Berita Nasional
Kurs Dolar Melonjak, Pedagang Bakso Terpaksa Kecilkan Porsi dan Kurangi Isi
Tekanan kenaikan harga bahan baku yang dirasakan pelaku usaha bakso dan mi ayam menjadi salah satu keluhan yang disampaikan kepada Presiden ke-7 RI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/DOLAR-Gara-gara-nilai-tukar-golar-yang-melonjak-dampaknya-para-pengusaha.jpg)
Ringkasan Berita:
- Perwakilan Sahabat Bakso Indonesia menemui Joko Widodo untuk menyampaikan keluhan terkait kenaikan harga bahan baku akibat menguatnya dolar AS.
- Kondisi tersebut membuat harga daging sapi dan gandum meningkat sehingga pedagang harus mengurangi ukuran bakso atau menaikkan harga jual.
- Selain persoalan bahan baku, para pedagang juga menyoroti persaingan dengan ribuan gerai makanan dan minuman asing yang berkembang di Indonesia.
TRIBUNGORONTALO.COM – Tekanan kenaikan harga bahan baku yang dirasakan pelaku usaha bakso dan mi ayam menjadi salah satu keluhan yang disampaikan kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Keluhan itu disampaikan sejumlah perwakilan organisasi pedagang bakso yang tergabung dalam Sahabat Bakso Indonesia saat bertemu Jokowi di kediamannya di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Senin (1/6/2026).
Ketua Umum Sahabat Bakso Indonesia, Bambang Hariyanto, mengatakan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) berdampak langsung terhadap biaya operasional para pedagang, terutama untuk pembelian bahan baku utama seperti daging sapi dan gandum.
"Ya hari ini dollar AS sangat naik, otomatis akan mengganggu, meningkatkan harga bahan baku kami, pembelanjaan kami," ujar Bambang.
Menurut dia, kebutuhan daging sapi nasional saat ini masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Bambang menyebut kebutuhan konsumsi daging sapi di Indonesia mencapai sekitar 700 ribu ton per tahun, sedangkan produksi nasional berada di kisaran 400 ribu ton per tahun.
Kekurangan pasokan tersebut membuat Indonesia masih mengandalkan impor dari sejumlah negara, termasuk Australia dan India.
"Hari ini daging sapi masih impor. Kapasitas produksi Indonesia cuma 400.000 ton per tahun, sementara kebutuhan kami sampai konsumsi, sampai 700.000 ton, 300.000 ton per tahun ini adalah impor, impornya dari India, Australia," terangnya.
Pedagang Kurangi Ukuran Bakso
Kenaikan harga bahan baku membuat para pedagang harus mencari berbagai cara agar usaha tetap berjalan tanpa membebani konsumen secara berlebihan.
Bambang mengatakan sebagian pedagang memilih mengurangi ukuran bakso maupun jumlah isi dalam satu porsi. Sementara sebagian lainnya menaikkan harga jual secara bertahap.
"Siasat yang kami dorong buat teman-teman, size-nya kami kecilkan, kalau tidak bijinya kami kurangi. Seperti itu untuk menyiasati harga daging," katanya.
Menurutnya, pedagang di kawasan perkotaan relatif lebih berani menyesuaikan harga jual dengan kenaikan sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per porsi.
Berbeda dengan pedagang di wilayah pedesaan yang lebih banyak memilih mempertahankan harga dengan mengurangi ukuran atau jumlah bakso dalam satu sajian.
"Fifty-fifty, ada yang menaikkan, kalau untuk kelas-kelas perkotaan berani menaikkan di satu porsinya Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per porsi. Kalau untuk yang di kampungan, saya rasa lebih mengurangi bijian sama size-nya," jelas Bambang.