Riset Kompas: Masyarakat Risaukan Kondisi Jalan, Lapangan Pekerjaan hingga Sampah
Infrastruktur menjadi krusial di Indonesia. Misalnya akses dan kondisi jalan atau jembatan menjadi perhatian utama sebagian masyarakat.
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Infrastruktur menjadi krusial di Indonesia. Misalnya akses dan kondisi jalan atau jembatan menjadi perhatian utama sebagian masyarakat.
Hal tersebut berdasarkan hasil riset tim Research and Analytics KG Media dan Litbang Kompas berjudul "Aspirasi Generasi Muda" yang dikemukakan pada Jumat (08/04/2022). Survei ini mulai dilakukan pada 5 Januari 2022-9 Februari 2022.
Melibatkan 3.224 responden berusia 17-40 tahun yang tersebar di 80 daerah pemilihan (dapil). Mulai dari wilayah Bali Nusa, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Papua, dan Sumatera.
Pada poin tentang "Persoalan di Sekitar", terdapat 11 isu yang menjadi perhatian responden dalam riset tersebut. Mulai dari akses dan kondisi jalan atau jembatan, lapangan pekerjaan, mutu pelayanan publik, mutu pendidikan, pengelolaan sampah.
Lalu, fasilitas dan pelayanan kesehatan, penanggulangan Covid-19, kebersihan lingkungan, pengangguran, banjir, dan interaksi sosial.
Adapun dari hasil survei menunjukkan bahwa persoalan akses dan kondisi jalan atau jembatan memperoleh persentase terbanyak dari responden. Isu yang termasuk dalam variabel infrastruktur ini mendapat nilai 22 persen jika dikalkulasi dari total keseluruhan responden dan wilayah.
Kemudian disusul tentang persoalan lapangan pekerjaan dengan nilai 22 persen serta mutu pelayanan publik 11 persen. Sejumlah wilayah yang mayoritas responden merisaukan soal infrastruktur jalan dan jembatan yakni di Jawa dengan 22 persen dan Sumatera 25 persen.
Padahal kedua wilayah tersebut cenderung memiliki infrastruktur lebih baik dibandingkan provinsi lainnya. Sementara untuk Kalimantan, persoalan akses dan kondisi jalan atau jembatan serta lapangan pekerjaan menjadi perhatian utama, Namun nilainya sama-sama 20 persen.
Untuk Bali Nusa, mayoritas responden memperhatikan soal lapangan pekerjaan dengan 30 persen. Kemudian disusul akses dan kondisi jalan atau jembatan 18 persen.
Selanjutnya di Maluku Papua, akses dan kondisi jalan atau jembatan menjadi perhatian kedua responden setelah lapangan pekerjaan. Variabel infrastruktur tersebut memperoleh nilai 15 persen, sementara lapangan pekerjaan menjadi yang terbanyak dengan 17 persen.
Lalu untuk Sulawesi, dua persoalan teratas yang menjadi perhatian utama responden ialah lapangan pekerjaan 24 persen serta akses dan kondisi jalan atau jembatan 15 persen.
Kendati akses dan kondisi jalan atau jembatan mendapat perhatian lebih besar, tetapi persoalan lingkungan menjadi variabel yang paling dominan.
Karena dari 11 isu, ada tiga persoalan tentang lingkungan yang muncul. Yakni pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, dan banjir.
Kualitas Jalan Indonesia Kalah dengan Negara Tetangga
Kualitas jaringan jalan Indonesia masih belum bisa bersaing di kancah global. Sehingga diperlukan strategi khusus untuk menanganinya. Koordinator Monitoring dan Evaluasi Sistem Strategi Jalan dan Jembatan, Dirjen Bina Marga Fathurrahman mengatakan, saat ini total panjang jalan nasional 47.017 kilometer dengan kondisi kemantapan 91,2 persen.
Pembangunan infrastruktur jalan juga masih memiliki tantangan lain. Karena berdasarkan daya saing secara global, kualitas jaringan jalan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara tetangga.
Salah satu penyebabnya adalah sistem jaringan jalan di Indonesia yang dianggap belum efisien oleh World Economic Forum (WEF). "Setiap tahunnya kita ada backlog, maka perlu strategi untuk penanganan," ujar Fathur dikutip dari situs resmi Dirjen Bina Marga, Kamis (24/03/2022).
Menurut dia, setiap tahun memang anggaran Dirjen Bina Marga secara umum sangat besar, tetapi tidak sebanding dengan kebutuhan dan panjang jalan. "Belum lagi harus ditambah dengan pekerjaan diskresi maupun direktif. Maka harus ada strategi dan penentuan skala prioritas," imbuhnya.
Pada 2022, Dirjen Bina Marga memberikan perhatian lebih pada kegiatan-kegiatan prioritas untuk infrastruktur yang sudah terbangun melalui sistem Optimalisasi, Pemeliharaan, Operasi, dan Rehabilitasi (OPOR).
Sementara terkait pembangunan baru hanya untuk infrastruktur yang dapat selesai atau beroperasi tahun 2023/2024. Kemudian, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, tugas Dirjen Bina Marga adalah memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar. B
Untuk pelayanan dasar, diwujudkan dengan pengimplementasian jalan yang berkeselamatan. Sementara terkait mendukung pengembangan ekonomi, dilakukan pembangunan jalan untuk konektivitas multimoda.
Antara lain pembangunan jalan strategis, pembangunan jalan tol, hingga pembangunan jalan untuk mendukung kawasan prioritas. Kawasan prioritas yang dimaksud seperti Kawasan Industri (KI), Kawasan Ekonomi Khusus KEK), hingga Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
"Biasanya kalau pekerjaan kawasan oleh Kementerian PUPR, tidak dikerjakan oleh masing-masing unit teknis. Ini pekerjaan dengan sistem kolaborasi semua unit teknis yang ada di Kementerian PUPR," pungkasnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Riset Kompas: Mayoritas Masyarakat Risaukan Akses dan Kondisi Jalan atau Jembatan"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/080422-jembatan.jpg)