Berita Gorontalo
Khutbah Berbasis Sains, Kadis Kesehatan Provinsi Gorontalo Uraikan Manfaat Medis dari Perbuatan Baik
Suasana Masjid Jabbal Muhsinin di Kantor Gubernur Gorontalo dipenuhi jamaah yang khusyuk mengikuti Khutbah Jumat yang dibawakan Anang S Otoluwa
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KHUTBAH-JUMAT-Kadis-Kesehatan-Provinsi-Gorontalo-Anang-S-Otoluwa.jpg)
Secara biologis, tindakan tersebut memicu produksi hormon oksitosin dan endorfin yang berperan dalam membangun empati, koneksi sosial, serta rasa nyaman dan bahagia.
“Inilah yang dapat kita pahami sebagai taqwa biologis. Ketika seseorang berbuat baik, maka kebaikan itu berdampak bukan hanya kepada orang lain, tetapi kepada dirinya sendiri,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menguraikan bahwa peningkatan hormon oksitosin juga berdampak pada kesehatan jantung.
Oksitosin merangsang lapisan pembuluh darah menghasilkan nitric oxide yang membantu melebarkan pembuluh darah, sehingga tekanan darah dapat menurun dan jantung menjadi lebih sehat.
Baca juga: 7 Penyebab Utama Bansos tak Cair Padahal Sudah Terdaftar Sebagai Penerima, Berikut Solusinya
Selain itu, kebiasaan berbuat baik juga menurunkan hormon stres kortisol yang berkaitan dengan proses peradangan dan penuaan.
Dalam penjelasannya, Anang kembali mengingatkan bahwa kebaikan tidak harus besar untuk bernilai.
Ia mencontohkan kebiasaan sederhana seperti memberi salam, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, membantu orang tua menyeberang jalan, hingga bersedekah secara rutin.
Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW sebagai penguat pesan tersebut : “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya dengan wajah yang tersenyum,” sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam beramal, merujuk pada hadis riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.
Menutup khutbahnya, Anang mengaitkan fenomena kebahagiaan di Hari Raya dengan akumulasi kebaikan selama Ramadan.
Menurutnya, rasa lapang, penuh kasih, dan mudah tersenyum saat lebaran bukan sekadar tradisi, tetapi buah biologis dari kebaikan yang dilakukan secara konsisten selama sebulan penuh. (*)