Berita Internasional
50 Ribu Tentara Elit Amerika Tiba di Timur Tengah, Siap Serang Iran!
Beberapa ratus pasukan khusus Amerika Serikat telah tiba di Timur Tengah, bergabung dengan ribuan Marinir dan pasukan lintas udara Angkatan Darat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERANG-Sebuah-laporan-terbaru-dari-Washington-Post-menyebutkan-bahwa-AS.jpg)
Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat mengerahkan pasukan elite tambahan ke Timur Tengah saat Trump mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran.
- Penutupan Selat Hormuz dan potensi serangan ke Pulau Kharg mengancam pasokan minyak global dan memicu lonjakan harga energi.
- Meski kekuatan militer meningkat, pakar menilai invasi besar ke Iran tetap berisiko tinggi dan sulit dilakukan.
TRIBUNGORONTALO.COM - Beberapa ratus pasukan khusus Amerika Serikat telah tiba di Timur Tengah, bergabung dengan ribuan Marinir dan pasukan lintas udara Angkatan Darat, di tengah pertimbangan Presiden Donald Trump terkait langkah berikutnya dalam perang melawan Iran, menurut laporan The New York Times.
Pasukan komando tersebut, termasuk Army Rangers dan Navy SEALs, belum diberikan misi khusus.
Hal ini disampaikan oleh para pejabat kepada media tersebut dengan syarat anonim.
Sebagai pasukan darat dengan kemampuan khusus, mereka berpotensi dikerahkan untuk membantu mengamankan Selat Hormuz, yang kini secara efektif ditutup oleh Iran.
Baca juga: Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini Senin 30 Maret 2026, Harga BBM Naik? Cek Pertamax hingga Dexlite
Selain itu, mereka juga dapat dilibatkan dalam misi yang menargetkan Pulau Kharg, pusat utama industri minyak Iran di kawasan Teluk.
Tak hanya itu, pasukan elite ini juga bisa digunakan dalam operasi yang menargetkan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran di fasilitas nuklir Isfahan.
Penempatan ini menambah sekitar 2.500 Marinir dan 2.500 pelaut yang baru-baru ini telah tiba di kawasan tersebut.
Secara keseluruhan, kini terdapat lebih dari 50.000 tentara AS di Timur Tengah, sekitar 10.000 lebih banyak dari jumlah normal, seiring Trump mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam konflik yang terus memanas.
Trump Timbang Berbagai Opsi, Termasuk Buka Kembali Jalur Minyak Dunia
Para pejabat menyebutkan bahwa Presiden Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur laut vital yang biasanya dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Jalur tersebut kini sebagian besar tertutup setelah serangan dari pasukan Iran sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel sebelumnya.
Dalam kondisi normal, jumlah pasukan AS di kawasan ini berada di kisaran 40.000 personel yang tersebar di pangkalan dan kapal di sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Bahrain, Irak, Suriah, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Kapal Induk Mundur, Pasukan Tambahan Dikirim
Di sisi lain, kapal induk USS Gerald R. Ford, yang membawa sekitar 4.500 personel, telah ditarik dari kawasan Timur Tengah akibat masalah teknis dan kini berada di Eropa.
Pekan lalu, Pentagon juga memerintahkan sekitar 2.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat untuk dikerahkan ke kawasan tersebut, meskipun lokasi pasti mereka tidak diungkapkan.
Para pejabat menyatakan bahwa pasukan lintas udara ini dapat digunakan dalam operasi darat, termasuk kemungkinan misi yang berkaitan dengan Pulau Kharg.
Pakar Militer: 50 Ribu Pasukan Tak Cukup untuk Invasi Besar
Meski jumlah pasukan terus bertambah, para pakar militer memperingatkan bahwa bahkan 50.000 personel tidak akan cukup untuk menjalankan operasi darat skala besar di Iran, mengingat luas wilayah dan besarnya populasi negara tersebut.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun opsi militer terus dipersiapkan, tantangan di lapangan tetap sangat besar dan kompleks. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.