Biden Peringatkan Xi soal Tekanan China terhadap Taiwan

Eskalasi politik di Laut China Selatan terus meningkat. Amerika Serikat (AS) mengatakan, tekanan diplomatik dan militer China.

Editor: Lodie Tombeg
kompas.com
Presiden AS Joe Biden (kanan) dan Presiden China Xi Jinping. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Eskalasi politik di Laut China Selatan terus meningkat. Amerika Serikat (AS) mengatakan, tekanan diplomatik dan militer China di Taiwan merupakan ancaman bagi semua negara demokrasi.

Oleh karenanya, Direktur Institut Amerika di Taiwan Sandra Oudkirk mengatakan bahwa Washington berkomitmen untuk membantu Taipei mempertahankan diri.

Berbicara di acara Kamar Dagang Amerika di Taiwan pada Rabu (30/3/2022) malam, Oudkirk mengatakan bahwa mengelola perbedaan AS dengan China menghadapi tantangan yang berbeda.

Reuters melaporkan, acara tersebut juga dihadiri oleh Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

"Perilaku China yang semakin agresif tidak terlihat lebih jelas daripada dalam kaitannya dengan Taiwan, di mana China terus melakukan tekanan militer, diplomatik, dan ekonomi," kata Oudkirk dalam sambutan yang dirilis oleh kantornya pada Kamis (31/3/2022).

Dia menambahkan, aktivitas militer provokatif China di dekat Taiwan membuat tidak stabil, berisiko salah perhitungan, dan merusak perdamaian dan stabilitas regional.

“Upaya berkelanjutan oleh Beijing untuk mencekik ruang internasional Taiwan, menekan teman-temannya, dan ikut campur dalam sistem demokrasi Taiwan merupakan ancaman bagi semua negara demokrasi,” lanjut Oudkirk. 

China selalu mengeklaim Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai wilayahnya sendiri.

Selama dua tahun terakhir, “Negeri Panda” juga telah meningkatkan tekanan militer dan diplomatik untuk menegaskan klaim tersebut.

Meski tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taipei, AS adalah pendukung internasional terpenting dan pemasok senjata Taiwan.

Oudkirk menambahkan, untuk memperkuat peran Taiwan sebagai mitra keamanan regional, AS tetap berkomitmen untuk membantu Taipei mempertahankan kemampuannya untuk mencegah agresi dan mempertahankan diri.

“Kami memiliki kepentingan bersama dan tetap dalam perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Kami menganggap ini penting bagi keamanan dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik yang lebih luas dan sangat prihatin dengan upaya China yang sedang berlangsung untuk merusak stabilitas itu,” ujar Oudkirik.

AS juga telah bekerja sama dengan Taiwan dalam rantai pasokan.

Taipei juga merupakan pihak yang strategis karena menjadi produsen utama semikonduktor dunia.

Oudkirk mengatakan, kedua belah pihak sedang mengerjakan diversifikasi rantai pasokan dan untuk memfasilitasi investasi di sektor-sektor seperti chip, kendaraan listrik, keamanan siber, 5G, dan energi terbarukan.

UPACARA MILITER - Presiden China, Xi Jinping, saat menghadiri latihan militer di Laut China Selatan, 2018 silam. Saat ini China mengerahkan alat canggih untuk memantau aktivitas di Laut China Selatan.
UPACARA MILITER - Presiden China, Xi Jinping, saat menghadiri latihan militer di Laut China Selatan, 2018 silam. Saat ini China mengerahkan alat canggih untuk memantau aktivitas di Laut China Selatan. (Dokumen Kementerian Pertahanan China)

Xi Peringatkan Biden

Presiden China Xi Jinping mengatakan kepada Presiden AS Joe Biden bahwa masalah Taiwan perlu ditangani dengan benar untuk menghindari dampak negatif pada hubungan China-AS.

Beijing mengatakan bahwa Taiwan adalah masalah paling sensitif dan penting dalam hubungannya dengan Washington, sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (19/3/2022).

China selalu menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri untuk ditarik kembali, dengan paksa jika perlu.

Di sisi lain, Washington tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taipei tetapi merupakan pendukung internasional terpenting dan pemasok senjata utama untuk Taiwan.

“Beberapa individu di AS mengirimkan sinyal yang salah kepada pasukan pro-kemerdekaan di Taiwan, dan itu sangat berbahaya,” kata Xi kepada Biden melalui panggilan video.

“Jika masalah Taiwan tidak ditangani dengan baik, maka akan berdampak subversif pada hubungan kedua negara,” tutur Xi. “(Kami) berharap pihak AS akan memberikan perhatian yang memadai (terhadap masalah ini),” ujar Xi kepada Biden.

Xi juga mengatakan kepada Biden bahwa perang di Ukraina harus diakhiri sesegera mungkin, menurut media pemerintah China.

Dia menambahkan, semua pihak harus bersama-sama mendukung dialog Rusia-Ukraina sementara AS dan NATO juga harus melakukan pembicaraan dengan Rusia untuk memecahkan inti krisis Ukraina.

Pada Jumat, kapal induk China, Shandong, berlayar melalui Selat Taiwan dan dibayangi oleh kapal perusak AS pada Jumat (18/3/2022).

Berlayarnya Shandong di Selat Taiwan tersebut terjadi beberapa Jam sebelum Xi dan Biden berbicara melalui panggilan video.

Sebuah pernyataan dari Gedung Putih mengatakan, Biden menegaskan kembali dalam panggilan telepon dengan Xi bahwa kebijakan AS di Taiwan tidak berubah. 

Gedung Putih juga menekankan bahwa Washington terus menentang setiap perubahan sepihak terhadap status quo.

Selama dua tahun terakhir, China telah meningkatkan aktivitas militernya di dekat Taiwan untuk menegaskan klaim kedaulatannya.

Kementerian Luar Negeri Taiwan mengucapkan terima kasih kepada Biden atas penekanannya terhadap menjaga status quo di Selat Taiwan, serta dukungan untuk keamanan Taiwan.

Kementerian Luar Negeri Taiwan juga meminta China untuk mengambil tindakan nyata dan mengutuk invasi Rusia ke Ukraina.

Taiwan, yang menolak klaim kedaulatan China, mengikuti langkah Barat atas invasi Rusia ke Ukraina dan mengirim bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Ukraina. (*)


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "AS: Tekanan China terhadap Taiwan adalah Ancaman bagi Negara Demokrasi"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved