Human Interest Story
16 Tahun jadi Honorer, Ruslan Botutihe Baru Terangkat PPPK Sebulan Jelang Pensiun
Muhammad Ruslan Botutihe akhirnya mengenakan seragam Korpri Setelah 16 tahun mengabdi sebagai guru honorer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Muhammad-Ruslan-Botutihe.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Muhammad Ruslan Botutihe akhirnya mengenakan seragam Korpri Setelah 16 tahun mengabdi sebagai honorer.
Ruslan telah mengabdi selama 16 tahun di UPTD Balai Perbenihan, Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo.
Pria 57 tahun ini resmi dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
Namun, rupanya seragam itu hanya akan ia kenakan dalam sebulan. Sebab, sebulan lagi ia akan memasuki masa pensiun.
Ruslan menjadi salah satu dari 2.459 honorer yang diangkat dalam pelantikan massal PPPK oleh Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, Jumat (17/10/2025), di halaman UPTD Museum Purbakala Gorontalo.
Namun di antara ribuan wajah muda yang bersorak bahagia, Ruslan mencatatkan sejarah tersendiri, yakni PPPK tertua yang dilantik tahun ini.
“Umur saya sudah 57 tahun, kelahiran 1968,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menjalani tugasnya dengan penuh tanggung jawab, meski tanpa jaminan status kepegawaian yang pasti.
“Alhamdulillah, sekarang sudah cukup. Senang rasanya,” ungkapnya.
Bagi Ruslan, pengangkatan ini bukan sekadar perubahan status administratif.
Ini adalah bentuk pengakuan atas dedikasi panjang yang selama ini dijalani dalam diam.
Berdasarkan regulasi kepegawaian, batas usia pensiun bagi PPPK jabatan pelaksana adalah 58 tahun.
Artinya, Ruslan hanya akan aktif sebagai ASN selama kurang lebih satu bulan sebelum memasuki masa purna tugas.
Ia kini resmi menjadi bagian dari Korps Pegawai Republik Indonesia, meski hanya sekejap sebelum melepas seragam untuk selamanya.
Dalam sambutannya, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyebut pelantikan ini sebagai catatan emas dalam lintasan karier ASN.
Ia mengingatkan bahwa sumpah jabatan bukan sekadar formalitas, melainkan janji yang disaksikan oleh Tuhan.
“Dengan sumpah itu, maka tidak ada lagi sambutan atau arahan dari saya, karena semua sudah termaktub dalam sumpah tersebut,” ujar Gusnar. (*)