Penanganan Sampah di Kota Gorontalo Dinilai Masih Gunakan Pola Lama

Pola tersebut kata dia menggunakan sistem kumpul, angkut, dan buang. Padahal, mestinya menggunakan pola sirkuler, yakni pilah, angkut, dan olah. 

Penulis: Risman Taharuddin | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/Risman
Tumpukan sampah di sudut Kota Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Agung Tri, Pengelola TPS3R Desa Bulila, Telaga, Kabupaten Gorontalo, menilai pengelolaan sampah di Kota Gorontalo masih menggunakan pola lama atau yang ia sebut pola linier. 

Pola tersebut kata dia menggunakan sistem kumpul, angkut, dan buang. Padahal, mestinya menggunakan pola sirkuler, yakni pilah, angkut, dan olah. 

“Sepertinya jika saya melihat DLH Kota Gorontalo belum mampu menangani problem sampah atau hanya sekian persen yang bisa diatasi, kemungkinan besar mereka masih menggunakan pola linear.” jelasnya.

Karena itu ia menyarankan untuk DLH Kota Gorontalo mulai mengubah pola pikir masyarakat. Jadi yang biasanya menggunakan pola linier, cobalah untuk mulai menggunakan pola sirkuler. 

Pola sirkuler dilakukan dengan system pemilahan sampah dari sumbernya, termasuk pengangkutan sampahnya harus terpisah serta diolah, diselesaikan dengan karakteristik sampahnya masing-masing. 

Kata Agung, jika pemilahan seperti itu, maka sampah organik bisa jadi kompos, dan didaur ulang atau bisa disedekahkan ke pemulung untuk dijual kembali. Misalkan sampah plastik, kaca, dan logam.

Ia mencontohkan yang ia lakukan di Desa Bulila. Kata Agung, desa tersebut menjadi pilot project penanganan sampah di Kabupaten Gorontalo.

Pengelolaan sampah di desa itu katanya, menggunakan sistem pilah sampah berdasarkan karakteristiknya. 

Cara pengelolaan sampah sesuai karakteristik itu memiliki cara yang berbeda. Misalnya sampah plastik film dan sampah plastik bakar tentu berbeda penanganan.

“Penanganan sampah di Desa Bulilah itu penyelesaiannya di desa ini tidak lagi masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebab semua kita pilah, organiknya kita jadikan kompos dan untuk pelastiknya kita sedekahkan ke pemulung untuk dijual kembali,” jelas Agung.

Sebelumnya, DLH Kota Gorontalo mengeluhkan ketidakmampuan pihaknya dalam mengelola sampah. Sejumlah kendalanya misalnya armada yang tidak mencukupi dan sebagian rusak. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved