Muktamar NU
Ketum PBNU Perlu Kuatkan Institusi hingga Pembenahan SDM
Tiga tugas penting Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Mulai menguatkan institusi.
Penulis: Lodie Tombeg | Editor: Lodie Tombeg
TRIBUNGORONTALO.COM - Tiga tugas penting Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Mulai menguatkan institusi hingga pembenahan sumber daya manusia (SDM).
Dalam memimpin roda organisasi hingga 2026 ke depan, tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), KH Maman Imanulhaq menyebut Gus Yahya harus menjadi garda depan dalam penguatan institusi NU. Di bawah pimpinan Gus Yahya ula, ke depan NU juga harus menjadi lokomotif untuk melakukan transformasi digital.
Tugas lainnya yang tidak kalah penting yakni penguatan dan pembenahan manajemen sumber daya manusia (SDM). Baik di dalam warga Nahdliyin maupun kepada publik pada umumnya.
"NU tidak hanya sekadar hanya melakukan transformasi digital, tetapi lebih dari itu yakni melakukan penguatan SDM untuk menjawab tantangan zaman," kata Kiai Maman dikutip dari Tribunnews.com, Sabtu (25/12/2021).
Hal tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo yakni tentang tantangan NU ke depan.
Menurut Kiai Maman, Gus Yahya juga harus mampu menafsirkan serta menjawab harapan Jokowi, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun dalam konteks kebudayaan.
Baca juga: Keluarga Besar HMI: Gus Yahya Bagian dari HMI
Melek Digital
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin masyarakat Indonesia, khususnya para santri dan ulama melek teknologi di era digital seperti sekarang ini.
Hal tersebut disampaikan Jokowi dalam pembukaan Muktamar NU ke-34 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Daarussa'adah, Seputih Jaya, Lampung Tengah, Rabu (22/12/2021).
"Ini memang kerja besar, tetapi saya melihat potensi santri dan ulama itu ada, tinggal merajutnya."
"Berkaitan dengan teknologi, saya melihat (santri-santri) yang pintar-pintar lulusan teknologi ini sangat banyak sekali." "Karena apapun ke depan yang namanya teknologi itu, mau tidak mau kita harus masuk."
"Untuk itu kita ingin teknologi ini maslahat bagi umat, bagi masyarakat, maslahat bagi rakyat."
"Jangan sampai ini malah merusak dan membuat hal-hal yang negatif bagi rakyat kita," kata Jokowi yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (22/12/2021).
Sehingga, perlu adanya sebuah upaya bersama untuk membangun peradaban dunia.
Lalu, bagaimana cara memengaruhi kebijakan-kebijakan dunia (untuk dapat) berpihak pada negara-negara miskin, negara berkembang, negara kecil atau negara-negara kepulauan.
"Utamanya dalam hal digitalisasi, perubahan iklim dan ekonomi hijau."
