INFO KESEHATAN
Minum Air Bekas Kemarin, Aman atau Bahaya? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Banyak orang tanpa sadar memiliki kebiasaan meminum air dari gelas yang tersisa sejak hari sebelumnya di dalam rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/minum-air.jpg)
Ringkasan Berita:
- Air minum yang didiamkan semalaman umumnya masih aman dikonsumsi, asalkan tidak terpapar kontaminasi dan tidak dibiarkan terbuka.
- Para ahli menyarankan batas aman sekitar 12 jam, karena setelah itu bakteri mulai berkembang dan berisiko bagi kesehatan.
- Jika air sudah didiamkan seharian atau diminum bergantian, sebaiknya diganti dengan air baru untuk menghindari gangguan pencernaan.
TRIBUNGORONTALO.COM — Banyak orang tanpa sadar memiliki kebiasaan meminum air dari gelas yang tersisa sejak hari sebelumnya di dalam rumah.
Kebiasaan ini kerap dianggap sebagai bentuk efisiensi dan menghindari pemborosan.
Namun, apakah kebiasaan tersebut benar-benar aman bagi kesehatan?
Para ahli mengungkapkan bahwa ada batas waktu tertentu di mana air yang sudah didiamkan sebaiknya tidak lagi dikonsumsi dan lebih baik diganti dengan air yang baru.
Kristen Smith, seorang ahli gizi sekaligus juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics, mengaku dirinya menerapkan aturan pribadi selama 12 jam untuk air dalam gelas.
Baca juga: Peringatan Dini BMKG Besok Selasa, 24 Maret 2026: Kota Gorontalo dan Boalemo Diprediksi Hujan Ringan
Setelah melewati 12 jam, ia memilih untuk membuang air tersebut dan menggantinya dengan yang baru.
Meski begitu, ia menambahkan bahwa air yang didiamkan semalaman masih bisa diminum “selama tidak terpapar kontaminan atau tidak dibiarkan terbuka”.
Hal senada juga disampaikan oleh ahli mikrobiologi Jason Tetro, yang dikenal sebagai “The Germ Guy”.
Ia menyebutkan bahwa batas aman untuk meminum air sisa dalam gelas adalah sekitar 12 jam.
Menurut Tetro, potensi masalah bakteri bukan berasal dari udara, melainkan dari air keran itu sendiri.
Sebuah studi menemukan bahwa konsentrasi sel bakteri dalam air minum dapat meningkat dalam semalam.
Selain itu, keran air yang jarang digunakan juga bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri dalam jumlah tinggi.
“Dalam 12 jam pertama, tidak akan ada cukup ‘makanan’ bagi bakteri untuk berkembang biak,” jelas Tetro. “Namun setelah 12 jam, kondisi akan memungkinkan bakteri untuk mulai berkembang.”
Artinya, jika Anda meminum air yang tersisa dari malam sebelumnya, kemungkinan besar masih aman.
Namun, jika air tersebut sudah didiamkan selama satu hari penuh, sebaiknya Anda mengambil air baru, bahkan jika air tersebut sebelumnya sudah melalui proses penyaringan. Jika tidak, ada risiko mengalami gangguan pencernaan.
Tetro juga menegaskan bahwa air yang didiamkan selama sehari bisa menjadi “lingkungan berkembang bagi patogen oportunistik”. Oleh karena itu, langkah terbaik adalah menggantinya dengan air yang segar.
Kebiasaan berbagi minum dengan orang lain juga dapat mempercepat risiko kontaminasi.
Kristen Smith menjelaskan bahwa ketika seseorang minum langsung dari botol atau gelas, bakteri dari mulut dapat berpindah ke sisa cairan dan mulai berkembang biak.
“Karena itu, setelah Anda menempelkan mulut pada botol, sebaiknya langsung dihabiskan dan tidak disimpan untuk diminum nanti, terutama jika digunakan bersama orang lain,” ujarnya.
Namun, ada cara untuk memperpanjang masa aman air minum, yakni dengan menggunakan air kemasan.
Menurut Tetro, air dalam botol dirancang agar dapat mencegah pertumbuhan bakteri lebih lama dibandingkan air yang dibiarkan dalam gelas terbuka.
Meski demikian, dalam kondisi tertentu, seperti saat sangat haus, para ahli menyarankan untuk tetap minum daripada tidak terhidrasi.
“Jika satu-satunya pilihan adalah botol air yang sudah didiamkan selama sehari, itu tetap lebih baik diminum daripada mengalami dehidrasi,” kata Smith.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.