Minggu, 15 Maret 2026

Kultum Milenial

Kultum Milenial Mahasiswa IAIN Gorontalo, Anang Wahyu: Antara Cinta dan Kemunafikan di Ramadan 

Pada saat ini kita berada di bulan yang sangat mulia, bulan yang selalu dirindukan

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
  • Bulan Ramadan diibaratkan api yang membakar karat pada besi, membersihkan dosa-dosa yang menempel selama sebelas bulan
  • Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap amal bergantung pada niat
  • Ulama seperti Ibnu Athaillah dan Habib Umar bin Hafidz menekankan bahwa keutamaan Ramadan hanya bisa diraih dengan usaha nyata melalui ibadah

 

Kultum Milenial Mahasiswa IAIN Gorontalo, Anang Wahyu Mouko: Antara Cinta dan Kemunafikan di Bulan Ramadan 

TRIBUNGORONTALO.COM – Pada saat ini kita berada di bulan yang sangat mulia, bulan yang selalu dirindukan oleh para guru-guru kita, para ulama kita. Bulan yang penuh dengan keutamaan dan kemuliaan. Bulan tersebut adalah bulan Ramadan

Mengapa bulan ini disebut bulan Ramadan? Kata Ramadan berasal dari kata “ramadhan” yang berarti panas atau membakar.

Saya mengutip penjelasan dari salah seorang ulama, yaitu Ustaz Abdul Somad (UAS). 

Beliau memberi perumpamaan: jika kita menggali tanah kemudian menemukan besi yang sudah lama tertanam di dalam tanah, maka besi tersebut biasanya akan berkarat karena tersimpan dalam waktu yang lama.

Untuk membersihkan karat pada besi tersebut, maka besi itu harus dimasukkan ke dalam api yang panas. Ketika besi itu dipanaskan hingga membara, kemudian dipukul atau dibenturkan ke tempat yang keras, maka karat yang menempel pada besi itu akan terlepas, terkupas, dan jatuh.

Kita ini diibaratkan seperti besi yang tersimpan lama. Selama sebelas bulan kita menjalani kehidupan mulai dari bulan Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab hingga Syaban.

Selama perjalanan waktu itu, tanpa kita sadari banyak dosa yang menempel pada diri kita, seperti karat pada besi.

Telinga kita berkarat karena mendengar hal yang tidak baik.

Mata kita berkarat karena melihat yang tidak seharusnya.

Mulut kita berkarat karena ucapan yang tidak dijaga.

Baca juga: Kultum Milenial Mahasiswa IAIN Gorontalo, Ali Junandar Sumaga: Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Bahkan dari ujung rambut hingga ujung kaki, diri kita bisa dipenuhi dengan dosa.

Maka untuk membersihkan semua “karat” tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala menghadirkan bulan Ramadan. 

Bulan yang diibaratkan sebagai api yang panas yang membakar dosa-dosa kita.

Artinya, melalui Ramadan Allah ingin menghapus, membakar, dan membersihkan dosa serta keburukan yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Karena itu, kita harus bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena pada saat ini kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan.

Ini adalah kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri dan menghapus kesalahan yang pernah kita lakukan.

Jangan sampai kesempatan ini kita sia-siakan. Mari kita isi bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal saleh, memperbanyak istighfar, bershalawat, membaca Al-Qur'an, dan mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sahabat yang dimuliakan Allah, 

Sering kita mendengar orang mengatakan, “Ramadan tinggal sebentar lagi.”

Kalimat ini seakan-akan menunjukkan kerinduan kepada bulan Ramadan.

Namun terkadang, di balik ucapan tersebut terselip niat yang kurang tepat.

Sebagai contoh di lingkungan mahasiswa. Saya sebagai mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo, jurusan Ilmu Hadis dan saat ini berada di semester empat, sering mendengar teman-teman berkata, “Alhamdulillah, Ramadan sebentar lagi.”

Sekilas terdengar seperti mereka rindu dengan Ramadan. Seolah-olah mereka menantikan datangnya bulan penuh ibadah.

Namun pada kenyataannya, sebagian dari mereka mungkin lebih menantikan libur Ramadan, bukan keutamaan Ramadan.

Padahal dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”

Artinya, jika seseorang menyambut Ramadan dengan niat untuk mendapatkan kemuliaan Ramadan, maka ia akan mendapatkan pahala dan keutamaannya.

Tetapi jika seseorang menyambut Ramadan hanya karena ingin libur, ingin suasana, atau hal-hal duniawi lainnya, maka itulah yang akan ia dapatkan.

Berbeda dengan orang yang benar-benar mencintai Ramadan. Ia akan mendapatkan pahala ibadahnya, keberkahan waktunya, bahkan tidurnya pun bernilai ibadah.

Oleh karena itu, mari kita luruskan niat kita dalam menyambut bulan Ramadan. Jangan sampai di dalam hati kita terselip niat yang tidak baik.

Salah satu cara memuliakan bulan Ramadan adalah dengan mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Di antara amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak istighfar. Karena pada bulan ini Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya.

Siapa saja yang bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Saya juga mengutip perkataan Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitabnya Al-Hikam. 

Beliau menjelaskan bahwa bagaimana mungkin kita berharap mendapatkan kedekatan dengan Allah, sementara kita masih terus mengikuti hawa nafsu kita.

Bagaimana mungkin kita ingin mendapatkan kemuliaan Ramadan, tetapi kita masih meninggalkan amal-amal yang seharusnya dikerjakan.

Bahkan terkadang kita masih meremehkan amalan wajib, padahal kewajiban adalah sesuatu yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa.

Jika amalan wajib saja masih kita abaikan, bagaimana mungkin kita berharap mendapatkan keutamaan Ramadan.

Al-Habib Umar bin Hafidz juga pernah mengatakan bahwa siapa yang menginginkan sesuatu tetapi tidak berusaha untuk mendapatkannya, maka keinginannya itu hanyalah angan-angan.

Baca juga: Gaji Guru dan Tenaga Kependidikan Dibayar Rapel, Pemkab Bone Bolango Gorontalo Siapkan Dana Rp21 M

Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan Ramadan, maka kita harus berusaha dengan amal dan ibadah.

Sahabat yang dimuliakan Allah, selagi kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk bertemu Ramadan, jangan sampai kita melewatkannya begitu saja.

Karena jika satu Ramadan saja tidak mampu mengubah diri kita menjadi lebih baik, maka butuh berapa Ramadan lagi untuk mengubah diri kita, sementara umur kita tidak ada yang tahu.

Bahkan seandainya orang-orang yang sudah berada di alam kubur diberi kesempatan untuk meminta kepada Allah, maka mereka akan meminta dikembalikan ke dunia agar bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadan.

Karena mereka tahu betapa besar keutamaan bulan ini.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kita kekuatan untuk memperbanyak amal kebaikan, memperbanyak ibadah, dan menjadikan Ramadan kali ini sebagai Ramadan terbaik dalam hidup kita.

Dan semoga kita semua dikumpulkan bersama orang-orang saleh dan bersama Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di surga Allah Subhanahu wa Ta'ala. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Minggu, 15 Maret 2026 (25 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:04
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved