Lebaran Ketupat Gorontalo
Warga Jaton di Reksonegoro Gorontalo Habiskan 8 Jam Mengaduk Jenang Lebaran Ketupat
Kuali berdiameter satu meter berisi cairan kental berwarna cokelat kehitaman terus diaduk tanpa henti.
Penulis: WawanAkuba | Editor: Tita Rumondor
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/JENANG-Seorang-pria-di-Desa-Reksonegoro-Provinsi-Gorontalo.jpg)
Namun dari citra udara, desa ini tampak membentang di antara hamparan hijau lahan pertanian, dengan permukiman yang mengikuti jalur-jalur jalan kecil.
Letaknya tidak jauh dari jalur utama Trans Sulawesi dan berada di sekitar kawasan Bandara Djalaluddin.
Tak heran jika warga kerap menyebutnya sebagai “desa belakang bandara”.
Sesekali, suara pesawat yang melintas menjadi latar yang kontras dengan suasana desa yang tenang dan agraris.
Reksonegoro dikelilingi desa-desa lain di Kecamatan Tibawa, membentuk kawasan yang hidup dari pertanian dan aktivitas sederhana sehari-hari.
Lanskap kebun yang luas menjadi sumber penghidupan sekaligus ruang interaksi warga.
Meski secara geografis cukup strategis, ritme kehidupan di desa ini tetap berjalan pelan.
Tradisi masih dijaga, salah satunya terlihat saat menjelang Lebaran Ketupat. (*)