PEMPROV GORONTALO
Fesyen dan Kriya Pimpin Ekspor Ekraf, Gorontalo Siap Masuk Peta Nasional
Sektor ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan taringnya di pasar ekspor. Berdasarkan data Ditjen Bea Cukai kuartal II 2025
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PEMPROV-GORONTALO-Gubernur-Gorontalo-Gusnar-Ismail-hadir-di-kegiatan-GPCC.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM — Sektor ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan taringnya di pasar ekspor.
Berdasarkan data Ditjen Bea Cukai kuartal II 2025, subsektor fesyen menyumbang 55 persen ekspor ekonomi kreatif nasional, disusul kriya sebesar 38 persen.
Di tengah tren positif ini, Provinsi Gorontalo bersiap menempatkan diri dalam peta nasional ekonomi kreatif.
Gusnar Ismail, menyatakan bahwa Gorontalo memiliki potensi besar untuk berkontribusi, terutama di subsektor berbasis budaya dan desain.
“Ketika semua bisa dikreasikan, lahirlah inovasi. Dan inovasi itu bernilai tinggi. Mari kita manfaatkan momentum ini untuk memperkuat ekonomi kreatif dan pariwisata Gorontalo,” ujar Gusnar dalam kegiatan bersama Menparekraf di Gedung GPPC, Sabtu (27/9/2025).
Kehadiran Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, di Gorontalo menjadi sinyal kuat dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan ekraf daerah.
Riefky menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif harus mengacu pada 17 subsektor yang diatur dalam Perpres Nomor 142 Tahun 2018, mulai dari kuliner, fesyen, kriya, seni pertunjukan, hingga industri digital seperti game, konten kreator, dan AI.
“Kalau dulu kepala daerah memetakan pertanian atau tambang, sekarang kita minta kepala daerah memetakan potensi ekonomi kreatif. Nanti kita kurasi, mana yang bisa didorong ke tingkat nasional, regional, bahkan global,” kata Riefky.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Gorontalo telah menyiapkan kelembagaan baru: Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan, yang akan menjadi motor penggerak pembangunan sektor ini.
Gusnar menyebut bahwa selain pariwisata dan pertanian, Gorontalo juga akan mengembangkan sektor pertambangan dan ekonomi kreatif sebagai penopang baru pendapatan asli daerah.
“Kita sangat bersyukur atas perhatian besar pemerintah pusat. Ini saatnya Gorontalo naik kelas,” tegasnya.
Dengan tren ekspor yang didominasi oleh fesyen dan kriya, Gorontalo memiliki peluang besar untuk mengangkat produk lokal seperti karawo, tenun, kerajinan kayu, dan desain etnik ke panggung nasional dan internasional.
Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, ditambah kelembagaan yang fokus, menjadi modal penting untuk menjadikan Gorontalo sebagai kawasan kreatif baru di Indonesia Timur. (*)