Berita Internasional
Dua Pesawat Tempur Amerika Jatuh, Pilot Hilang Diburu Iran, Perang Kian Tak Terkendali
Dua pesawat tempur Amerika Serikat ditembak jatuh di wilayah Iran dan Teluk dalam satu hari, Jumat (3/4/2026), menurut pejabat Iran dan AS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERANG-Dua-pesawat-Amerika-yang-berhasil-ditembak-jatuh-oleh-Iran-F15E-dan-A-10.jpg)
Ringkasan Berita:
- Dua pesawat tempur AS ditembak jatuh dalam sehari, dengan satu pilot masih hilang dan diburu Iran.
- Konflik kian meluas, sementara upaya damai justru menemui jalan buntu.
- Dampaknya mulai terasa hingga ke ekonomi global dengan lonjakan harga minyak.
TRIBUNGORONTALO.COM, Internasional -- Dua pesawat tempur Amerika Serikat ditembak jatuh di wilayah Iran dan Teluk dalam satu hari, Jumat (3/4/2026), menurut pejabat Iran dan AS.
Dua pilot berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih hilang dan kini diburu oleh pasukan Teheran.
Insiden ini memperlihatkan bahwa risiko bagi pesawat AS dan Israel masih tinggi, meskipun Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya mengklaim telah menguasai penuh wilayah udara Iran.
Kronologi: F-15E Ditembak, A-10 Jatuh di Kuwait
Pesawat pertama yang jatuh adalah jet tempur F-15E berawak dua orang yang ditembak oleh pertahanan Iran.
Satu awak berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih belum diketahui keberadaannya.
Baca juga: Data Terbaru! Terungkap, 365 Tentara Amerika Terluka dan 13 Tewas di Konflik Iran
Tak lama berselang, pesawat A-10 Warthog milik AS juga terkena tembakan dan jatuh di wilayah Kuwait.
Pilotnya sempat melontarkan diri dan berhasil diselamatkan.
Dalam operasi pencarian pilot yang hilang, dua helikopter Blackhawk AS ikut menjadi sasaran tembakan Iran.
Meski demikian, keduanya berhasil keluar dari wilayah udara Iran.
Hingga kini, kondisi korban luka di antara awak pesawat belum dipastikan, sementara nasib pilot F-15E yang hilang masih menjadi misteri.
Iran Kerahkan Pasukan, Warga Diminta Ikut Memburu
Pasukan Garda Revolusi Iran langsung melakukan penyisiran di wilayah barat daya, lokasi jatuhnya pesawat.
Pemerintah daerah bahkan menjanjikan imbalan bagi warga yang berhasil menangkap atau membunuh “musuh”.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyebut perang kini berubah dari upaya mengganti rezim menjadi perburuan pilot AS.
Di media sosial, sebagian warga Iran merayakan jatuhnya pesawat-pesawat tersebut, setelah berminggu-minggu menghadapi serangan udara intensif dari AS.