran pasukan khusus militer Inggris, Special Air Service (SAS), di Ukraina.
Menurut laporan media Rusia, RIA Novosti, para ahli sabitase dari SAS telah dikerahkan ke Ukraina barat, sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (23/4/2022).
RIA Novosti mengutip seorang sumber keamanan Rusia yang mengatakan bahwa sekitar 20 anggota SAS telah dikirim ke wilayah Lviv.
SAS adalah pasukan elite militer Inggris yang dilatih untuk melakukan operasi khusus, penginderaan, dan kontra-terorisme.
Dalam sebuah pernyataan, Komite Investigasi Rusia mengatakan akan menindaklanjuti laporan dari media tersebut.
RIA Novosti menuding, pasukan SAS tersebut membantu dinas khusus Ukraina dalam mengatur sabotase di wilayah Ukraina.
Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris enggan memberikan komentar saat dimintai keterangan dari Reuters mengenai kehadiran pasukan SAS di Ukraina.
Sebelumnya, Inggris mengatakan telah mengirim pelatih militer ke Ukraina awal tahun ini untuk menginstruksikan pasukan lokal dalam menggunakan senjata anti-tank.
Pada 17 Februari, sepekan sebelum Rusia menginvasi Ukraina, Inggris menyatakan telah menarik semua pasukannya dari Ukraina, kecuali pasukan yang diperlukan untuk melindungi duta besarnya.
Tidak jelas langkah apa yang direncanakan Komite Investigasi Rusia untuk menanggapi keterlibatan SAS di Ukraina.
Namun, apabila pasukan dari negara-negara NATO benar-benar hadir di Ukraina, konsekuensinya akan serius.
Pasalnya, Rusia sebelumnya telah memperingatkan kepada Barat untuk tidak menghalangi invasinya ke Ukraina.
Ukraina Minta Persenjataan Berat dari AS saat Kunjungan Menlu dan Menhan
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, pihaknya berharap dapat mengamankan kesepakatan persenjataan berat dalam pembicaraanya dengan Menteri Luar Negeri AS dan Menteri Pertahanan AS di Kyiv pada Minggu (24/4/2022).
Zelensky mengatakan, persenjataan berat sangat penting bagi Ukraina untuk digunakan merebut kembali wilayah yang diduduki Rusia, sebagaimana dilansir Reuters.
Selain itu, dia juga mengancam akan menghentikan pembicaraan dengan Moskwa jika Rusia menghancurkan rakyatnya di Kota Mariupol yang terkepung.
Pembicaraan dengan Moskwa juga akan dihentikan jika Rusia menggelar referendum untuk menciptakan lebih banyak republik yang memisahkan diri di tanah Ukraina yang baru diduduki.
Zelensky berujar, Rusia bisa saja menggunakan senjata nuklir, tetapi dia tidak ingin mempercayai bahwa Mioskwa akan menggunakannya. Dia mengatakan bahwa sangat penting bagi Ukraina untuk mendapatkan lebih banyak senjata.
"Begitu kami memilikinya (lebih banyak senjata), segera setelah cukup, percayalah, kami akan segera merebut kembali wilayah ini atau itu, yang diduduki sementara," kata Zelensky kepada wartawan, Sabtu (23/4/2022).
Dia memanfaatkan konferensi persnya tersebut untuk mengumumkan kedatangan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin pada Minggu.
"Besok kami akan membahas daftar senjata yang penting bagi kami dan kecepatan pengiriman ini. Kami mengharapkan ini. Kami ingin memiliki senjata berat yang kuat," kata Zelensky.
Selanjutnya Zelensky turut mengatakan bahwa ada serangan rudal pada Sabtu yang telah menewaskan delapan orang di Kota Odesa, termasuk seorang anak berusia tiga bulan.
Dia mengatakan bahwa Sabtu adalah salah satu hari yang paling sulit bagi pasukan Ukraina yang terkepung di Kota Mariupol.
Zelensky menambahkan, Kyiv telah menawarkan Moskwa setiap kemungkinan kesepakatan pertukaran untuk pembebasan mereka. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rusia Selidiki Keberadaan Pasukan Khusus Inggris di Ukraina"