Dewan Pers
Ketua Komisi Digital Dewan Pers Dahlan Dahi Ingatkan Dahsyatnya Perubahan Informasi
Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers Dahlan Dahi menjadi pembicara dalam Konvensi Nasional Media Massa
Namun, Dahlan mengingatkan bahwa semua entitas tersebut sejatinya hidup dalam kesadaran bersama masyarakat.
"Dan suatu waktu kita bisa lupa. Bhinneka Tunggal Ika itu juga imajinasi, bahwa berbeda itu baik. Tapi kita bisa lupa. Kesejahteraan sosial, demokrasi itu imajinasi. Itu bukan realitas,” katanya.
“Jadi yang saya mau bilang adalah bahwa kalau informasi kita berubah, kolektif imajinasi kita berubah, maka nasionalisme kita juga bisa berubah. Dan mungkin generasi setelah kita tidak akan menyaksikan Indonesia seperti yang kita saksikan hari ini," tandasnya.
Wamenkomdigi Nezar Patria Sebut Industri Media Sempoyongan Dua Kali Diterpa Badai Disrupsi
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan industri media massa mengalami dua kali disrupsi yang membuatnya 'sempoyongan'.
Disrupsi secara sederhana diartikan sebagai perubahan besar dan cepat yang mengganggu atau menggantikan sistem, cara kerja, atau pola lama akibat hadirnya inovasi baru, terutama teknologi.
Hal itu disampaikan Nezar Patria dalam Konvensi Nasional Media Massa dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026 di Banten, Minggu (8/2/2026).
"Industri media kita ini diterpa dua kali distrupsi yang signifikan, pertama internet, yang membuat media tradisional bermigrasi ke digital. Lalu kedua teknologi baru seperti artificial intelligence (AI)," ungkapnya.
"Dalam dua disrupsi ini industri media goyang, sempoyongan, dan mencoba mencari bentuk yang baru," tambahnya.
Meski begitu, Nezar mengungkapkan perlunya berbicara bagaimana ekosistem yang terbangun di tengah disrupsi ini bisa menopang jurnalisme yang berkualitas.
"Saya kira ada satu hal yang penting yang mungkin kita catat bersama bahwa disrupsi platform digital saat ini boleh dikatakan mengarah kepada value extraction without value return, jadi ada ekstraksi nilai tanpa pengembalian nilai, ini yang saya kira dirasakan oleh banyak industri media ketika mau memasuki platform digital," urainya.
Dalam keadaan ini, lanjut Nezar, masa depan jurnalisme bukan lagi sebuah ketakutan bahwa wartawan akan digantikan oleh AI.
"Tetapi teknologi seperti AI akan menguras semua sumber daya yang ada di ekosistem. Media yang memproduksi jurnalisme berkualitas. Jadi distribusinya end-to-end, dari hulu sampai hilir."
"Bagaimana kita menyikapi hal ini? Saya kira perlu kolaborasi yang cukup kuat antara pemerintah, media, platform, dan publik," ujarnya.
Nezar Patria Media Massa Perlu Kekhasan
Nezar juga memberikan pandangannya supaya industri media tetap eksis di tengah gempuran AI.
"Saya kira kita harus fokus pada non-replicable journalism. Jadi jurnalisme yang enggak bisa direplikasi, jurnalisme yang saat ini kalau kita lihat di platform-platform baik search engine atau media sosial, semua konten nyaris seragam," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ketua-Komisi-Digital-dan-Sustainability-Dewan-Pers-Dahlan-Dahi-menjadi-pembicara.jpg)