Konflik Rusia Vs Ukraina
Cerita Pengungsi Ukraina Menyelamatkan Diri dari Invasi Rusia
Perang hanya melahirkan kesengsaraan dan tragedi kemanusiaan. Invasi Rusia ke Ukraina menimbulkan gelombang pengungsian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/270222-Kiev-Ukraina.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Medyka - Perang hanya melahirkan kesengsaraan dan tragedi kemanusiaan. Invasi Rusia ke Ukraina menimbulkan gelombang pengungsian besar-besaran hingga penderitaan warga sipildi tengah upaya menyelamatkan diri.
Sinar hangat matahari pagi menghilangkan tanda-tanda terakhir embun beku yang terlihat dari mobil-mobil yang diparkir dalam barisan tak berujung di sepanjang jalan.
Medyka, perbatasan utama antara Polandia dan Ukraina 'secara perlahan pun terbangun', begitu pula puluhan pria dan wanita yang menghabiskan malam di tempat parkir, menunggu tibanya orang yang mereka cintai.
Dikutip dari laman Al Jazeera, Minggu (27/2/2022), Kementerian Dalam Negeri Polandia pada Sabtu kemarin mengatakan bahwa sejak awal invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari lalu, lebih dari 115.000 pengungsi telah menyeberang ke Polandia.
"Siapapun dari Ukraina diizinkan masuk, bahkan mereka yang tidak memegang paspor yang sah," kata pejabat Polandia.
Sementara itu Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengatakan sebanyak lebih dari 120.000 pengungsi Ukraina telah meninggalkan negara itu sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Kamis lalu.
Namun bagi sebagian besar pengungsi Ukraina, butuh waktu berhari-hari untuk melarikan diri dari perang.
Helena, wanita berusia 49 tahun yang bermukim di Drohobych, Ukraina barat, terlihat sedang menyeruput teh dan menyantap sandwich yang ia terima dari sukarelawan.
Baca juga: Militer Ukraina Tahan Laju Pasukan Rusia, Begini Analisis Pentagon
Ia mengaku memiliki keluarga di Poznan, Polandia, sehingga dirinya menyadari bahwa perjalanan yang sulit ini pun akan segera berakhir.
Namun wajahnya menunjukkan kesedihan karena harus mengalami peristiwa ini. Mirisnya, butuh waktu 24 jam baginya untuk menyeberangi perbatasan dan tiba di tempat yang aman. "Itu seperti di neraka," kata Helena, ssebelum akhirnya menangis.
Lalu bagi Denis, pria berusia 30 tahun dari Chernivtsi, Ukraina, yang bekerja di lokasi konstruksi di Polandia, malam itu juga merupakan malam yang sulit.
Ia tiba di Medyka pada Kamis lalu untuk bertemu dengan istri dan anak-anaknya yang rencananya akan datang dari Ukraina. Namun setelah semalaman menunggu, mereka belum juga terlihat.
"Mereka telah berada di perbatasan selama lebih dari 24 jam. Awalnya, mereka ingin menyeberang dengan berjalan kaki namun sulit, sehingga akhirnya mereka menemukan bus, setidaknya cuacanya tidak sedingin di luar. Namun selama 5 jam terakhir, penjaga perbatasan tidak membiarkan siapapun lewat, tidak jelas alasannya," kata Denis.
Sementara istri dan anak-anak Denis sedang dalam perjalanan untuk bersatu kembali dengannya, ibunya memutuskan untuk menyeberang kembali ke Ukraina.
Ia tidak ingin jauh dari suami dan dua putra lainnya, yang mungkin akan segera menerima panggilan untuk bela negara.
"Ayah saya bertempur di Afghanistan dan ia tahu seperti apa perang itu. Ia siap mengorbankan hidupnya untuk Uni Soviet. Sekarang ia siap mengorbankan hidupnya untuk Ukraina melawan kekuatan baru Rusia. Ini sebuah paradoks, tapi semua orang bisa melihat apa yang dilakukan Rusia. Mereka merebut Krimea, Donbass, sekarang mereka menginginkan Kharkiv," kata Denis.
Denis kemudian menyampaikan bahwa kemungkinan ia juga akan bergabung dalam pertarungan.Namun pertama-tama, dirinya ingin memastikan istri dan anak-anaknya aman terlebih dahulu.
Dalam satu atau dua minggu ke depan, kata dia, jika musuh semakin mendekat ke kampung halamannya di Chernivtsi, ia harus mengangkat senjata.