Harga Kedelai Gorontalo Naik

Breaking News: Harga Kedelai di Gorontalo Naik Hingga 50 Persen

Pedagang bernama Ismadi itu menuturkan, bahwa kenaikan terjadi dalam seminggu terakhir. Kenaikan ini pun ikut berimbas pada tempe yang ia jual. 

Penulis: Husnul Puhi |
TribunGOrontalo.com/Adhe
Kedelai siap diolah menjadi tempe dan tahu di ruma produksi Rina, Rabu (20/4/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Harga kedelai di Gorontalo terpantau naik per Rabu (20/4/2022). Seorang pemilik pabrik tahu-tempe di Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo membenarkan hal tersebut. 

Pedagang bernama Ismadi itu menuturkan, bahwa kenaikan terjadi dalam seminggu terakhir. Kenaikan ini pun ikut berimbas pada tempe yang ia jual. 

"Banyak konsumen yang mengeluh terkait kenaikan tempe di tempat kami, karena bahan pokok yang biasa kami beli itu sudah naik sejak seminggu yang lalu," ungkap Ismadi kepada TribunGorontalo.com siang tadi. 

Harga kedelai sebelumnya kata dia berada di angka Rp 8 ribu per kilogram(kg). Namun minggu ini terpantau ada di angka Rp 12 ribu per kg atau terjadi kenaikan sekitar 50 persen dari harga sebelumnya. 

Agar tak justru memberatkan konsumen, Ismadi tidak menaikan harga tempe-tahu yang ia jual. Hanya saja, ukurannya dipangkas hampir 35 persen. 

Saat ini memang harga tempe kata dia tetap dijaga di harga Rp 4 ribu per bungkus ukuran 20 cm dengan ketebalan sekitar 3 cm. 

Padahal awalnya, dengan harga seperti itu, konsumen mestinya mendapatkan tempe dengan panjang 28 cm. Artinya ia memangkas panjang tempe hingga 8 cm. 

“Kami terpaksa mengurangi ukuran tempe karena tak mau masyarakat kesulitan menjangkau harga jika naik,” tutup Ismadi pemilik rumah produksi Tahu Tempe Rina.

Mengutip dari Kompas.com, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Februari lalu melaporkan tingginya harga kedelai di dunia dipicu oleh adanya gangguan cuaca kering yang melanda Amerika Selatan selama 2 bulan terakhir. 

Gangguan tersebut kata dia mengganggu produksi kedelai di negara Brazil, Argentina, dan Paraguay.

Berdasarkan laporan USDA pada Februari 2022, produksi ketiga negara tersebut mengalami penurunan lebih dari 18 juta ton sejak Desember 2021.

 Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud menyampaikan, penurunan produksi tersebut berdampak pada harga kedelai di pasar global yang mengalami kenaikan secara signifikan. 

Harga Kedelai Tercatat pada minggu kedua Februari 2022 mencapai 15,77 dollar AS/bushels atau naik sebesar 18,9 persen dibanding minggu pertama Januari 2022 yang mencapai 13,26 dollar AS/bushels. 

Hal ini berdampak kepada harga kedelai impor di tingkat perajin menjadi berkisar sebesar Rp 11.631/kg.

"Kenaikan harga kedelai berpotensi mempengaruhi minat perajin untuk memproduksi tahu dan tempe sehingga berdampak pada kenaikan harga tahu dan tempe serta dapat mengganggu keberlangsungan usaha perajin tahu dan tempe," kata Muzdalifah dalam siaran pers, Minggu (27/2/2022). (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved