Jumat, 27 Maret 2026

Berita Nasional

Fenomena Langit April 2026: Pink Moon hingga Meteor 1.000 Per Jam Bisa Dinikmati di Indonesia

 Bulan April 2026 akan menjadi saksi berbagai fenomena langit yang menarik untuk diamati, mulai dari bulan purnama yang mempesona

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Fenomena Langit April 2026: Pink Moon hingga Meteor 1.000 Per Jam Bisa Dinikmati di Indonesia
TribunGorontalo.com
PLANET -- Susunan planet mengorbit matahari. Di bumi, ada fenomena langit yang mengagumkan. 
Ringkasan Berita:
  • Menyaksikan Pink Moon dan Hujan Meteor Lyrids bisa menjadi pengalaman magis yang menghubungkan manusia dengan ritme alam dan perubahan musim.
  • Fenomena langit April 2026 menghadirkan momen unik untuk belajar astronomi sambil menikmati keindahan visual yang jarang muncul setiap tahun.
  • Meluangkan waktu dini hari untuk mengamati meteor atau bulan purnama dapat menjadi ritual sederhana yang memunculkan rasa kagum dan ketenangan di tengah kesibukan sehari-hari.

TRIBUNGORONTALO.COM -- Bulan April 2026 akan menjadi saksi berbagai fenomena langit yang menarik untuk diamati, mulai dari bulan purnama yang mempesona hingga puncak hujan meteor yang spektakuler.

Keistimewaan bulan ini, sebagian besar fenomena dapat disaksikan langsung dari Indonesia tanpa teleskop, menjadikannya momen yang tepat untuk penggemar astronomi maupun masyarakat umum.

Berdasarkan laman In The Sky, berikut fenomena langit yang sebaiknya dicatat di kalender Anda.

Fenomena pertama yang patut diperhatikan adalah Pink Moon, yang dijadwalkan muncul pada 1 April 2026.

Meski namanya terdengar unik, bulan tidak akan berubah menjadi merah muda.

Sebutan Pink Moon muncul dari bunga liar Phlox subulate, atau moss pink, yang mekar di awal musim semi di wilayah timur Amerika Utara.

Fenomena ini menandai bulan purnama April dan memiliki berbagai julukan tradisional: Breaking Ice Moon menurut Algonquin, Bulan Saat Sungai Kembali Dapat Dilayari menurut Dakota, bulan tunas tumbuhan dan semak (Tlingit), hingga bulan rumput merah muncul menurut Oglala.

Baca juga: Identitas Prajurit TNI AD yang Ketahuan Beli Narkoba, Tes Urine Positif! Ini Klarifikasi Resmi TNI

Sebagian julukan menekankan pertumbuhan alam, sementara yang lain menyoroti kembalinya hewan tertentu, seperti bulan saat bebek kembali, bulan saat angsa bertelur, atau bulan katak.

Fenomena berikutnya adalah Hujan Meteor Lyrids, yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 22 April 2026.

Hujan meteor ini terjadi saat Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan Komet Thatcher (C/1861 G1).

Partikel kecil dari komet terbakar di atmosfer dan terlihat sebagai meteor yang melesat di langit malam.

Walaupun intensitasnya tergolong moderat, Lyrids dapat menampilkan hingga 1.000 meteor per jam pada puncaknya.

Aktivitas hujan meteor ini dapat disaksikan dari kedua belahan bumi, namun cenderung lebih terlihat di belahan utara karena posisi titik radian yang lebih tinggi di langit.

Di Indonesia, pengamatan tetap memungkinkan, terutama pada dini hari sekitar pukul 02.00–04.00 WITA.

Menariknya, bulan berada pada fase waxing crescent dengan iluminasi sekitar 33 persen, sehingga cahaya bulan tidak akan banyak mengganggu pengamatan meteor.

Fenomena bulan purnama dan hujan meteor ini tidak hanya menjadi tontonan visual, tapi juga menandai siklus alam dan pergerakan benda langit.

Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk belajar astronomi, membuat foto fenomena langit, atau sekadar menikmati momen langit malam yang spektakuler dari rumah.

Dengan demikian, April 2026 menghadirkan kesempatan unik untuk mengamati keindahan langit dan memahami keteraturan alam semesta. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved