Berita Gorontalo
Khutbah Berbasis Sains, Kadis Kesehatan Provinsi Gorontalo Uraikan Manfaat Medis dari Perbuatan Baik
Suasana Masjid Jabbal Muhsinin di Kantor Gubernur Gorontalo dipenuhi jamaah yang khusyuk mengikuti Khutbah Jumat yang dibawakan Anang S Otoluwa
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KHUTBAH-JUMAT-Kadis-Kesehatan-Provinsi-Gorontalo-Anang-S-Otoluwa.jpg)
Ringkasan Berita:
- Khutbah Jumat di Masjid Jabbal Muhsinin, kawasan Kantor Gubernur Gorontalo, menghadirkan perspektif “Taqwa Biologis”
- Ia menjelaskan bahwa kebaikan sederhana yang dilakukan secara konsisten tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga berdampak pada kesehatan tubuh melalui peningkatan hormon oksitosin dan endorfin serta penurunan hormon stres.
- Pesan tersebut disampaikan di hadapan jamaah yang dihadiri Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Sekda Sofian Ibrahim
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Suasana Masjid Jabbal Muhsinin, di kawasan Kantor Gubernur Gorontalo dipenuhi jamaah yang khusyuk mengikuti Khutbah Jumat yang dibawakan Anang S Otoluwa, Kadis Kesehatan Provinsi Gorontalo.
Mengangkat judul “Taqwa Biologis”, khutbah ini menghadirkan perspektif yang tidak biasa, yakni taqwa bukan hanya berdimensi spiritual dan ukhrawi, tetapi juga berdampak langsung pada ksehatan tubuh manusia.
Suasana masjid tampak dipadati jamaah yang merupakan pegawai Eselon II dan III serta pegawai di lingkungan Kantor Gubernur Gorontalo.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail dan Sekda Provinsi Gorontalo Sofian Ibrahim juga terlihat duduk di saf bagian depan Mimbar.
Sejak awal khutbah, Anang mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum pembentukan kualitas diri.
Baca juga: Status Penerima Bansos PKH dan Sembako Bisa Dicek Online, Simak Panduannya
Ia menegaskan bahwa tujuan puasa adalah taqwa, namun sering kali makna itu berhenti sebatas hafalan.
“Taqwa adalah tujuan, puasa adalah sarana. Namun sering kali ayat ini kita dengar berulang-ulang tanpa benar-benar menghadirkan perubahan mendalam dalam perilaku dan kebiasaan kebaikan kita,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, taqwa bukan hanya rasa takut kepada Allah, melainkan kesadaran aktif yang melahirkan kebaikan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kebaikan itulah yang menjadi indikator tumbuhnya pohon taqwa dalam diri seseorang.
Pada awal inti khutbah, Anang memaparkan temuan ilmiah yang menguatkan nilai-nilai spiritual tersebut.
Ia merujuk pada penelitian yang dipopulerkan David R Hamilton dalam bukunya The Five Side Effects of Kindness.
Dalam riset it itulah, kebaikan sederhana ternyata membawa dampak signifikan bagi kondisi psikologis dan biologis manusia.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa responden yang melakukan perbuatan baik sederhana seperti rajin tersenyum, memberikan pujian tulus, membelikan kopi untuk orang lain, atau menyisihkan sedikit uang untuk sedekah mengalami peningkatan rasa bahagia, penurunan stres, dan perbaikan kondisi emosional.
Ia menekankan, perbuatan yang diteliti bukanlah aksi heroik berskala besar, melainkan kebaikan kecil yang dilakukan secara sadar dan berulang.
Secara biologis, tindakan tersebut memicu produksi hormon oksitosin dan endorfin yang berperan dalam membangun empati, koneksi sosial, serta rasa nyaman dan bahagia.
“Inilah yang dapat kita pahami sebagai taqwa biologis. Ketika seseorang berbuat baik, maka kebaikan itu berdampak bukan hanya kepada orang lain, tetapi kepada dirinya sendiri,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menguraikan bahwa peningkatan hormon oksitosin juga berdampak pada kesehatan jantung.
Oksitosin merangsang lapisan pembuluh darah menghasilkan nitric oxide yang membantu melebarkan pembuluh darah, sehingga tekanan darah dapat menurun dan jantung menjadi lebih sehat.
Baca juga: 7 Penyebab Utama Bansos tak Cair Padahal Sudah Terdaftar Sebagai Penerima, Berikut Solusinya
Selain itu, kebiasaan berbuat baik juga menurunkan hormon stres kortisol yang berkaitan dengan proses peradangan dan penuaan.
Dalam penjelasannya, Anang kembali mengingatkan bahwa kebaikan tidak harus besar untuk bernilai.
Ia mencontohkan kebiasaan sederhana seperti memberi salam, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, membantu orang tua menyeberang jalan, hingga bersedekah secara rutin.
Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW sebagai penguat pesan tersebut : “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya dengan wajah yang tersenyum,” sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam beramal, merujuk pada hadis riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.
Menutup khutbahnya, Anang mengaitkan fenomena kebahagiaan di Hari Raya dengan akumulasi kebaikan selama Ramadan.
Menurutnya, rasa lapang, penuh kasih, dan mudah tersenyum saat lebaran bukan sekadar tradisi, tetapi buah biologis dari kebaikan yang dilakukan secara konsisten selama sebulan penuh. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.