Rabu, 25 Maret 2026

LIPSUS GENTENG

Kadis PUPR-PKP Ungkap Tantangan Penggunaan Genteng di Gorontalo, Ulas Sejarah hingga Kearifan Lokal

Gagasan nasional “gentengisasi” yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto mulai menuai respons dari berbagai daerah

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Kadis PUPR-PKP Ungkap Tantangan Penggunaan Genteng di Gorontalo, Ulas Sejarah hingga Kearifan Lokal
TribunGorontalo.com
GENTENGNISASI -- Program gentengisasi dinilai menghadapi tantangan di Gorontalo karena faktor kerawanan gempa, konstruksi rumah tradisional, serta keterbatasan bahan baku. Meski memiliki keunggulan dari sisi kenyamanan hunian, penerapannya masih menunggu arahan teknis dari pemerintah pusat. 
Ringkasan Berita:
  • Kepala Dinas PUPR-PKP Provinsi Gorontalo, Aries Ardianto, menilai penerapan program nasional gentengisasi di Gorontalo menghadapi tantangan teknis, geografis, hingga kearifan lokal. 
  • Ia menyebut Gorontalo berada di kawasan rawan gempa, memiliki tradisi rumah kayu yang tidak dirancang menopang beban genteng, serta keterbatasan bahan baku tanah liat berkualitas. 
  • Meski genteng dinilai lebih sejuk dan berpotensi mendukung padat karya, hingga kini belum ada instruksi teknis resmi

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Gagasan nasional “gentengisasi” yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto mulai menuai respons dari berbagai daerah, termasuk Provinsi Gorontalo.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang–Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR-PKP) Provinsi Gorontalo, Aries Ardianto, mengingatkan bahwa penerapan kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari faktor teknis, sejarah arsitektur, hingga kearifan lokal masyarakat setempat.

Berlatar belakang teknik sipil, Aries menegaskan bahwa penggunaan genteng di Gorontalo tidak dapat disamakan dengan wilayah lain di Indonesia.

Secara geografis, kata dia, Gorontalo berada di kawasan sesar gempa yang cukup aktif, sehingga penggunaan genteng berpotensi menimbulkan risiko keselamatan.

“Kalau atap menggunakan genteng, itu berbahaya, karena genteng bukan satu kesatuan yang utuh,” ujar Aries.

Baca juga: Sampah Masih Menumpuk di Saluran Air Bulotalangi Timur Bone Bolango, Ini Kata Kepala Desa

Ia menjelaskan, saat terjadi gempa besar, genteng berisiko rontok dan dapat membahayakan penghuni rumah.

Risiko tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum mendorong penggunaan genteng secara masif di daerah rawan gempa seperti Gorontalo.

Dari sisi sejarah arsitektur, Aries mengungkapkan bahwa Gorontalo dan sebagian besar wilayah Sulawesi Utara sejak dahulu dikenal dengan rumah panggung berbahan kayu.

Struktur rumah tradisional tersebut menggunakan papan kayu atau yang dikenal dengan istilah pitate sebagai dinding.

Menurutnya, konstruksi kayu pada rumah tradisional dirancang dengan karakter lentur, sehingga tidak cocok menopang beban berat seperti genteng tanah liat.

“Dari sisi teknis, kayu itu lentur. Kalau dibebani dengan atap genteng yang notabene berat, tidak akan jadi pilihan. Karena itu, masyarakat lebih memilih menggunakan atap rumbia,” jelasnya.

Aries juga mengungkapkan bahwa penggunaan genteng tanah liat di Gorontalo memang sangat minim. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, Gorontalo tercatat sebagai provinsi dengan tingkat penggunaan genteng paling rendah di Pulau Sulawesi, yakni hanya 0,90 persen.

Angka tersebut jauh di bawah Sulawesi Barat yang mencapai 2,24 persen, maupun Sulawesi Tenggara sebesar 3,35 persen.

Minimnya penggunaan genteng, lanjut Aries, tidak terlepas dari faktor budaya dan ketersediaan material.

Hingga saat ini, Gorontalo tidak memiliki tradisi pembakaran genteng seperti daerah lain di Indonesia.

“Masyarakat tidak terbiasa, karena sejak dulu memang tidak ada tradisi pembakaran genteng. Bahkan tembikar pun jarang ditemukan di Gorontalo,” katanya.

Selain faktor budaya, karakteristik tanah di Gorontalo juga menjadi kendala tersendiri.

Aries menjelaskan, material tanah liat yang umumnya menjadi bahan dasar genteng di daerah lain, memiliki komposisi berbeda dengan tanah di Gorontalo.

“Material tanah di Gorontalo adalah lanau berpasir, bukan lempung murni,” ujarnya.

Jika dipaksakan untuk produksi genteng, Aries menilai kualitasnya berpotensi rendah dan mudah pecah.

Kondisi ini berbeda dengan wilayah seperti Pulau Jawa dan Bali yang didukung jenis tanah yang sesuai, tradisi kerajinan, serta budaya produksi genteng yang sudah kuat.

Meski demikian, Aries tidak menampik bahwa rumah dengan atap genteng memiliki keunggulan dari sisi kenyamanan termal.

Ia mengakui, genteng mampu menyerap panas lebih baik sehingga membuat suhu di dalam rumah terasa lebih sejuk.

Ia menegaskan, rendahnya penggunaan genteng di Gorontalo dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi alam, sejarah pembangunan hunian, hingga nilai-nilai lokal yang telah mengakar di masyarakat.

Menanggapi pernyataan Presiden Prabowo terkait program gentengisasi, Aries menilai gagasan tersebut disampaikan dalam momentum strategis saat seluruh kepala daerah berkumpul.

“Bisa saja beliau mengisyaratkan kalau penggunaan genteng didorong, karena produksi genteng itu produksi massal masyarakat, menggunakan tenaga kerja lebih banyak, atau bisa dikatakan sebagai pekerjaan padat karya,” katanya.

Namun, Aries menilai apabila nantinya terdapat instruksi resmi terkait pemasangan genteng, Gorontalo akan menghadapi berbagai tantangan serius.

Tantangan tersebut meliputi ketersediaan bahan baku, penyesuaian dengan kearifan lokal, nilai sejarah bangunan tradisional, hingga kebiasaan masyarakat.

“Kalau kearifan lokal kita dipaksakan untuk menerima instruksi seperti itu, ini akan menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah,” tegasnya.

Ia memastikan, hingga saat ini belum ada instruksi maupun petunjuk teknis dari kementerian terkait penerapan program gentengisasi di daerah.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan gagasan “gentengisasi”, yakni gerakan nasional untuk mengganti atap bangunan dari seng menjadi genteng.

Program ini digagas sebagai upaya meningkatkan kualitas hunian sekaligus memperindah lingkungan permukiman.

Gagasan tersebut disampaikan Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

“Salah satu dalam rangka keindahan, saya lihat Surabaya, semua kota, semua kecamatan, hampir semua desa kita, sekarang maaf ya, terlalu banyak atap seng. Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat,” ujar Prabowo.

Ia menambahkan, dominasi penggunaan seng dinilai mengurangi nilai estetika lingkungan permukiman.

Menurutnya, sulit mewujudkan wajah Indonesia yang indah jika atap rumah masih didominasi material tersebut.

“Tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” katanya.

Dalam konsep gentengisasi, Prabowo mendorong penggunaan genteng sebagai material utama atap bangunan di seluruh wilayah Indonesia.

Program tersebut dirancang sebagai gerakan masif yang melibatkan pemerintah daerah, koperasi, dan berbagai pihak terkait.

“Alat-alat pabrik genteng itu tidak mahal, jadi nanti koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” ujarnya.

Selain aspek teknis dan ekonomi, program gentengisasi juga dikaitkan dengan nilai tradisi dan kenyamanan hunian.

Presiden menyinggung bahwa rumah-rumah tradisional Indonesia sejak dahulu menggunakan material alami yang lebih sejuk.

“Kalau kita ingat nenek kita, kakek kita, atasnya itu dulu pakai rumbia atau ijuk atau sirap, atau bahan-bahan dari alam, sehingga terasa sejuk,” kata Prabowo. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved