Sabtu, 21 Maret 2026

Berita Nasional

Sudah 1.030 Dapur MBG Resmi Ditutup Pemerintah, Kini Mulai Diperketat

 Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa sebanyak 1.030 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Sudah 1.030 Dapur MBG Resmi Ditutup Pemerintah, Kini Mulai Diperketat
TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga
MBG--Potret SPPG Limba U Satu Kota Selatan Kota Gorontalo, Senin (16/3/2026). Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga. 
Ringkasan Berita:
  • Presiden Prabowo Subianto menyebut 1.030 SPPG program MBG dihentikan sementara untuk evaluasi.
  • Penghentian dilakukan karena dapur wajib memenuhi standar kebersihan dan keamanan melalui sertifikasi.
  • Pemerintah juga membuka pengawasan publik dan melakukan sidak rutin untuk memastikan kualitas program.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa sebanyak 1.030 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dihentikan sementara operasionalnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama jurnalis senior, ahli, dan ekonom di Hambalang yang disiarkan melalui Youtube bertajuk Presiden Prabowo Menjawab, Kamis (19/3/2026).

“Yang sudah disuspend 1.030 dan yang kita lakukan sekarang adalah sertifikasi,” ucap Prabowo.

Ia menjelaskan, penghentian operasional dilakukan sebagai bagian dari upaya penertiban standar, khususnya terkait kebersihan dan keamanan makanan. 

Baca juga: Hikmah Ramadan: Halal bi Halal oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Setiap dapur yang ingin tetap beroperasi diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan ketat.

“Jadi kalau dapur kamu mau survive lebih dari berapa bulan, kamu harus lulus sertifikasi kebersihan, sertifikasi keamanan makanan, dicek airnya gimana, airnya aman, kemudian omprengnya, semua itu ada kriterianya, standarisasi, dan kalau nggak beres ditutup, disuspend aja sudah terserah kau.”

Selain itu, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) juga membuka akses pengawasan publik.

Masyarakat dapat memantau langsung kondisi SPPG melalui nomor telepon bebas pulsa yang disediakan.

“Dan titik koordinat di dapur itu diketahui oleh ibu-ibu, orang tua, kepala sekolah, dia boleh masuk dan dia boleh komplain,” ujar Prabowo.

Menurutnya, pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG terus dilakukan secara intensif.

Salah satu bentuknya melalui inspeksi mendadak (sidak) yang rutin dilakukan oleh Wakil Ketua BGN, Nanik S Deyang.

“Ini saya punya satu wakil kepala, satu Ibu ya, Ibu ini Ibu Nanik, galak sekali dia. Dia sidak terus kerjanya,” ucap Prabowo.

 2 Dapur MBG di Gorontalo Ditutup

 Dua dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Gorontalo terpaksa ditutup setelah serangkaian kasus makanan bermasalah yang bersumber dari pesanan luar dapur.

Dua dapur tersebut yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Limba U, Kota Gorontalo, dan Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.

Penutupan ini tidak lepas dari temuan makanan tidak layak konsumsi, mulai dari roti diduga berjamur hingga kue yang memicu dugaan keracunan.

Kasus pertama mencuat di SDN 27 Kota Selatan, Kota Gorontalo, setelah beredarnya foto roti yang diduga berjamur dan dibagikan kepada siswa. Temuan itu langsung menuai perhatian publik.

Dikonfirmasi TribunGorontalo.com pada Senin 16 Maret 2026, pihak SPPG Limba U Satu mengakui melakukan pengecekan.

Pihaknya pun menemukan sekitar 50 roti tidak layak konsumsi dari total produksi ribuan roti yang dipasok oleh pelaku UMKM lokal.

Roti tersebut segera ditarik dan diganti sebelum sempat dikonsumsi oleh para siswa.

Dari hasil evaluasi, kondisi roti diduga dipengaruhi proses produksi dalam jumlah besar.

Terutama karena roti ditumpuk dalam satu wadah sehingga memicu munculnya jamur.

Tak berselang lama, kasus lebih serius terjadi di Desa Tuladenggi.

Seorang balita dilaporkan mengalami muntah sesaat setelah mengonsumsi kue sus yang dibagikan dalam program MBG.

Kue sus atau di Gorontalo disebut "Susen", adalah kue berbentuk bundar dengan rongga berisi vla, kustar, atau daging.

Kue sus dengan isi vla atau kustar disajikan setelah didinginkan di lemari es, karena vla atau kustar yang berbahan baku susu mudah menjadi basi. 

Kue tersebut diduga tidak lagi layak konsumsi. Selain memiliki kandungan fla yang mudah basi, kue itu juga diperkirakan telah diproduksi beberapa hari sebelum didistribusikan.

Ironisnya, kue tersebut diketahui dipesan dari luar tanpa koordinasi menyeluruh dengan mitra maupun pengelola lainnya.

Padahal sebelumnya, jenis makanan serupa sempat ditolak karena dinilai tidak tahan lama.

Menindaklanjuti kejadian itu, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Gorontalo langsung mengambil langkah tegas dengan menutup sementara operasional SPPG di Tuladenggi untuk dilakukan evaluasi. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved