Tribun Podcast
Dosen Teknik Geologi UNG Muh Kasim Ungkap Alasan Gorontalo Kaya Mineral Emas dan Tembaga
Namun siapa sangka, secara geologi wilayah ini justru menyimpan jejak aktivitas vulkanik purba yang menjadi kunci kekayaan sumber daya mineralnya.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kepala-Laboratorium-Teknik-Geologi-Fakultas-MIPA-Universitas-Negeri-Gorontalo-UNG.jpg)
Untuk membantu pemahaman masyarakat, Kasim menjelaskan bahwa Gorontalo berada di kawasan geologi yang dikenal sebagai Lengan Utara Sulawesi.
“Dari Gorontalo hingga Manado, Sulawesi Utara, dikenal dengan istilah Lengan Utara Sulawesi,” beber Kasim.
Kawasan ini berbeda dengan lengan-lengan Sulawesi lainnya, seperti lengan barat, timur, hingga tenggara.
Ia menegaskan, setiap lengan memiliki karakter batuan yang berbeda, sehingga sumber daya mineralnya pun tidak sama.
Sebagai perbandingan, di Lengan Tenggara Sulawesi banyak dijumpai nikel karena didominasi batuan kerak samudra.
“Kalau di Lengan Tenggara itu banyak nikel, karena batuannya berupa kerak samudra atau bawah laut,” jelasnya.
Sementara Gorontalo memiliki ciri khas logam dasar berupa besi metal yang mengandung emas, tembaga, perak, hingga timah hitam.
Di balik potensi besar tersebut, Kasim mengingatkan bahwa aktivitas pertambangan, baik oleh rakyat maupun perusahaan, tetap memiliki risiko lingkungan.
“Kita tidak bisa menghindari dampak, yang bisa kita lakukan adalah memperkecil dampak,” katanya.
Menurutnya, dampak tersebut dapat ditekan melalui kajian yang matang, manajemen yang baik, perhitungan teknis, intervensi lingkungan, hingga reboisasi.
Ia menegaskan, pemanfaatan sumber daya mineral harus berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Namun jika kondisi lingkungan memburuk dan ekonomi masyarakat tidak membaik, maka ada persoalan serius dalam tata kelola pertambangan.
“Kalau dampak ekonomi menurun dan lingkungan memburuk, berarti ada kesenjangan. Artinya, tambang tidak bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” tukasnya.
Kasim menyebut kebijakan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang didorong Pemerintah Provinsi Gorontalo telah melalui kajian geologi. Bahkan akademisi UNG turut dilibatkan dalam proses teknisnya.
“Terakhir, saya bersama tim diminta bantuan Pemprov melalui Dinas ESDM untuk membuat laporan reklamasi dan pasca-tambang, dan itu sudah selesai,” pungkasnya.
Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat, kampus juga hadir melalui berbagai program seperti KKN dan penelitian, mulai dari pencemaran lingkungan, geowisata, kebencanaan, hingga kajian hidrologi tanah.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)