Kaleidoskop 2025
31 Operasi SAR Sepanjang 2025, Lima Korban Masih Hilang di Gorontalo
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Gorontalo menangani 31 operasi pencarian dan pertolongan (SAR)
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Tim-gabungan-Basarnas-tengah-mencari-remaja-17-tahun-yang-hanyut-di-Danau-Limboto.jpg)
Pada 2024, Basarnas Gorontalo mencatat 42 operasi SAR, sementara pada 2025 jumlahnya turun menjadi 31 operasi.
“Dari segi jumlah operasi dan jumlah korban, tahun 2025 ini menurun dibandingkan 2024,” kata Halidin.
Meski terjadi penurunan, ia menegaskan bahwa faktor cuaca masih menjadi pemicu utama kejadian orang hanyut atau hilang.
Banyak masyarakat dinilai belum sepenuhnya memperhatikan informasi cuaca sebelum beraktivitas, khususnya di laut dan sungai.
“Di laut itu kebanyakan karena kurang memantau kondisi cuaca. Di Gorontalo, cuaca cepat berubah, bisa cerah lalu tiba-tiba angin dan ombak,” ujarnya.
Selain kondisi laut, curah hujan tinggi juga kerap memicu banjir dan memperbesar debit serta arus sungai, sehingga meningkatkan risiko orang hanyut.
Dalam evaluasi internal, Basarnas Gorontalo memastikan kesiapsiagaan personel tetap menjadi prioritas utama.
Seluruh anggota dinyatakan siaga 24 jam, baik di kantor induk maupun di pos-pos SAR.
“Kami selalu standby 24 jam. Sarana dan prasarana juga kami pastikan dalam kondisi siap pakai,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh sarana dan prasarana SAR dipastikan siap digunakan setiap saat untuk merespons laporan kejadian darurat atau orang hilang.
Menjelang akhir tahun dan awal tahun baru, Halidin juga mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin memantau informasi cuaca.
Berdasarkan peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bencana hidrometeorologi masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah, termasuk Gorontalo.
“Kami imbau masyarakat untuk selalu update informasi cuaca. Kalau mau melaut, ke kebun, atau beraktivitas di alam, tolong perhatikan kondisi cuaca,” tegasnya.
Menurutnya, perubahan cuaca yang cepat di Gorontalo menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat agar kejadian darurat dapat dicegah sejak dini.
(*)