Kasus Anak Terpapar Omicron Naik 300 Persen, Begini Penjelasan Ketum Dokter Anak
Anak masuk kelompok rentan terkena Covid-19 varian Omicron. Hal ini divalidasi oleh Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/170122-Vaksin-Anak-Gorontalo.jpg)
“Kita enggak tahu pandemi ini kapan berakhir, kalau pendidikan anak jadi jelek karena pandemi, ya, jangan sampai,” ujar Rebriariana. “Hanya buat yang SD edukasinya, prokesnya itu agak sulit, lalu imunisasinya belum maksimal. Jadi Pembelajaran Jarak Jauh lebih tepat untuk level anak SD,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rebriarina memberi evaluasi agar tiap sekolah difasilitasi dengan satuan tugas (satgas) Covid-19 dan menyertakan perwakilan dari tiap kelas di tiap sekolah untuk mencegah klaster.
“Sebaiknya ada satgas Covid-19 sendiri, paling tidak disertai dokter atau pakar kesehatan masyarakat dari dinas kesehatan untuk mengawal Covid-19 di tingkat sekolahan tersebut,” kata Rebriariana.
“Satgas ini juga menyertakan perwakilan masing-masing kelas, jadi anak ini juga disertakan, dengan tujuan anak dilibatkan aktif untuk mencegah penularan Covid-19. Misalnya jika ada ada teman yang tidak pakai masker, ada “polisi” anak yang mengingatkan,” sambungnya. Rebriana juga menambahkan pentingnya masing-masing anak untuk saling mengingatkan jika ada temannya yang sakit untuk tidak masuk sekolah.
“Kemudian jika ada yang tampak pilek atau batuk, anak-anak saling mengingatkan anak yang sakit tersebut supaya ijin tidak masuk terlebih dahulu. Anak-anak yang sudah besar bisa diedukasi, karena pandemi entah kapan berakhir dan kita tidak ingin kualitas pendidikan anak kita terpukul,” tutupnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Anak Jadi Kelompok Rentan dalam Gelombang Covid-19 Varian Omicron"