Fajar Sadboy
Viral Video Indra Frimawan Diduga Ludahi Fajar Sadboy, Dikomentari Amanda Manopo hingga Psikolog
Nama komika Indra Frimawan tengah menjadi perbincangan luas di media sosial setelah beredarnya potongan video yang menampilkan momen interaksinya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PODCAST-Momen-Indra-Frimawan-dan-Fajar-Sadboy-dalam-sebuah-podcast.jpg)
Pria bernama lengkap Benedictus Nathanael Indra Frimawan ini lahir di Jakarta pada 13 Mei 1991.
Dalam dunia komedi, Indra dikenal dengan gaya materi one liner yang disampaikan dengan teknik deadpan, yakni penyampaian humor dengan ekspresi datar namun tetap mampu memancing tawa.
Sejak 2013, ia aktif bergabung dalam komunitas Stand Up Indo Jakarta Barat dan kerap tampil dalam berbagai panggung open mic.
Karier Indra mulai mendapat perhatian ketika komunitasnya berhasil melaju hingga babak grand final Liga Komunitas Stand Up Kompas TV.
Meski saat itu timnya menempati posisi runner-up, langkah tersebut menjadi awal peningkatan popularitasnya.
Pada 2015, Indra mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) musim kelima. Dalam ajang tersebut, ia menampilkan materi komedi absurd yang dipadukan dengan trik sulap sederhana.
Penampilannya mengantarkan Indra hingga babak grand final dan menempati posisi juara ketiga, sekaligus meraih predikat Komika Persahabatan SUCI 5.
Kritik Publik dan Tanggapan Psikolog
Viralnya video tersebut turut memunculkan tanggapan dari berbagai kalangan, termasuk psikolog Lita Gading.
Melalui unggahan di akun media sosialnya, ia menilai tindakan meludah tidak dapat dikategorikan sebagai candaan biasa.
Menurutnya, tindakan tersebut berkaitan dengan norma kesopanan dan penghormatan antarindividu.
Ia menekankan bahwa interaksi antar manusia tetap harus menjaga etika, terlepas dari konteks hiburan atau profesi pelaku.
Lita menjelaskan bahwa perilaku meludah berpotensi menimbulkan persepsi negatif di masyarakat, terutama jika dilakukan oleh figur publik dalam ruang terbuka.
Ia juga menilai tindakan tersebut berpotensi merendahkan orang lain, meskipun dilakukan dalam situasi bercanda.
Psikolog lulusan Lingnan University itu menegaskan bahwa hubungan sosial tetap membutuhkan batasan norma yang jelas.
Ia menilai humor tidak seharusnya mengabaikan etika dasar dalam berinteraksi.
Hingga saat ini, peristiwa tersebut masih menjadi bahan diskusi publik di berbagai platform media sosial, dengan beragam pandangan dari masyarakat.
(*)