Bandingkan Anies dan Ahok Kelola Jakarta: Begini Kata Sekjen PDIP
Politik di Ibu Kota, Jakarta semakin memanas. Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto berkali-kali melontarkan 'serangan' ke Gubernur DKI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/290122-Anies-Ahok.jpg)
"Ada juga Anas (Abdullah Azwar Anas) dari Banyuwangi (mantan Bupati Banyuwangi), Hendi (Hendrar Prihadi) dari Semarang (Wali Kota Semarang), kemudian pak Kanang (Budi Kanang Sulistyono) dari Kabupaten Ngawi (eks Bupati Ngawi)," urai Hasto saat ditemui di Sekolah Partai PDI-P, Jumat (7/1/2022).
Selain nama-nama itu, Hasto menyebut sosok Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Sosial Tri Rismaharini yang pernah 2 periode menjadi Wali Kota Surabaya.
"Bu Risma dalam kepemimpinan selama 2 periode di Kota Surabaya mampu menunjukkan perubahan yang signifikan. Perubahan secara kultur sehingga masyarakat Surabaya kita lihat sekarang merawat lingkungan dengan baik," ucap Hasto.
Sementara untuk Gibran, Hasto menyebut putra sulung Jokowi tersebut masih harus membuktikan kepemimpinan yang ideologis dan mengedepankan kultur Nusantara agar bisa dipertimbangkan PDI-P sebagai cagub DKI.
Pemimpin santai Saat berbicara soal pembangunan DKI Jakarta, Hasto Kristiyanto menilai Anies hanya fokus menggarap hal-hal yang ada di jantung ibu kota.
Menurut dia, Anies lebih memprioritaskan pembangunan di pusat kota seperti Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MH Thamrin. Anies pun disebut tak mau melihat kondisi pinggiran Jakarta.
"Hal-hal yang berada di pinggiran Jakarta itu tidak mendapatkan sentuhan yang membawa perubahan secara sistemik bagi kemajuan daerah," kata Hasto saat menghadiri kegiatan penanaman pohon di Danau Kampung Bintaro, Jakarta, Sabtu (29/1/2022). Hasto kembali membandingkan Anies dengan Jokowi, Ahok, dan Djarot.
Baca juga: Risma Berpeluang Pimpin IKN Baru, Ahok dan Bambang Brodjonegoro Diunggulkan
Ia mengatakan, Anies tak mau melanjutkan kebijakan-kebijakan unggulan ketiga pendahulunya itu, padahal program-program yang dimaksud punya banyak kebaikan untuk Jakarta. DKI Contohnya seperti pembangunan taman, perawatan danau, hingga pemberian sungai.
Hasto juga mengkritik Anies tak lagi memperhatikan tata kota dengan baik, seperti yang terlihat di kawasan Tanah Abang. Anies dinilai luput dalam berbagai aspek. Dampaknya, banyak kemajuan di era Jokowi, Ahok, dan Djarot kini terabaikan.
"Dalam membersihkan sungai yang dahulu dipelopori Pak Jokowi dan Pak Ahok yang secara spektakuler yang mampu mengubah Waduk Ria Rio, sekarang bisa lihat di sana (seperti apa)," tukasnya.
Hasto juga menyoroti keberadaan ekskavator milik Pemprov DKI Jakarta yang jarang beroperasi untuk mengeruk aliran air di Jakarta.
Padahal ekskavator di era Jokowi dan Ahok, kata dia, semua berjalan. Ini artinya program pembersihan bekerja dengan optimal untuk memastikan aliran di Jakarta berjalan dengan baik. "Masyarakat harus menjadi pengawas agar program bisa dijalankan sebaiknya," sebut Hasto.
Hasto lalu menyinggung bagaimana Jokowi, Ahok, dan Djarot berhasil mengubah kultur organisasi di Pemprov DKI sehingga birokrasi yang ada dapat berjalan satu napas dari tingkat gubernur hingga petugas di lapangan.
Ia lalu menyindir Anies yang bekerja santai, dan hanya mengandalkan bawahannya untuk bekerja. “Jadi tidak bisa pemimpin santai, kerjanya meminta yang di bawah bekerja,” tutup Hasto. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Serangan Sekjen PDI-P ke Anies: Bandingkan dengan Ahok Hingga Sebut Mintanya Bawahan yang Kerja"