Rabu, 4 Maret 2026

Bentrokan Terkait Pembakaran Al Quran, Polisi Tangkap 26 Orang 

Dunia kembali dikejutkan dengan sikap kelompok sayap kanan untuk membakar Al Quran. Kepolisian Swedia telah menangkap 26 orang.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Bentrokan Terkait Pembakaran Al Quran, Polisi Tangkap 26 Orang 
Kompas.com
Pemimpin Partai Stram Kurs (Garis Keras) Rasmus Paludan 

TRIBUNGORONTALO.COM - Dunia kembali dikejutkan dengan sikap kelompok sayap kanan untuk membakar Al Quran. Kepolisian Swedia telah menangkap 26 orang setelah terjadi bentrokan pada akhir pekan lalu antara polisi dan pengunjuk rasa yang menentang rencana kelompok sayap kanan untuk membakar Al Quran.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin (18/4/2022), Polisi Swedia mengungkap, delapan orang ditangkap di Kota Norrkoping dan 18 orang ditahan di kota tetangga Linkoping.

Pada Minggu (17/4/2022), bentrokan pecah di kedua kota untuk kedua kalinya dalam empat hari atas unjuk rasa oleh kelompok garis keras anti-imigrasi dan anti-Islam, yang dipimpin oleh politisi Denmark-Swedia Rasmus Paludan.

Polisi mengatakan petugas melukai tiga orang setelah melepaskan tembakan peringatan selama bentrokan pada hari Minggu.

Paludan, seorang pengacara dan seorang YouTuber yang berniat untuk mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif Swedia pada September tetapi belum memiliki jumlah tanda tangan yang diperlukan untuk mengamankan pencalonannya, saat ini sedang dalam "tur" ke Swedia.

Pria berusia 40 tahun itu mengunjungi lingkungan dengan populasi Muslim yang besar di mana dia ingin membakar salinan kitab suci Al Quran saat umat Islam merayakan bulan suci Ramadhan.

Di Malmo, tempat dia membakar Al Quran pada Sabtu (16/4/2022), kebakaran terjadi di sebuah sekolah semalam, menurut para pejabat.

Demonstrasi Garis Keras telah memicu beberapa bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa kontra di seluruh negara Skandinavia dalam beberapa hari terakhir.

Pada Kamis (14/4/2022) dan Jumat (15/4/2022), sekitar 12 petugas polisi terluka dalam bentrokan tersebut.

Setelah serangkaian insiden, Kementerian Luar Negeri Irak mengatakan pada Minggu, bahwa mereka telah memanggil kuasa usaha Swedia di Baghdad.

Irak memperingatkan bahwa insiden pembakaran Al Quran itu bisa memiliki "dampak serius" pada hubungan antara Swedia dan Muslim secara umum, baik negara-negara Muslim dan Arab, serta komunitas Muslim di Eropa.

Indonesia sendiri telah mengeluarkan pernyataan mengecam aksi pembakaran Al Quran di Swedia oleh Rasmus Paludan.

Melalui situs webnya, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyebut, memanfaatkan argumentasi kebebasan berekspresi untuk melecehkan agama dan kepercayaan satu kelompok merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab dan terpuji.

“KBRI Stockholm telah meminta seluruh WNI dan diaspora Indonesia di Swedia untuk tidak terpancing,” tulis Kemenlu RI.

Kemenlu juga meminta WNI dan diaspora Indonesia untuk menghindari perbuatan yang berpotensi dapat melanggar hukum dan peraturan di Swedia.

Pemimpin Partai Sayap Kanan Swedia Bakar Al Quran

Pemimpin Partai Stram Kurs (Garis Keras) Rasmus Paludan membakar salinan Al Quran pada Kamis (14/4/2022) di daerah berpenduduk muslim di Swedia.

Dilansir dari Anadolu Agency, Stram Kurs adalah partai berhaluan sayap kanan garis keras di Swedia. Pada Kamis, Paludan yang didampingi polisi mendatangi ruang publik terbuka di Linkoping lalu meletakkan Al Quran.

Setelah itu, dia membakarnya sambil mengabaikan protes dari massa yang berjumlah sekitar 200 orang. Massa tidak terima dan mendesak polisi untuk tidak membiarkan Paludan melakukan tindakannya.

Setelah polisi mengabaikan seruan tersebut, insiden pecah dan kelompok massa tersebut menutup jalan dan melempari polisi dengan batu.

Semenetara itu, seorang politikus bernama Mikail Yuksel mengatakan bahwa provokasi Islamofobia dari politikus anti-Islam di bawah perlindungan polisi terus berlanjut di kota-kota di seluruh Swedia.

Yuksel mengatakan, Paludan secara khusus memilih lingkungan yang padat penduduk muslim dan tempat-tempat dekat masjid untuk melakukan provokasi.

“Di Swedia, yang membela hak asasi manusia, kebebasan beragama dan hati nurani dengan nada tertinggi, Al Quran dibakar di lingkungan muslim di bawah perlindungan polisi,” kata Yuksel.

Dia menambahkan bahwa polisi juga menyerukan umat Islam untuk menggunakan akal sehat karena kitab suci mereka dibakar tepat di depan mata mereka.

Tak lama setelah pembakaran Al Quran oleh Paludan, kerusuhan pecah di sejumlah wilayah di Swedia selatan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Swedia Tangkap 26 Orang Setelah Bentrokan Terkait Pembakaran Al Quran"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved