Muktamar NU
Said Aqil: Nasionalisme dan Agama Harus Saling Menguatkan
Kaum nasionalisme dan agama harus saling menguatkan untuk membangun Indonesia.
Penulis: Lodie Tombeg | Editor: Lodie Tombeg
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Said-Aqil-1.jpg)
Dengan semangat kolaborasi, NU yakin keresahan-keresahan problem milenial dapat teratasi. "Problem-problem lama bawaaan abad lalu belum seluruhnya tertangani."
"Sedangkan masalah-masalah baru datang bertubi-tubi, masalah yang berkisar pada Perubahan Iklim, kesenjangan ekonomi, bio-teknologi, polarisasi percakapan dan identitas, radikalisme-terorisme, dan krisis energi."
"Sementara itu, laju teknologi bergerak secara eksponensial menawarkan kemudahan-kemudahan praktis dengan risiko-risiko yang tak sepenuhnya bisa diperkirakan."
"Daftar panjang tersebut bisa diringkas sebagai keresahan-keresahan milenial."
"Keresahan yang penanganannya jelas meniscayakan kolaborasi bersama warga dunia, bukan
hanya warga negara."
"Di situ lah, kita mengapresiasi inisiatif pemerintah Indonesia yang mencanangkan Visi Indonesia 2045," terang Said Aqil.
Pada masa depan nanti, kata Said Aqil, Indonesia betul-betul berkontribusi pada peradaban dunia.
Dengan keragaman dan kemajemukan bangsa Indonesia, ormas-ormas keagamaan berperan sebagai semen perekat sosial. Kemajemukan ini disatukan di bawah tenda besar Pancasila dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Melalui kekayaan budaya Nusantara, Indonesia membuka diri pada interaksi dan kolaborasi dengan kebudayaan global asing.
Namun juga tetap berpegang teguh pada kebudayaan lokal menjadi identitas, nafas, dan aktualisasi nilai-nilai bangsa. Sementara melalui kekayaan materialnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa.
"Daratannya dipenuhi hutan-hutan penopang paru-paru dunia, di bawahnya terkandung kekayaan mineral yang banyak."
"Lautannya mengandung potensi ekonomi biru tiada tara, di bawahnya tersimpan bukan hanya ikan, tetapi cadangan migas dan mineral yang berlimpah," kata Said Aqil.
Dan selanjutnya adalah kekayaan sumber daya politik yang demokrasi. Untuk diketahui, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga dan negeri Muslim terbesar di dunia.
Kendati demikian, kata Said Aqil, Indonesia bukan negara penganut satu kepercayaan atau agama. Tetapi Indonesia adalah negara Pancasila yang menaungi semua pemeluk agama.
Baca juga: Calon Kuat Ketum PBNU Mengerucut ke Dua Nama, Mantan Wantimpres dan Komut PT KAI
"(Dimana demokrasi di Indonesia) didasari kemaslahatan bersama, kemauan untuk mendengar, kejernihan akal-budi, dan kelapangan hati untuk menerima perbedaan, maka bangsa besar ini akan semakin terhormat dan bermartabat."