Demo Mahasiswa Gorontalo

Tak Ditemui Kapolda Gorontalo, Demonstran Janji Kembali dengan Massa yang Lebih Banyak

Sayangnya, aksi demonstrasi yang diikuti oleh sekitar 20-an mahasiswa itu, tidak diterima oleh Kapolda Gorontalo, Irjen Pol Akhmad Wiyagus. 

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/AgungPanto
Mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Gorontalo melakukan aksi demonstrasi siang tadi, Kamis (7/4/2022) di depan Polda Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Gorontalo melakukan aksi demonstrasi siang tadi, Kamis (7/4/2022) di depan Polda Gorontalo. 

Sayangnya, aksi demonstrasi yang diikuti oleh sekitar 20-an mahasiswa itu, tidak diterima oleh Kapolda Gorontalo, Irjen Pol Akhmad Wiyagus. 

Mereka pun berjanji akan kembali dengan jumlah yang lebih banyak. "Kami akan kembali, tunggu saja. Tentu dengan massa yang lebih banyak," ungkap koordinator aksi, Mahuddin Mahmud kepada TribunGorontalo.com. 

Baca juga: Didemo Mahasiswa, Polda Gorontalo Siagakan Mobil Barakuda

Diketahui aksi tersebut dimulai sejak pukul 14.40 Wita siang tadi dan berlangsung hingga pukul 16.00 Wita. Karena tidak ditemui kapolda, massa pun membubarkan diri 20 menit setelah aksi. 

Sebelumnya, massa menuntut untuk Akhmad Wiyagus untuk turun dari jabatannya sebagai Kapolda Gorontalo. Tuntutan itu bahkan ditulis menggunakan pilox merah di kain putih berukuran 2 meter x 1,5 meter. 

Baca juga: Ini Profil Irjen Pol Akhmad Wiyagus, Kapolda Gorontalo

Kain putih itu dibentangkan di depan Polda Gorontalo. Selain kain tersebut, massa juga membawa sejumlah papan dan baliho yang berisi enam tuntutan.

Berikut tuntutan massa aksi tersebut: 

  1. Mendesak Kapolri untuk copot Kapolda Gorontalo;
  2. Mendesak Kapolda Gorontalo mundur terhormat;
  3. Meminta pertanggungjawaban struktural Kapolda Gorontalo terhadap penembakan Pejabat Polda Gorontalo;
  4. Mempertanyakan tanggung jawab teritorial wilayah hukum Polda Gorontalo atas penangkapan komoditi Black Stone di Polda Surabaya dan di Pelabuhan Tanjung Priok;
  5. Penegakan hukum aktivitas alat berat tambang ilegal Pohuwato yang tidak mampu ditertibkan oleh Kapolda Gorontalo;
  6. Tidak mampu mencegah maraknya investasi bodong yang diduga banyak melibatkan oknum kepolisian;

Saat aksi berlangsung, pihak Polda Gorontalo menutup rapat gerbang masuk serta memagari sepanjang gerbang itu dengan Road Barrier. (*) 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved