LIPSUS GENTENG
Meski Dianjurkan Prabowo, Rupanya Tak Semua Warga Gorontalo Tertarik Genteng, Ini Alasan Mereka
Wacana penggunaan genteng sebagai atap rumah kembali mengemuka setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ATAP-Masyarakat-Gorontalo-rupanya-banyak.jpg)
Ringkasan Berita:
- Wacana program gentengisasi Presiden Prabowo Subianto mendapat respons beragam dari warga Gorontalo.
- Selain dinilai lebih nyaman, penggunaan genteng masih terkendala faktor kebiasaan, kondisi alam, serta kemampuan ekonomi masyarakat.
- Warga berharap kebijakan perumahan tetap mempertimbangkan kearifan lokal dan kondisi daerah.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Wacana penggunaan genteng sebagai atap rumah kembali mengemuka setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendorong rumah-rumah di Indonesia secara bertahap beralih dari seng ke genteng.
Program yang belakangan dikenal dengan istilah gentengisasi tersebut dinilai mampu meningkatkan kenyamanan hunian, menekan panas di dalam rumah, serta memperbaiki kualitas lingkungan permukiman.
Namun di Gorontalo, respons warga terhadap wacana tersebut tidak seragam.
Pilihan material atap rumah masih dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari iklim, kondisi tanah, kemampuan ekonomi, hingga kebiasaan dan kultur yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Baca juga: Kadis PUPR-PKP Ungkap Tantangan Penggunaan Genteng di Gorontalo, Ulas Sejarah hingga Kearifan Lokal
Pandangan tersebut disampaikan tiga warga Gorontalo saat diwawancarai pada Rabu (4/2/2026).
Sebagai daerah yang berada di garis khatulistiwa, Gorontalo memiliki karakter iklim panas dan lembap hampir sepanjang tahun.
Dalam kondisi tersebut, genteng kerap dianggap lebih ideal karena mampu meredam panas dan mengurangi suara bising saat hujan turun.
Meski demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa atap seng masih menjadi material paling dominan digunakan masyarakat.
Secara umum, penggunaan genteng di Gorontalo belum menjadi kebiasaan utama, sebagaimana juga terjadi di banyak wilayah Indonesia bagian timur.
Sejak lama, rumah-rumah di Gorontalo dibangun dengan menyesuaikan kondisi lingkungan serta ketersediaan material.
Seng menjadi pilihan karena lebih ringan, mudah dipasang, dan tidak memerlukan rangka bangunan yang terlalu kuat.
Salah satu warga yang mengaku tidak tertarik menggunakan genteng adalah Dian Akuba, warga Tanggi Da’a, Kecamatan Kota Utara.
Ia menuturkan bahwa pilihan atap rumah di keluarganya telah berlangsung lama dan diwariskan secara turun-temurun.
“Dari dulu, dari orang tua sampai sekarang, rumah kami memang tidak pernah pakai genteng. Itu sudah jadi kebiasaan keluarga,” ujar Dian.
Menurut Dian, selain faktor kebiasaan, kondisi alam di lingkungannya juga menjadi pertimbangan utama.
Ia menyebut wilayah tempat tinggalnya rawan goyangan tanah, sehingga penggunaan genteng dinilai berisiko.
“Kalau tanah goyang, genteng itu berat. Saya takut kalau jatuh atau runtuh. Itu yang bikin saya tidak tertarik,” katanya.
Ia menambahkan, meskipun ada bantuan dari pemerintah, dirinya tetap akan mempertimbangkan faktor keamanan serta kesesuaian dengan kondisi rumah.
“Kalau dikasih pemerintah, saya lebih pilih ganti bahan rumah lain yang lebih ringan, bukan genteng,” tegasnya.
Pandangan berbeda disampaikan Misran Saleh, warga Desa Tupa, Kecamatan Bulango Utara.
Menurutnya, persoalan utama dalam menentukan pilihan atap rumah adalah kemampuan ekonomi masyarakat.
“Kalau bicara kenyamanan, genteng memang lebih baik. Rumah tidak terlalu panas, hujan juga tidak terlalu berisik,” ujarnya.
Namun, ia mengakui tidak semua warga mampu membeli dan memasang genteng secara mandiri.
Selain harga material, penggunaan genteng juga membutuhkan rangka rumah yang lebih kuat sehingga menambah biaya pembangunan.
“Biayanya besar, rangka rumah juga harus kuat. Jadi kalau pakai uang sendiri, kebanyakan orang pilih seng,” kata Misran.
Menurutnya, seng masih menjadi pilihan paling realistis bagi warga desa karena lebih terjangkau dan pemasangannya lebih cepat, meskipun tingkat kenyamanannya lebih rendah dibanding genteng.
“Kalau ada bantuan dari pemerintah, pasti orang terima genteng. Tapi kalau tidak ada bantuan, seng tetap jadi pilihan,” ucapnya.
Sementara itu, Arjon Husin, warga Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo, yang mengaku sering beraktivitas ke wilayah perkotaan, melihat adanya perbedaan cukup jelas antara hunian di kota dan di desa.
“Di kota, rumah yang pakai genteng terasa lebih sejuk. Kalau hujan juga tidak berisik,” kata Arjon.
Ia menilai genteng lebih cocok untuk hunian permanen. Meski demikian, Arjon memahami bahwa kondisi ekonomi masih menjadi kendala utama bagi banyak warga untuk beralih ke material tersebut.
“Bukan berarti orang tidak mau genteng. Banyak yang mau, tapi memang belum mampu,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keinginannya agar penggunaan atap seng di Indonesia dikurangi dan secara bertahap digantikan dengan genteng, khususnya genteng tanah liat.
Presiden menilai genteng lebih nyaman, lebih awet, serta mampu menciptakan lingkungan hunian yang lebih layak dan manusiawi.
Presiden juga mendorong kolaborasi lintas sektor agar program gentengisasi dapat berjalan tanpa memberatkan masyarakat.
Namun, dari Gorontalo, suara warga menunjukkan bahwa kebijakan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi lokal.
Kultur yang kuat, kebiasaan turun-temurun, kondisi geografis, serta kemampuan ekonomi masyarakat menjadi faktor penting yang tidak dapat diabaikan.
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa pilihan atap rumah di Gorontalo tidak semata-mata ditentukan oleh iklim atau kebijakan nasional.
Keputusan warga merupakan hasil pertimbangan panjang antara kenyamanan, keselamatan, tradisi, dan kemampuan ekonomi.
Warga berharap setiap program perumahan di masa mendatang tetap memperhatikan kearifan lokal serta memberikan ruang pilihan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah. (*/Jefri Potabuga)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.