Rabu, 4 Maret 2026

Intip Aktivitas Lapas Kelas II A Gorontalo, Darwis Bikin Kelapa Bonsai dengan Akuarium Mini

Narapidana (Napi) di Lapas Kelas II A Gorontalo kini mampu melakukan hal-hal kreatif. Seperti yang dilakukan oleh M Darwis.

Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Intip Aktivitas Lapas Kelas II A Gorontalo, Darwis Bikin Kelapa Bonsai dengan Akuarium Mini
Tribun Gorontalo
Napi sibuk membuat kelapa menjadi bonsai di Lapas Kelas II A Kemenkumham Gorontalo, Senin (14/2/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Narapidana (Napi) di Lapas Kelas II A Gorontalo kini mampu melakukan hal-hal kreatif. Seperti yang dilakukan oleh M Darwis, Napi yang kini mampu memproduksi bonsai kelapa.

TribunGorontalo.com menemui Darwis di tengah kesibukannya membuat kelapa menjadi bonsai di Lapas Kelas II A Kemenkumham Gorontalo, Senin (14/2/2022) . Pagi itu, Darwis tampak bersama dua kawannya sibuk membersihkan kelapa dari sabutnya. Ia menggunakan kertas bertekstur kasar atau disebut kertas pasir.

Dalam membuat kelapa bonsai, pria 36 tahun itu sengaja memilih kelapa hibrida, alasannya karena selain jenis kelapa itu dibudidayakan di dalam lapas, juga karena ukurannya yang cenderung kecil. Pemilihan kelapa kecil kata Darwis, agar mudah dikombinasikan dengan aquarium mini.

Produk Darwis memang jika dilihat, tidak hanya sekadar kelapa bonsai, ia berinovasi dengan menggabungkan antara akuarium mini dan bonsai. Proses pembuatannya, kata dia, memakan waktu berhari-hari, terlebih dalam menyiapkan kelapa bonsai.

Prosesnya dengan memilah dan memilih kelapa dari segi bentuk dan dan ukuran. Lalu, kelapa itu akan direndam di air hingga bertunas. Melewati proses ini, kelapa lalu dibersihkan menggunakan kertas pasir, lalu dilem dasar batoknya.

140222-Bonsai
Napi membuat kelapa menjadi bonsai di Lapas Kelas II A Kemenkumham Gorontalo, Senin (14/2/2022) .

“Alasan dilem agar batok kelapa ini tidak pecah,” ungkap Darwis menjelaskan alasan menggunakan lem.

Proses pengeleman ini, katanya, hanya memakan waktu beberapa jam saja. Setelah itu, kelapa yang sudah melalui tahap pengeleman, akan dicat menggunakan cat pernis kayu dan dikeringkan, agar tampak mengkilap.

Jika bonsai telah siap, maka proses selanjutnya adalah menyiapkan akuarium menggunakan botol bekas. Biasanya botol yang dipilih adalah botol berukuran satu hingga dua liter. Botol ini akan dibuatkan dudukan dari batok kelapa ataupun dari karet hitam bekas kasur.

Bagian tutup botol sebagai dudukan, sementara bagian pantat botol nantinya akan menjadi bagian atas. Di bagian atas inilah, bonsai kelapa diletakan menyerupai mahkota.

“Akar-akar kelapa nantinya akan turun ke bawah air akuarium ini. Fungsinya sebagai oksigen untuk ikan-ikan tersebut,” ungkap Darwis.

Kerajinan Darwis ini kini dijual dengan harga kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta. Karena proses pemasaran yang terbatas, kata Darwis sejauh ini produknya baru menyasar para napi ataupun berharap dari pembeli di pameran-pameran yang digelar oleh Kemenkumham Gorontalo.

Lapas Kelas IIA Gorontalo sendiri saat ini tengah menjalankan program pembinaan kemandirian pagi para napi. Tidak hanya mendorong napi untuk mampu kreatif seperti Darwis, namun sejumlah fasilitas juga disiapkan. Saat ini pun, ada yang menjadi tukang pangkas rambut atau barbershop, tukang reparasi sofa, barista, penjahit, serta pengrajin sablon dan desain grafis.

Kasi Kegiatan Kerja Lapas Kelas II A Gorontalo, Sabarudin mengungkapkan, bahwa saat ini pihaknya tengah menyiapkan galeri kemasyarakatan. Nantinya, seluruh produk kerajinan napi akan ditempatkan di galeri tersebut.

“Harapan kami, setelah mereka bebas nanti, mereka bisa membuka peluang kerja sekaligus tidak mengulang perbuatan yang membuat mereka masuk ke lapas ini,” ungkapnya. (wan)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved