Jumat, 6 Maret 2026

Cuitan Ferdinand Hutahaean

Cuitan SARA di Twitter, Ismail Fahmi: Banyak Orang Tak Tahu Etika di Medsos

Postingan yang menyinggung suku agama ras dan antargolongan atau SARA di media sosial Twitter hingga kini masih menjadi masalah serius di Indonesia.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Cuitan SARA di Twitter, Ismail Fahmi: Banyak Orang Tak Tahu Etika di Medsos
Kompas.com
PAKAR - Pakar analitika media sosial dan digital dari Universitas Islam Indonesia (UII), Ismail Fahmi, seusai diskusi bertajuk Membaca Strategi Pelemahan KPK: Siapa yang Bermain? di ITS Tower, Jakarta, Rabu (18/9/2019). 

TRIBUNGORONTALO.COM - Postingan yang menyinggung suku agama ras dan antargolongan atau SARA di media sosial Twitter hingga kini masih menjadi masalah serius di Indonesia.

Meskipun telah banyak yang berakhir dipidana, namun tak sedikit publik figur justru kerap tersandung kasus yang berkaitan dengan SARA.

Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu, Ferdinand Hutahaean dilaporkan ke pihak yang berwajib akibat postingannya di akun Twitter pribadi dinilai menyinggung perasaan umat muslim.

Dalam postingannya, politisi Demokrat ini menuliskan, “Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela.” Ferdinand yang diketahui beragama non-muslim ini lantas mendapat banyak kecaman dari kaum muslimin di jagad Twitter. Bahkan namanya sempat trending, Rabu (5/1/2022).

Setelah dimintai keterangan, Ferdinand mengakui bahwa dirinya adalah seorang mualaf. Pegiat media sosial itu dilaporkan akan segera dimintai keterangan oleh Bareskrim pada hari ini, Senin (10/1/2022).

Dalam menanggapi kasus ini, KompasTV melakukan wawancara langsung dengan beberapa pakar, termasuk analis media sosial drone emprit, Ismail Fahmi, Senin (10/1/2022). Ismail menuturkan bahwa ada dua hal fundamental ketika sebuah postingan itu sudah terlanjur viral, ini harus ditindak dengan cepat.

Menurutnya tindakan yang dilakukan polisi itu sudah sangat tepat sehingga apa yang terjadi bisa memberikan contoh konkrit kepada masyarakat.

“Ini sudah menjadi isu nasional, ini bisa dimaanfaatkan sebagai proses edukasi sebetulnya. Dan bisa mengingatkan ke masyarakat, ini loh contohnya. Dan postingan yang seperti ini bisa berujung kepada hukum misalnya. Itu salahsatu.

Dan penindakan yang tepat dari polisi dan itu bisa meredam. Dan menurut data saya sendiri, ketika Polri sudah melakukan memeriksanya maka trend ini bisa berkurang disitu. Dan apabila dibiarkan ini justru makin tinggi” Ujar Ismail.

Selanjutnya, Ismail menambahkanbahwa edukasi tentang etika di media sosial itu sangat penting untuk dilakukan. Dimana masyarakat saat ini sangat rentan dalam pelanggaran di sosial media.

Sehingga apa yang terjadi pada mantan politisi Partai Demokrat itu tidak terjadi lagi di masyarakat. “Edukasi itu sangat penting, supaya masyarakat itu tahu mulai dari play group, sepertinya play group (SD, SMP, SMA bahkan kuliah), atau yang kita tahu ada yang namanya netizen. Kadang biar mahasiswa pun gak tahu bahwa ada etika dalam internet.”

Menurut Ismail, ketik seseorang melakukan posting, mereka perlu menyadari bahwa di ujung sana itu adalah manusia.

Setelahnya, seseorang itu diharapkan bisa menampilkan diri sebagai orang yang positif. Sebab, dalam situasi seperti ini banyak orang yang tidak mengetahui bahwa ini etika yang mendasar.

Baca juga: Ferdinand: Saya Akan Klarifikasi dan Menjelaskan Kekeliruan yang Terjadi

“Nah kalau itu diajarkan secara struktural dimulai dari sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA seterusnya sampai mahasiswa, ini saya harapkan bisa meredam. Masyarakat jadi tahu bagaimana bertindak di media sosial. Karena tidak ada edukasi ini, artinya merasa bebas saja. Padahal kalau diibaratkan mobil, itu setirnya di situ. Dan ternyata dari kita banyak yang tahu bagaimana mengendarai diri di media sosial atau di internet,” lanjutnya.

Selain itu, Ismail mengatakan bahwa kadangkala banyak orang yang tidak tahu di internet itu mana yang sifatnya privat/privasi dan mana yang sifatnya publik. Pada dasarnya banyak orang yang tidak mampu memilah postingan mana yang wajib diprivat atau menjadi konsumsi diri sendiri dimana hanya kita sendiri yang bisa melihat atau dengan saudara atau teman. Dan mana yang perlu dipublish atau pada akhirnya menjadi konsumsi publik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved