Lebaran Ketupat Gorontalo
Warga Jaton di Reksonegoro Gorontalo Habiskan 8 Jam Mengaduk Jenang Lebaran Ketupat
Kuali berdiameter satu meter berisi cairan kental berwarna cokelat kehitaman terus diaduk tanpa henti.
Penulis: WawanAkuba | Editor: Tita Rumondor
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/JENANG-Seorang-pria-di-Desa-Reksonegoro-Provinsi-Gorontalo.jpg)
Dalam bahasa Jaton, aktivitas mengaduk dikenal dengan sebutan “ba kayok”.
Kegiatan ini justru dijalani dengan penuh kebersamaan, terlebih karena hanya dilakukan setahun sekali.
Laki-laki, perempuan, hingga anak muda ikut ambil bagian.
Mereka bergantian memegang pengaduk kayu panjang, sambil sesekali bercanda untuk mengusir lelah.
Aroma manis gula merah yang berpadu dengan santan semakin kuat seiring waktu. Warna jenang perlahan berubah menjadi lebih pekat, menandakan adonan mulai matang.
“Kami celupkan piring plastik ke dalam jenang. Kalau masih menempel, artinya belum matang,” katanya.
Menjelang sore, tekstur jenang mengental sempurna. Pengadukan pun semakin berat, namun semangat warga justru semakin terasa.
Ini menjadi penanda bahwa hidangan khas Lebaran Ketupat hampir siap disajikan.
Jenang yang telah matang kemudian didinginkan semalaman sebelum dipotong.
“Biasanya kami diamkan semalaman. Besoknya baru dipotong kecil-kecil lalu digulung dengan daun woka,” ujarnya.
Jenang dalam balutan woka berwarna kuning itu kemudian dibagikan kepada warga.
Hidangan ini menjadi pelengkap ketupat dan berbagai lauk saat hari puncak perayaan.
Di tengah arus modernisasi, tradisi mengaduk jenang selama berjam-jam ini tetap dipertahankan.
Bagi masyarakat Desa Reksonegoro, jenang bukan sekadar makanan, melainkan identitas yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Jika menelusuri wilayah Kecamatan Tibawa, nama Desa Reksonegoro mungkin tidak langsung mencolok di peta.