Selasa, 31 Maret 2026

Berita Internasional

Strategi Baru Trump! Hantam Iran Lalu Akhiri Konflik Lebih Cepat Meski Selat Hormuz Tutup

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer negaranya terhadap Iran

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Strategi Baru Trump! Hantam Iran Lalu Akhiri Konflik Lebih Cepat Meski Selat Hormuz Tutup
Vander
PERANG -- Sebuah laporan terbaru dari Washington Post menyebutkan bahwa AS sedang mempertimbangkan operasi darat di Iran. (Vanderwolf Images) 

 

Ringkasan Berita:
  • Donald Trump dilaporkan siap mengakhiri operasi militer AS terhadap Iran meski Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka. 
  • Keputusan ini diambil untuk menghindari konflik berkepanjangan setelah target utama militer tercapai. 
  • Meski demikian, AS tetap memperkuat kehadiran pasukan di Timur Tengah sambil melanjutkan tekanan diplomatik.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer negaranya terhadap Iran, meskipun jalur strategis Selat Hormuz masih belum sepenuhnya terbuka.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Trump telah menyampaikan kepada para penasihatnya kesiapan untuk menghentikan kampanye militer dalam waktu dekat.

Keputusan ini diambil setelah evaluasi bahwa upaya membuka kembali Selat Hormuz berpotensi memperpanjang konflik melebihi target awal empat hingga enam minggu.

Baca juga: Harga Bensin Amerika Tembus Rp18 Ribu per Liter, Diesel Rp22 Ribu, Tertinggi Sejak 90-an

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia. Penutupan atau gangguan di wilayah tersebut berpotensi mengguncang pasar energi global.

Dalam strategi barunya, pemerintah AS disebut ingin fokus mencapai tujuan utama terlebih dahulu, yakni melumpuhkan armada laut Iran serta menghancurkan persediaan rudal negara tersebut.

Setelah itu, operasi militer akan dihentikan dan tekanan diplomatik terhadap Teheran akan dilanjutkan.

Jika upaya diplomasi tidak membuahkan hasil, Washington disebut akan mendorong sekutu-sekutunya di Eropa dan kawasan Teluk untuk mengambil peran lebih besar dalam membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

Meski mempertimbangkan penghentian operasi, AS tetap meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.

Kapal serbu amfibi USS Tripoli bersama unit ekspedisi Marinir ke-31 telah memasuki wilayah tersebut.

Selain itu, Trump juga memerintahkan pengerahan elemen dari 82nd Airborne Division ke Timur Tengah, serta mempertimbangkan pengiriman tambahan hingga 10.000 pasukan darat.

Ratusan pasukan operasi khusus juga telah lebih dulu dikerahkan untuk memperkuat kekuatan militer AS di kawasan.

Sementara itu, Gedung Putih melalui juru bicaranya, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Amerika Serikat masih menjalankan operasi militer sesuai rencana awal dalam misi yang dikenal sebagai “Operation Epic Fury”.

Langkah Trump ini dinilai sebagai upaya menyeimbangkan antara tekanan militer dan diplomasi, sekaligus menghindari konflik berkepanjangan yang berisiko memperluas ketegangan global.

 (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved